Lerep, Ungaran Barat — Pagi di Embung Sebligo berubah menjadi ruang perjumpaan yang hangat setiap selapan sekali, ketika penanggalan Jawa menandai Minggu Pon—hari yang oleh warga setempat dikenal pula sebagai pasar Pon. Pada hari itulah Pasar Minggu Pon Lerep digelar, pelan namun pasti, seperti denyut ingatan yang kembali berfungsi.
Denting kreweng berpindah tangan, aroma jajanan tradisional mengepul dari tungku-tungku tanah liat, dan angin membawa wangi daun pisang serta daun jati. Di pasar ini, transaksi tidak dilakukan langsung dengan rupiah. Pembeli menukarkan uang rupiah dengan mata uang kreweng, kepingan dari tanah liat atau genting, yang kemudian digunakan untuk membeli makanan dan minuman di seluruh lapak. Kreweng hanya berlaku selama pasar berlangsung—sehari, lalu kembali menjadi kenangan.
“Lewat kreweng, kami ingin mengajak orang untuk kembali pada nilai kesederhanaan dan kejujuran,” ujar Hasanuddin, Ketua Panitia Pasar Minggu Pon yang juga Ketua RW 2 Desa Lerep. Bagi Hasanuddin, pasar ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan ikhtiar warga menjaga ritme hidup desa agar tak tercerabut dari akarnya.
Lapak-lapak berjajar sederhana tanpa etalase modern. Jajan jadul hadir apa adanya: gethuk, cenil, tiwul, grontol jagung, klepon, lupis, jadah, apem, hingga lemet. Minuman tradisional seperti wedang jahe, beras kencur, dan dawet disajikan dalam gerabah. Semua dibungkus daun pisang dan daun jati, memberi aroma alami yang menyatu dengan lanskap embung sekaligus menegaskan pilihan sadar untuk hidup lebih ramah lingkungan.
Di salah satu sudut pasar, Kelompok Wanita Tani (KWT) Indrokilo membuka lapak. Sriyatun, anggotanya, menyebut pasar ini sebagai ruang belajar sekaligus penghidupan.
“Kami menjual kopi seduh, ketan srundeng, apem goreng, stik kopi, stik kolang-kaling, camilan biji ketapang, kolang-kaling original, gula aren jahe rempah serbuk, serta aneka kopi,” tuturnya. Setiap produk adalah hasil kerja tangan, pengetahuan dapur, dan ketekunan yang diwariskan.
Pasar Minggu Pon tak berhenti pada jual beli. Ia menjadi ruang temu budaya. Anak-anak bermain dolanan tradisional, orang-orang dewasa duduk bersisian menyeruput kopi, berbagi cerita tentang sawah, hujan, dan musim. Di sela kegiatan, kesenian tradisional dan demonstrasi memasak kuliner tempo dulu mengalir tanpa panggung megah—cukup ruang dan waktu.
Bagi Desa Lerep, pasar selapanan ini adalah bagian dari pengembangan desa wisata berbasis budaya dan lingkungan. Ia menggerakkan ekonomi warga—terutama UMKM desa dan kelompok perempuan—sekaligus merawat ingatan kolektif tentang cara hidup yang lebih pelan dan saling percaya.
Di tengah dunia yang kian tergesa, Pasar Minggu Pon Lerep memilih setia pada siklus: datang setiap selapan, lalu menghilang sementara. Dengan kreweng di tangan, jajan dalam balutan daun, dan warga sebagai penjaga makna, pasar ini mengingatkan bahwa masa depan kadang tumbuh dari kesetiaan pada tradisi yang dirawat bersama.
(Christian Saputro)




