Pameran Finding Text di MSRK: Dialog Karya dari Masa Lalu & Masa Kini Dalam Konteks Sejarah

Kabid Perlindungan Noviardi Setio Widodo membuka pameran dengan mengawali coretan di prasasti pameran ( foto-foto : ig MSRK)

Jakarta – Pameran Koleksi, Seni Media dan Kontemporer bertajuk “Founding/Finding Text” ditaja di Museum Seni Rupa dan Keramik, Kota Tua, Jakarta. Pameran yang dikuratori Sudjud Dartanto dan Co Kurator Dayna Fitria Ananda yang dibuka Junat (16/09) dibuks oleh Käbid Perlindungan Kebudayaan Norviadi Setio Husodo Dan Penin kauan pameran oleh Ketua Tim Penggerak PKK Feri Farhati akan berlangsung hingga 16 Oktober 2022.
Pada kesempatan ini juga digelar acara bincang seni yang menghadirkan nara sumber ; Sudjud Dartanto (Kurator), Lenny Ratnasari dan Nawa Tinggal (Seniman)

Pameran ini menaja karya koleksi:; Hendra Gunawan, Henk Ngantung jug a karya seniman undangan; Antin Sambodo, Dwi Tunggal (Nawa Tunggal x Dwi Putro, , Evy Yonathan, . Gelar Soemantri , Lenny Ratnasari, Radetyo ‘Itok’ Sindhu Utomo dan Yudi Sulistyo x Arif ‘Bachoxs’ Witjaksono.

Menurut kurator Sujud Dartanto gagasan kurasi pameran ini ingin mendialogkan karya dari masa lalu dan masa kini dalam konteks sejarah sebagai sebuah peristiwa yang membentuk masa kini, dan bagaimana masa kini menafsir sejarah dengan aneka ragam penafsiran dari berbagai sudut pandang dan posisi diskursif yang cair.

Dalam konteks itu, lanjut Sujud Dartanto, pameran ini menghadirkan koleksi ‘Founding Text’, yaitu karya-karya dari mereka yang dikenal berpengaruh dan menjadi bagian penting dalam mengorkestrasi sejarah seni rupa modern Indonesia.

“Terminologi ‘founding teks ini diambil dari vokabulari akademik yang menunjuk pada pemikiran dalam bentuk tulisan yang memiliki pengaruh kuat pada pembentukan pemikiran selanjutnya. Dalam konteks yang sama, ‘Founding text’ dalam wacana pameran ini adalah karya seni rupa yang berpengaruh dari koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik (MSRK) dan bagaimana secara imajiner dan arketipal karya itu berdialog dan dipertukarkan dengan konteks keragaman partikularitas kehidupan masa kini yang tercermin melalui karya dari perupa masa kini dari berbagai kecenderungan teknik, medium dan kesadaran diskursif,” papar Sudjud dalam pengantar kuratorialnya.

Sudjud menambahkan, Karya koleksi yang dihadirkan adalah beberapa karya yang pernah dipamerkan di Rijks Museum (Museum Nasional Belanda) pada acara pameran ‘Revolusi! Indonesia Merdeka, 2022 antara lain terdapat karya dari perupa Hendra Gunawan (1918-1983) dan Henk Ngantung (1927-1991).

Sementara Co kurator Dayna Fitria Ananda menambahkan konteks yang hendak dilihat dalam wacana pameran ini adalah konteks ideologi yang mengambil karya (teks) seni rupa sebagai sebuah forma retorik. Dalam konteks itu, perupa dilihat sebagai agen aktif dalam sebuah struktur sosial yang dalam konteks Hendra dan Henk lahir dari arena konflik ideologis yang tajam dengan berbagai cara dan manifestasi emansipasinya.

Sedangkan para perupa undangan yang dalam pameran ini ditempatkan ke dalam konteks seni kontemporer dan seni media yaitu; Antin Sambodo (media keramik), Evy Yonathan (media keramik), Gelar Soemantri (media digital), Dwi Tunggal, Nawa Tunggal x Dwi Putro (media kanvas), Lenny Ratnasari (media patung dan digital), Radetyo ‘Itok’ Sindhu Utomo (media objek), Yudi Sulistyo x Arif “Bachoxs” Witjaksono (media objek dan digital),

“Dalam hal ini media keramik juga menjadi bagian dari praktik seni kontemporer manakala kehadirannya sebagai ungkapan pernyataan seniman pembuatnya. Juga pada kecenderungan _‘art brut’_ sebagai sebuah seni yang mengutamakan arus estetika keindahan yang lain _(others)_ dari arus utama estetika keindahan,” jelas Dayna Fitria Ananda.

Pameran ini adalah sebuah arena pertukaran simbolik yang terjadi di ruang pamer (MSRK), antara ‘Founding Text’, sebagai teks yang lahir dari konteks revolusi dan beberapa dekade sesudahnya dengan karya masa kini yang lahir dari periode pasca revolusi: sebuah era dimana sejarah berjalan justru di atas arus kapitalisme mutakhir,.

“Dan kita semua kini tengah terus mencari (finding) kemungkinan untuk mendapatkan teks emansipasi dari kekuasaan kapitalistik yang dialami antara sadar maupun tidak sadar di era posmodern ini,” pungkas Dayna. (Christan Saputro)