Oleh: Chriistian Heru Cahyo Saputro, pemerhati seni tradisi
Semarang — Di tengah arus zaman yang serba digital, ketika layar gawai lebih akrab ketimbang panggung pertunjukan, 250 siswa SMP Negeri 1 Beringin justru memilih duduk rapi menyaksikan wayang orang di Gedung Ki Narto Sabdo, TBRS, Semarang, Kamis, (12/1/2026). Di situlah harapan itu menyala—pelan, tetapi nyata.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang menggandeng Wayang Orang Ngesti Pandowo menggelar pentas apresiasi dengan lakon legendaris “Anoman Obong”. Bukan sekadar tontonan, melainkan ikhtiar merawat ingatan kolektif bangsa.
Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kota Semarang, Saroso, S.Sn., mewakili Kepala Dinas, menyampaikan pesan yang sederhana namun mendalam: budaya harus dirawat bersama.
“Kita bersama-sama ikut nguri-uri budaya dan kearifan lokal. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi?” ujarnya.
Kalimat itu bukan retorika seremoni. Ia adalah pengingat bahwa tradisi tidak akan bertahan hanya dengan wacana. Ia hidup karena ditonton, dipelajari, dicintai.
Bagi para siswa, menonton wayang orang bukan sekadar tugas mata pelajaran kesenian. Guru Musik SMPN 1 Beringin, Catur Silawan Purba, menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual—mengenalkan seni bukan hanya dari buku, tetapi dari pengalaman langsung.
“Para siswa ingin melihat langsung pentas wayang orang, bukan hanya melalui buku atau video,” katanya.
Sebelum memasuki gedung pertunjukan, para siswa bahkan diajak berwisata edukatif ke Taman Hiburan Maerokoco. Pembelajaran tidak lagi dibatasi ruang kelas. Ia menjelma menjadi perjalanan budaya.
Tradisi dan Kreativitas dalam Satu Panggung
Pentas semakin semarak dengan penampilan cosplay Semarang Night Carnival (SNC) serta Tari Krida Jaranan dari Sanggar Sekar Arum. Di sini, tradisi tidak berdiri kaku. Ia berdialog dengan kreativitas kontemporer. Generasi muda diperlihatkan bahwa budaya bukan barang museum, melainkan ruang hidup yang terus bergerak.
Ketika lakon “Anoman Obong” dimulai, panggung seakan berubah menjadi Alengka. Sutradara Budi Lee mengemas fragmen Ramayana dengan sentuhan segar tanpa kehilangan ruh klasiknya. Musik garapan Githung Swara mengalun harmonis, sementara koreografi Paminto Krisna menghadirkan dinamika yang memikat.
Adegan ketika Anoman tertangkap dan ekornya dibakar menjadi puncak dramatik yang memukau. Api yang menyala bukan sekadar efek panggung. Ia simbol perlawanan terhadap angkara murka. Anoman melompat, membakar Alengka, lalu kembali kepada Rama membawa kabar kesetiaan Sinta.
Di situlah nilai moral bekerja: kesetiaan, keberanian, kecerdikan, dan keyakinan bahwa kebenaran akan menang.
Para siswa terlihat bertahan hingga akhir pertunjukan. Bahkan setelah tirai menutup panggung, mereka tetap antusias mengikuti kuis interaktif yang dipandu langsung oleh Budi Lee. Pertunjukan tidak berhenti pada tepuk tangan. Ia berlanjut menjadi dialog dan pengetahuan.
Menonton atau Mewarisi?
Pertanyaan pentingnya: apakah generasi muda cukup hanya menjadi penonton?
Disbudpar Kota Semarang tampaknya ingin melangkah lebih jauh. Pentas apresiasi ini bukan hanya program seremonial, melainkan strategi kebudayaan. Wayang orang harus kembali akrab di benak pelajar, bukan sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai cermin nilai kehidupan.
Di tengah modernitas yang sering melupakan akar, “Anoman Obong” menghadirkan api kesadaran. Api yang bukan untuk membakar, melainkan untuk menerangi.
Karena sejatinya, budaya tidak akan punah oleh zaman. Ia akan hilang hanya jika generasinya berhenti peduli.
Dan di Semarang hari itu, kepedulian itu terlihat jelas—di sorot mata para pelajar yang menyaksikan Anoman melompat di antara nyala api, seolah berkata: warisan ini kini ada di tanganmu. (*)




