Peringati HUT ke–4 & HWN, Monod Laras Gelar Pameran Wayang Lintas Gagrak

Pembina Monod Laras Agus Winarto membuka Pameran Lintas Gagrak dan Pagelaran Wayang peringatan HUT ke - 4 Monod Laras dan HWN di Gedung Monod Deiphuis, Kota Lama, Semarang, Sabtu, (26/11/2022) ( Christian Saputro)

Semarang – Perkumpulan Karawitan dan Pedalangan Sanggar “Monod Laras” kiprahnya memasuki usianya yang keempat. Monod Laras merayakan hari jadinya yang ke – 4, dan memperingati Hari Wayang Naional (HWN) sekaligus HUT Monod Diephuis ke-101 menggelar rangkaian kegiatan berupa; Pagelaran Wayang Kulit, Pameran Wayang Lintas Gagrak, dan Workshop Pedalangan dan Tatah Sungging di Gedung Monod Deiphuis, Jalan Kota Lama, Semarang, dari 26 – 27 November 2022.

Perhelatan yang dipusatkan di Gedung Monod Diephuis dibuka oleh Pembina Monod Laras Agus Suryo Winarto , Sabtu (26/11/2022). Pembukaan dengan ditandai tancep “Gunungan” oleh Pembina Sanggar Agus Suryo Winarto.

Memperkenalkan Wayang sejak dini modal untuk mengapresiasi budaya warisan leluhur
( Christian Saputro)

Dalam pembukaan Agus Winarto yang juga pemilik gedung Monod Deiphuis yang jadi markas Monod Laras mengatakan, Pembina Sanggar Monod Laras Agus Suryo Winarto sekaligus pemilik Gedung Monod Diephuis dalam sambutannya, mengatakan, senang Sanggar Monod Laras di bawah komandan pak Tjahjono Raharjo bisa berjalan konsisten selama empat tahun ini menghidupkan, merawat, dan melestarikan kesenian tradisi wayang dan karawitan. Sudah selama empat tahun Monod Laras dari Gedung Monod Diephuis terus menggaungkan kesenian tradisi. Ada pelataihan pedalangan, karawitan dan pranatacara. Ke depan mudah-mudahan ada pelatihan menatah dan sungging wayang.

Baca Juga :  Sastrawan Lampung Zabidi Yakub Raih Hadiah Sastra Rancage 2023

“Kita sudah memulai empat tahun lalu berkiprah berusaha menyosialisasikan wayang. Harapannya ke depan Monod Laras makin terus bertumbuhkembang ikut berperan serta dalam melestarikan budaya, hal ini tentunya harus mendapat dukungan para orang tua agar anaknya tetap belajar seni karawitan dan pedalangan di sini. Kemudian bertambah ada pelatihan Pranatacara dank e depan mudah-mudahan bertambah dengan adanya pelatihan menatah dan sungging wayang, ” ujar Agus Winarto.

Sebelumnya, Pamong Perkumpulan Karawitan dan Pedalangan “Monod Laras”, Tjahjono Rahardjo mengatakan, Monod Laras didirikan sebagai wadah dalam rangka melestarikan dan mengembangkan kesenian dan kebudayaan dalam hal ini budaya tradisi karawitan dan wayang.

“Peurkumpulan Monod Laras berdiri atas kebaikan pak Agus Winarto yang tak hanya menyediakan gedung Monod Deiphuis, tetapi juga menyiapkan fasilitas latihan gamelan dan wayang. Mudah-mudahan akan terus berkelanjutan,” ujar Tjahjono.

Baca Juga :  Sastrawan Lampung Zabidi Yakub Raih Hadiah Sastra Rancage 2023

Lebih lanjut, Tjahjono, mengatakan, Sanggar Monod Laras didirikan untuk memberikan ruang pembelajaran bagi anak-anak tentang dunia karawitan dan pedalangan.

Ditambahkannya, Monod Laras ingin mendidik anak-anak yang notabene generasi muda belajar pedalangan dan karawitan dengan benar. Harapannya, ke depan mereka bisa jadi dalang yang mumpuni dan punya otoritas ketika berpentas Kalau pun tak jadi dalang mereka akan menjadi penonton yang apresiatif.

Sanggar Monod Laras muridnya diawali dengan 2 orang siswa yang dipandegani bapak FX Rudjito. Tetapi karena beliau sudah sepuh, kini diteruskan oleh pak Supno dan Ki Guwarso.

“Selama empat tahun ini terus bertumbuhkembang, muridnya kini sudah piluhan. Beberapa di antaranya menyabet prestasi dalam berbagai Festval Dalang yang diikuti. Semua ini tentunya tak terlepas dari dukungan bapak Agus Winarto sebagai Pembina dan juga para orang tua siswa.” ujar Tjahjono Raharjo,

Pameran dan Pagelaran Wayang

Dalam pameran Wayang Lintas Gagrak yang dikuratori Putranda Ekky Pradana ini menyajikan ratusan wayang lintas gagrak koleksi Stanley Hendrawan, Putranda Ekky Pradana dan Tjahjono Raharjo dan juga buku-buku literasi wayang.

Baca Juga :  Sastrawan Lampung Zabidi Yakub Raih Hadiah Sastra Rancage 2023

Kurator pameran Ekky Wayang panggilan karib Putranda Ekky Pradana mengatakan, dalam pameran kali ini disajikan wayang gagrak dari Surakarta, Yogyakarta, Kaligesing, Kedu dan Cirebon juga berbagai jenis wayang yaitu;wayang kulit, wayang golek, wayang ukur, dan wayang suket.

Menurut Ekky tujuan dari gelaran pameran ini untuk mengenalkan kepada masyarakat luas, kalau setiap daerah itu memiliki bentuk dan corak wayang yang berbeda.

“Harapannya dengan adanya pameran ini, supaya pengunjung juga lebih mengetahui keanekaragaman wayang dari setiap daerah di nusantara. Pameran ini sangat jarang digelar,” babar Ekky yang juga kolektor dan pengrajin Wayang.

Dalam pameran yang langka ini juga dilengkapi dengan workshop pedalangan yang diampu Supono dan Workshop Tatah dan Sungging yang diampu Ekky Wayang.

Sementara pagelaran wayang yang dilangsungkan pada Minggu (27/11/2022) menampilkan siswa pedalangan Monod Laras kelas 1 diantaranya; Bilal Assegaf, Dudu, Farras, Jaya,Ikhsan, Karel dan juga tampil sebagai dalang tamu Bintang dan Sigit. (Christian Saputro)