Februari di Kota Semarang selalu membawa angin laut yang lembap dan cahaya yang lembut. Namun pada 11–21 Februari 2026, ada cahaya lain yang menyala dari dinding Galeri Alliance Française Semarang di Jalan Wahidin 54. Cahaya itu datang dari delapan sahabat difabel yang menamai perjumpaan mereka dengan satu kata yang berani: Liberté d’Inclusion—Merdeka dalam Inklusi.
Pameran seni rupa yang digelar berkolaborasi dengan Roemah Difabel Indonesia ini bukan sekadar agenda budaya. Ia adalah peristiwa batin. Peristiwa tentang bagaimana kanvas dapat menjadi ruang pengakuan, dan warna-warna yang dulu dipandang sebelah mata kini berdiri setara, tanpa perlu dikasihani.
Pembukaan pameran dilakukan oleh Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone. Di ruang yang hangat itu, seni berbicara melampaui bahasa diplomasi. Lukisan-lukisan yang lahir dari tangan-tangan yang kerap diragukan justru menghadirkan kejujuran yang nyaris telanjang: tentang harapan, tentang sunyi, tentang keberanian untuk tetap ada.
Sepuluh hari kemudian, pameran ditutup oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno. Tetapi yang sesungguhnya menutup perhelatan itu bukanlah seremoni. Melainkan kesadaran baru: bahwa inklusi bukan slogan di spanduk, melainkan kerja panjang yang sunyi.
Di balik delapan nama yang terpajang, ada satu sosok yang bergerak tanpa banyak suara: Giovanni Susanto. Ia tidak berdiri paling depan. Ia lebih sering duduk di lantai, membersihkan kuas, menunggu cat mengering, atau sekadar tersenyum ketika warna meluber keluar garis. Kerja senyapnya menjadi pemantik, menjadi motor penggerak yang membuat para perupa difabel percaya bahwa karya mereka tidak sedang “dibantu”, melainkan diakui.
Giovanni tidak mengajari mereka menjadi “pelukis hebat”. Ia menjaga satu hal yang jauh lebih rapuh: rasa percaya diri. Di ruang-ruang latihan Roemah Difabel, ia membiarkan proses berjalan dengan ritmenya sendiri. Tidak ada kata salah. Tidak ada penghakiman. Yang ada hanya keberanian untuk jujur pada warna.
Dan kejujuran itulah yang memenuhi galeri AF Semarang. Sapuan cat yang mungkin dianggap liar justru memancarkan kebebasan. Garis yang tak presisi menghadirkan kehangatan manusiawi. Di hadapan karya-karya itu, batas antara “difabel” dan “non-difabel” mencair. Yang tersisa hanyalah seniman dan penikmatnya.
Liberté d’Inclusion menjadi lebih dari tajuk. Ia menjelma sikap. Kolaborasi antara Alliance Française Semarang dan Roemah Difabel Indonesia menunjukkan bahwa ruang budaya dapat menjadi ruang keberpihakan. Bahwa galeri bukan hanya tempat menggantung lukisan, melainkan tempat menggantung harapan—agar setiap manusia, dengan segala keterbatasannya, memiliki hak yang sama untuk bersuara.
Pameran itu menuai sukses, bukan semata karena jumlah pengunjung atau tepuk tangan saat pembukaan dan penutupan.
Suksesnya terletak pada perubahan cara pandang. Pada momen ketika seorang pengunjung berdiri lebih lama di depan satu lukisan, lalu berbisik pelan, “Ini kuat sekali.”
Barangkali di situlah makna merdeka yang sesungguhnya. Bukan bebas tanpa batas, melainkan bebas untuk diakui. Bebas untuk setara. Bebas untuk menjadi diri sendiri.
Dan di sebuah galeri di Semarang, selama sepuluh hari yang sederhana itu, kebebasan menemukan warnanya. (Christian Saputro)




