SEMARANG – Kisah-kisah pewayangan yang telah hidup selama berabad-abad kembali menemukan ruang dialog baru di tengah masyarakat modern. Melalui Gelar Budaya Senandika Asmaraloka, tokoh-tokoh wayang tidak lagi hanya dipandang sebagai figur heroik dalam tradisi, melainkan sebagai representasi pergulatan batin manusia yang tetap relevan hingga hari ini.
Pembukaan rangkaian kegiatan Senandika Asmaraloka berlangsung di Open Theater Oudetrap, Kota Lama Semarang, pada Sabtu (13/6). Acara dibuka dengan kirab budaya keliling Kota Lama dan pentas tari dari Sanggar Kenes Arf, sebelum memasuki sesi diskusi utama bertajuk “Ngobrol Santai: Psikologi Sastra Pewayangan”.
Sesi diskusi menghadirkan Rendra Agusta dan Detik Wicaksono sebagai narasumber, dengan Rahmat Ramdhani bertindak sebagai moderator. Tri Subekso dan Puspita A.T. bertindak sebagai kurator dalam gelaran tiga tahap penyajian tersebut.
Dalam suasana santai namun sarat gagasan, diskusi mengulas berbagai dimensi psikologis yang terkandung dalam tokoh-tokoh pewayangan. Figur seperti Arjuna, Karna, Drupadi, dan Bima dibahas bukan sekadar sebagai karakter epik, melainkan sebagai cerminan konflik batin, pencarian identitas, cinta, ambisi, pengorbanan, dan dilema moral yang akrab dengan kehidupan manusia lintas zaman.
Pendekatan psikologi sastra dipilih untuk menghadirkan cara pandang yang lebih dekat dengan generasi muda. Wayang diposisikan tidak hanya sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan mengenai karakter manusia yang dapat dibaca melalui perspektif sastra, filsafat, dan psikologi.
Kebudayaan Harus Hidup di Tengah Masyarakat
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, dalam sambutannya mengapresiasi penyelenggaraan Senandika Asmaraloka. Ia menilai kegiatan ini mampu menghadirkan kebudayaan sebagai ruang perjumpaan lintas generasi sekaligus ruang refleksi publik.
Menurut Indriyasari, kegiatan kebudayaan tidak cukup hanya berfungsi sebagai sarana pelestarian tradisi, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat untuk memahami berbagai persoalan kemanusiaan yang terus berkembang.
“Kebudayaan harus hidup di tengah masyarakat. Ia tidak hanya disimpan sebagai warisan masa lalu, tetapi perlu terus dibicarakan, dipelajari, dan dimaknai kembali agar tetap relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
Indriyasari menambahkan bahwa tema psikologi sastra pewayangan menjadi pendekatan yang menarik karena memungkinkan generasi muda memahami nilai-nilai budaya melalui sudut pandang yang lebih kontekstual. Kisah wayang, menurutnya, menyimpan refleksi tentang kepemimpinan, moralitas, keberanian, dan pencarian makna hidup yang tetap penting bagi masyarakat saat ini.
Memaknai Ulang Warisan Budaya
Hal senada disampaikan oleh Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Nahar Cahyandaru, S.Si., MA. Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui dokumentasi dan perlindungan fisik semata. Yang lebih penting adalah menciptakan ruang kreatif yang memungkinkan masyarakat untuk menginterpretasikan dan memaknai kembali warisan budaya sesuai konteks zamannya.
Menurut Nahar, kegiatan seperti Senandika Asmaraloka menunjukkan bagaimana kebudayaan dapat dihadirkan secara segar melalui sastra, diskusi, seni pertunjukan, dan dialog publik.
“Warisan budaya akan tetap hidup apabila terus diwariskan melalui pemahaman dan pengalaman. Ketika masyarakat terlibat aktif dalam proses interpretasi dan penciptaan makna baru, kebudayaan akan menjadi kekuatan yang menjaga identitas sekaligus memperkaya kehidupan sosial,” katanya.
Nahar juga mengapresiasi pemilihan tema psikologi sastra pewayangan yang dinilai membuka kemungkinan pembacaan baru terhadap kisah-kisah wayang dari perspektif sastra, psikologi, pendidikan karakter, hingga kemanusiaan.
Kolaborasi Lintas Sektor
Dalam kesempatan yang sama, Penerima Manfaat Dana Indonesiana, Najmina Shafa Puteri Aryanto, menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan serta memaparkan proses yang dilaluinya hingga memperoleh dukungan dana tersebut. Menurut Shafa, program ini memberikan kesempatan bagi para pelaku budaya muda untuk mewujudkan gagasan kreatif yang berkontribusi pada pemajuan kebudayaan.
Ia mengungkapkan bahwa penyelenggaraan Senandika Asmaraloka merupakan hasil kerja kolaboratif yang melibatkan banyak pihak, mulai dari komunitas, seniman, akademisi, relawan, hingga lembaga pemerintah yang memberikan dukungan sejak tahap perencanaan.
“Kegiatan ini tidak mungkin terwujud tanpa kolaborasi dan kepercayaan dari banyak pihak. Semoga Senandika Asmaraloka menjadi ruang bersama untuk merawat, merayakan, dan mengembangkan kebudayaan,” ujar Shafa.
Senandika Asmaraloka merupakan salah satu program dalam Gelar Budaya yang memadukan sastra, seni pertunjukan, diskusi, dan ruang refleksi budaya. Berlangsung di kawasan bersejarah Kota Lama Semarang, kegiatan ini menjadi upaya menghadirkan kebudayaan lebih dekat kepada masyarakat sekaligus memperkuat fungsi ruang publik sebagai arena pertukaran gagasan.
Program ini merupakan penerima manfaat Dana Indonesiana yang mendukung berbagai inisiatif pemajuan kebudayaan di Indonesia. Melalui rangkaian kegiatan yang melibatkan seniman, pegiat budaya, akademisi, dan masyarakat umum, Senandika Asmaraloka diharapkan dapat memperkuat ekosistem kebudayaan sekaligus menumbuhkan literasi budaya di tengah masyarakat.
Pembukaan Senandika Asmaraloka menunjukkan bahwa wayang tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Di tangan para penafsir dan generasi baru, kisah-kisah itu terus hidup sebagai cermin untuk memahami manusia, zamannya, dan berbagai persoalan yang menyertainya. (Christian Saputro)




