SEMARANG — Diplomasi kerap dibayangkan berlangsung kaku di ruang perundingan, penuh protokol dan bahasa resmi. Namun siang itu, Rabu (11/2/2026), diplomasi hadir dengan wajah berbeda: hangat, berwarna, dan penuh keberanian. Di aula Alliance Française Semarang, Jalan Dr. Wahidin No. 54, Kaliwiru, Fabien Penone, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, membuka pameran seni rupa bertajuk “Liberté d’Inclusion”.
Tak lebih dari satu jam—12.15 hingga 13.15 WIB—namun makna yang ditinggalkan terasa panjang. Pameran ini menjadi pembuka rangkaian kunjungan kerja Dubes Prancis di Jawa Tengah. Sehari penuh, agenda diplomasi dirajut melalui seni, dialog pendidikan, hingga penguatan kerja sama strategis dengan Pemerintah Kota Semarang.
Di Kota Atlas, hubungan Prancis–Indonesia ditegaskan bukan semata lewat dokumen dan tanda tangan, melainkan melalui perjumpaan nilai, pertukaran gagasan, dan bahasa kebudayaan. Seni menjadi medium yang melampaui sekat bahasa dan batas negara.
Mengusung tema “Aku Ada, Aku Berkarya, Aku Setara”, pameran yang berlangsung hingga 21 Februari 2026 ini merupakan kolaborasi Alliance Française Semarang bersama Roemah Difabel. Delapan perupa difabel—Danang, Yuni, Yohan, Rizky Amelia, Faradhella, Raffi, Sheva, dan Willi—menampilkan karya hasil proses kreatif yang didampingi pelukis Giovanni Susanto.
Di dinding ruang pamer, warna-warna berbicara. Ada sapuan tegas penuh energi, ada pula simbol-simbol sederhana yang menyimpan kisah tentang keluarga, mimpi, dan harapan. Tak ada penyeragaman gaya. Tak ada batasan tema. Masing-masing perupa berdiri dengan identitasnya sendiri—jujur dan otentik.
Pengamat seni rupa sekaligus penulis pengantar pameran, Christian Heru Cahyo Saputro, menilai pameran ini melampaui seremoni seni biasa. Baginya, Liberté d’Inclusion bukan panggung belas kasihan, melainkan ruang afirmasi.
“Setiap karya menyampaikan pesan tegas: aku ada, aku berkarya, dan aku setara,” ujarnya.
Menurutnya, seni tidak pernah menuntut kesempurnaan fisik. Yang dibutuhkan hanyalah kejujuran ekspresi. Proses kreatif para perupa berlangsung dalam suasana setara—tanpa stigma, tanpa reduksi identitas.
“Inklusi lahir dari kesadaran bahwa seni tidak mengukur manusia dari keterbatasannya, melainkan dari pengalaman hidup yang jujur,” tambahnya.
Direktur Alliance Française Semarang, Dra. Kiki Martaty, menegaskan bahwa pameran ini sejalan dengan komitmen lembaganya dalam mempromosikan kebebasan, kesetaraan, dan inklusi melalui jalur kebudayaan. Diplomasi budaya, katanya, adalah jembatan efektif mempererat hubungan Prancis–Indonesia sekaligus memberi dampak nyata bagi masyarakat lokal.
Sementara itu, Founder Roemah Difabel, Noviana Dibyantari, menyebut pameran ini sebagai bagian dari komitmen jangka panjang membuka ruang ekspresi bagi seniman difabel.
“Kami ingin sahabat difabel tidak hanya diberi panggung, tetapi juga didampingi untuk bertumbuh dan diakui secara setara,” tuturnya.
Lewat program “Merdeka Berkarya, Warnai Indonesia”, Roemah Difabel mendorong lahirnya ruang-ruang inklusif, di mana disabilitas tidak lagi dipandang sebagai batas, melainkan bagian dari keberagaman yang memperkaya kehidupan sosial dan budaya.
Diplomasi yang Berlanjut
Usai pembukaan pameran, agenda berlanjut ke Akademi Kepolisian pukul 13.30–15.00 WIB. Di sana, delegasi menerima paparan mengenai sistem pendidikan dan pelatihan, sekaligus menjajaki peluang kerja sama dan pertukaran pengetahuan.
Pukul 15.30 WIB, rombongan tiba di Balai Kota Semarang untuk bertemu Wali Kota. Pembahasan mencakup potensi kolaborasi di bidang kebudayaan, pendidikan, hingga pengembangan kota berkelanjutan.
Momentum penting terjadi pukul 16.00 WIB saat penandatanganan perjanjian kerangka kerja antara Wali Kota dan Duta Besar sebagai landasan penguatan hubungan bilateral. Dilanjutkan nota kesepahaman antara Wali Kota dan Direktur Alliance Française Semarang, dengan Dubes Prancis memberikan dukungan simbolis.
Agenda ditutup dengan sesi foto bersama dan konferensi pers. Harapannya, kerja sama yang terjalin tidak berhenti pada seremoni, tetapi tumbuh menjadi program konkret yang memberi manfaat bagi masyarakat kedua negara.
Pukul 16.30 WIB, delegasi bertolak menuju bandara. Sehari di Semarang, diplomasi Prancis menegaskan satu hal: seni adalah bahasa kemanusiaan yang paling jujur. Dan kesetaraan—seperti warna di atas kanvas—adalah nilai yang harus terus diperjuangkan bersama. (Christian kemarin)




