Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis , Kontributor Koran Mandarin Harian Indonesia.
Dalam setiap kebudayaan, air selalu menempati posisi istimewa. Ia tidak sekadar zat yang mengalir, tetapi ingatan yang bergerak—membawa jejak kehidupan, doa, dan keyakinan lintas zaman. Dalam perayaan Imlek Hoki, air kembali dipanggil ke pusat makna, bukan sebagai hiasan ritual, melainkan sebagai medium pemurnian: Air Suci Imhok.
Imlek, bagi masyarakat Tionghoa Hokkian, bukan hanya perayaan pergantian tahun. Ia adalah momentum menata ulang hubungan: dengan diri sendiri, dengan leluhur, dengan alam, dan dengan semesta. Di sanalah Air Suci Imhok menemukan tempatnya—sebagai simbol pembersihan lahir dan batin, sebagai laku spiritual yang mengajak manusia kembali jernih sebelum melangkah ke tahun yang baru.
Air Suci Imhok diracik dari perjumpaan lima mata spiritual: lima ruang doa, lima kebajikan, dan lima niat baik yang disatukan. Ia tidak lahir dari satu tempat, satu keyakinan tunggal, atau satu otoritas spiritual, melainkan dari dialog antara beragam penjaga nilai dan lanskap sakral.
Dari Klenteng Hok Tek Bio Welahan, air dihadirkan atas restu Hok Tek Ceng Sin, Dewa Bumi dan Rezeki. Dalam kosmologi Tionghoa, bumi bukan sekadar tanah pijakan, melainkan ruang keseimbangan. Hok Tek Ceng Sin mengajarkan bahwa rezeki tidak jatuh dari langit begitu saja, tetapi tumbuh dari relasi manusia dengan bumi—dari kerja, kesabaran, dan rasa syukur. Air dari tempat ini mengandung pesan tentang pijakan hidup: agar langkah di tahun baru tidak tergelincir oleh keserakahan.
Dari Vihara Gunung Kalong Ungaran, air dipersembahkan dalam naungan Kwan She Im Poo Sat, Dewi Welas Asih. Di hadapan figur ini, doa tidak melulu soal permintaan, melainkan tentang mendengar dan memahami penderitaan. Air dari Gunung Kalong membawa kualitas pengasuhan—menenangkan, memulihkan, dan mengingatkan bahwa kekuatan sejati sering kali lahir dari kasih yang sunyi.
Sementara itu, Klenteng Hian Thian Siang Tee Welahan menghadirkan dimensi perlindungan. Hian Thian Siang Tee, yang dikenal sebagai Dewa Obat dan Penangkal Imu Hitam, melambangkan ikhtiar manusia melawan segala yang merusak—penyakit, niat buruk, dan energi yang menggelap. Air dari tempat ini bukan janji keajaiban instan, melainkan simbol kewaspadaan: bahwa hidup harus dijaga, baik secara raga maupun batin.
Dari jantung sejarah Semarang, Klenteng Agung Sam Poo Kong (Gedung Batu), air dibawa atas nama Sam Poo Tay Djien. Ia adalah figur pelintas batas: laksamana, penjelajah, sekaligus simbol perjumpaan lintas budaya. Air dari Sam Poo Kong mengingatkan bahwa identitas tidak pernah beku; ia mengalir, berjumpa, dan tumbuh bersama yang lain. Dalam konteks Imlek Hoki, air ini menjadi penanda bahwa keberanian dan kebijaksanaan lahir dari keterbukaan.
Dan akhirnya, dari Umbul Jumpit, Temanggung, mata air alam yang jernih dan purba. Tanpa bangunan ibadah, tanpa altar, Umbul Jumpit menghadirkan spiritualitas paling awal: hubungan langsung manusia dengan alam. Air ini menegaskan bahwa sebelum segala simbol dan ritus, ada bumi yang menyediakan, ada air yang terus mengalir tanpa pamrih.
Kelima air ini kemudian disatukan menjadi Air Suci Imhok. Dalam tradisi, air ini dipercaya dapat digunakan untuk menetralisir hawa negatif, serta sebagai campuran air mandi untuk membersihkan diri dari pengaruh santet, teluh, dan aura-aura yang menggelap. Namun lebih dari itu, laku ini adalah ajakan simbolik: bahwa manusia perlu secara sadar melepaskan beban-beban lama—dendam, takut, iri, dan luka—sebelum menyambut waktu yang baru.
Menariknya, Air Suci Imhok tidak disimpan sebagai benda eksklusif. Ia justru dibagikan secara cuma-cuma kepada masyarakat di Pasar Imlek Semawis, pada 13–15 Februari 2026. Di tengah pasar yang riuh, lampion yang menyala, dan aroma makanan yang menggoda, air ini hadir sebagai jeda—pengingat bahwa perayaan sejati tidak hanya tentang keramaian, tetapi juga tentang keheningan batin.
Di sanalah Air Suci Imhok menemukan relevansinya sebagai praktik budaya kontemporer. Ia menjembatani ritual lama dengan ruang publik hari ini, menghadirkan spiritualitas tanpa pagar, dan mengembalikan makna Imlek sebagai perayaan kebersamaan, kebajikan, dan pembaruan diri.
Pada akhirnya, Air Suci Imhok mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: bahwa tahun baru tidak cukup dirayakan dengan kembang api dan angka. Ia perlu disambut dengan kesediaan membersihkan diri—seperti air yang rela mengalir, merendah, dan memberi kehidupan.
Di antara gemerlap Imlek, Air Suci Imhok mengajak kita kembali hening. Karena dari kejernihan itulah, langkah baru bisa benar-benar dimulai. (*)




