Semarang, Sumatera Post — Semangat persaudaraan lintas iman mengalir hangat di Vihara Tanah Putih, Jalan Dr. Wahidin No. 12, Semarang, Rabu (11/2/2026) malam. Rotary Club of Semarang Bimasena bersama PELITA menggelar Doa Lintas Agama untuk Semesta, menghadirkan tokoh-tokoh agama dan umat dari beragam keyakinan dalam satu ruang kebersamaan.
Suasana hening dan khidmat menyelimuti vihara saat para pemuka agama bergantian memimpin doa. Hadir dalam kesempatan tersebut KH. Taslim Syahlan (Islam), Rm. FX. Suhanto, Pr. (Katolik), Pinandita Made (Hindu), Pdt. Aryanto Nugroho (Kristen), Ws. Andi Gunawan (Khonghucu), Arifin (Penghayat Kepercayaan), serta Bhikkhu Cattamano Mahathera (Buddha).
Acara diawali dengan pembacaan kidung oleh Danang Lawu Sulistiono, mahasiswa ISI Denpasar, yang menghadirkan nuansa reflektif sebelum doa bersama dipanjatkan.
Presiden Rotary Club of Semarang Bimasena, Linggayani Soentoro, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Setyawan Budi dan jajaran PELITA, serta Vihara Tanah Putih yang membuka ruang sebagai tuan rumah.
Menurut Linggayani, pertemuan lintas iman bukan sekadar seremoni, melainkan wujud nyata merawat persaudaraan di tengah keberagaman.
“Perdamaian tidak hadir secara tiba-tiba dan tidak selesai dalam satu momentum. Ia harus dirawat melalui perjumpaan, saling mengenal, makan bersama, berbincang, dan membangun kolaborasi lintas komunitas,” ujarnya.
Ia menegaskan, perdamaian dan pencegahan konflik merupakan salah satu dari tujuh fokus utama Rotary Internasional. Karena itu, forum lintas iman menjadi langkah konkret untuk membuka ruang dialog dan memperkuat kohesi sosial.
Kepala Vihara Tanah Putih, Bhikkhu Cattamano Mahathera, menyatakan vihara terbuka sebagai ruang kebajikan bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang agama.
“Kita berkumpul bukan hanya sebagai umat dari keyakinan berbeda, tetapi sebagai sesama manusia yang memiliki harapan yang sama: kedamaian bagi semesta,” tuturnya.
Dalam pandangan Buddha, lanjutnya, kedamaian berakar dari batin yang dipenuhi cinta kasih (mettā), belas kasih (karuṇā), dan kebijaksanaan (paññā). Pertemuan seperti ini dinilai sebagai langkah nyata menumbuhkan benih-benih perdamaian.
Sementara itu, Koordinator PELITA, Setyawan Budi, menegaskan bahwa doa lintas agama adalah pernyataan sikap bersama bahwa harmoni merupakan pilihan yang harus terus diperjuangkan.
“Doa bukan hanya ucapan yang naik ke langit, tetapi nilai yang harus turun menjadi tindakan—saling menghormati, melindungi yang lemah, dan mencegah benih konflik sebelum tumbuh menjadi perpecahan,” katanya.
Kegiatan yang terbuka untuk umum tersebut diharapkan semakin memperkuat jejaring persaudaraan lintas iman di Kota Semarang. Di tengah dinamika sosial yang terus bergerak, Semarang kembali menunjukkan bahwa keberagaman bukan sumber perpecahan, melainkan fondasi kokoh bagi kehidupan bersama yang damai dan berkelanjutan.
(Christian Saputro)




