Semarang – Pada suatu sore yang hangat di awal Februari, halaman tua di Jalan Diponegoro itu mendadak bergetar oleh bahasa-bahasa yang saling bersilang. Bahasa Prancis bertemu Jawa, Indonesia bertemu isyarat tangan, kanvas-kanvas berdiri seperti jendela yang baru saja dibuka. Di dinding putih itu, kata-kata tak lagi utama. Warna mengambil alih percakapan.
Pameran seni rupa bertajuk Liberté d’Inclusion—Merdeka dan Inklusi—yang digelar 11–21 Februari 2026 menjadi salah satu penanda penting dalam denyut kebudayaan Kota Atlas. Di ruang milik Alliance Française Semarang yang biasanya riuh oleh kelas tata bahasa dan pelafalan huruf “r” yang bergetar di tenggorokan, kali ini yang bergetar adalah emosi.
Pameran dibuka oleh Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, dan ditutup oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno. Ratusan orang hadir silih berganti. Ada mahasiswa, pegiat seni, diplomat, birokrat, komunitas difabel, hingga warga yang sekadar ingin tahu: seperti apa rupa kebebasan jika ia dilukis oleh mereka yang kerap diletakkan di pinggir?
Kolaborasi antara Alliance Française Semarang dan Yayasan Roemah Difabel Indonesia ini membuktikan satu hal: inklusi bukan seminar. Ia adalah kerja panjang, kesabaran, dan keberanian membuka ruang.
Ruang yang Tidak Netral
Di balik gelaran itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar berada di tengah sorotan, tetapi justru menjadi porosnya: Dra. Kiki Martaty, Direktur Alliance Française Semarang.
Di sebuah sudut ruang yang kerap dipenuhi diskusi lintas bahasa, pemutaran film, hingga pameran seni rupa, Kiki berdiri bukan sebagai seremoni, melainkan sebagai penjaga api kecil yang terus ia rawat. Ia jarang bicara keras. Tapi ia tekun memastikan setiap detail bekerja.
“Yang kami bangun bukan hanya program, tetapi ekosistemnya,” ujarnya suatu ketika.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun dalam praktiknya, membangun ekosistem berarti memastikan ruang tidak pernah benar-benar netral. Ia harus berpihak pada percakapan. Pada keberagaman. Pada kemungkinan.
Alliance Française memang memiliki sejarah panjang sebagai jejaring budaya global. Tetapi di tingkat kota, sejarah itu tak otomatis menjelma relevansi. Ia harus dinegosiasikan ulang, dibumikan, didekatkan.
“Saya tidak merasa membangun dari nol. Tapi di Semarang, tentu ada proses membangun kembali jejaring dan kedekatan dengan komunitas,” kata Kiki.
Baginya, lembaga ini tak boleh berhenti sebagai tempat kursus bahasa Prancis. Ia harus menjadi ruang temu. Ruang yang mempertemukan perupa difabel dengan diplomat. Mahasiswa dengan kurator. Seniman lokal dengan perspektif global.
Bahasa sebagai Cara Melihat Dunia
Dalam pandangan Kiki, bahasa melampaui fungsi komunikatif. Ia adalah cara berpikir. Di dalamnya tersimpan sejarah, nilai, dan cara merasa.
Belajar bahasa Prancis bukan sekadar menghafal konjugasi kata kerja. Ia adalah upaya memahami cara lain melihat dunia. Dalam konteks Semarang—kota pelabuhan yang sejak lama menjadi simpul perjumpaan etnis, agama, dan bangsa—bahasa menjadi jembatan empati.
Maka pameran Liberté d’Inclusion bukan sekadar peristiwa seni. Ia adalah peristiwa kebudayaan. Karya-karya para perupa dari Roemah Difabel—Yohan, Danang, Rizky Amalia, Farachela, Yuni, Willi, Rafi, Sheva—hadir bukan sebagai objek simpati. Mereka hadir sebagai subjek artistik.
Di beberapa lukisan, warna meledak tanpa ragu. Di yang lain, garis-garisnya seperti mencari jalan pulang. Ada kebebasan yang tak meminta izin. Ada inklusi yang tak sedang memohon diterima.
Giovanni Susanto, sang mentor, berdiri tak jauh dari karya murid-muridnya. Ia tak banyak bicara. Tetapi dari caranya memandang kanvas, terlihat bahwa proses kreatif ini bukan kerja sehari dua hari. Ia adalah ketekunan. Ia adalah percaya.
Mendengar dan Setara
Strategi kolaborasi Alliance Française Semarang, kata Kiki, sederhana: mendengar dan setara.
“Kami tidak datang membawa label internasional lalu merasa lebih tinggi. Kami datang sebagai mitra dialog.”
Kalimat itu terdengar seperti etika dasar. Tetapi dalam praktik kebudayaan, ia kerap dilupakan. Banyak lembaga hadir dengan agenda. Sedikit yang datang dengan telinga.
Di tangan Kiki, AF Semarang diposisikan sebagai creative hub—ruang aman untuk bereksperimen. Prinsipnya bukan membawa Prancis ke Semarang, melainkan mempertemukan energi lokal dengan perspektif global. Bukan ekspor budaya satu arah, melainkan pertukaran.
Dan Semarang, menurutnya, adalah kota yang lentur.
“Semarang itu cair. Ia tidak gagal membangun identitas. Ia sedang berproses.”
Sebagai kota dagang, identitasnya memang tak dibentuk oleh slogan besar, melainkan lapisan sejarah dan dinamika sosial. Kota ini tak selalu percaya diri dengan dirinya sendiri. Tetapi justru di situlah daya tahannya—résilience, kata Kiki, meminjam istilah Prancis.
Diplomasi yang Sunyi
Apa yang terjadi sepanjang 11 hari pameran itu, sesungguhnya adalah bentuk diplomasi yang sunyi.
Diplomasi tak selalu berlangsung di ruang rapat berpendingin udara atau meja perundingan. Ia bisa hadir dalam tatapan pengunjung pada lukisan seorang perupa difabel. Dalam percakapan kecil antara mahasiswa dan diplomat. Dalam tepuk tangan yang tak dibuat-buat.
Ketika Duta Besar Prancis membuka pameran, dan ketika Sekda Jawa Tengah menutupnya, yang dirayakan bukan hanya kerja sama dua institusi. Yang dirayakan adalah kemungkinan bahwa kebudayaan bisa menjadi jalan tengah di dunia yang makin bising oleh perbedaan.
Alliance Française Semarang, lewat kepemimpinan Kiki Martaty, menunjukkan bahwa lembaga budaya tak harus besar untuk berpengaruh. Ia cukup konsisten. Cukup terbuka. Cukup berani menurunkan prasangka.
Pameran Merdeka dan Inklusi menjadi bukti bahwa AF Semarang bukan sekadar pusat kursus bahasa. Ia menjelma ruang strategis diplomasi budaya—membangun ekosistem seni yang inklusif sekaligus mengglobal.
Di ujung acara penutupan, ketika sebagian lukisan mulai diturunkan dari dinding, ruang itu tak lagi sama. Ia telah menyimpan jejak percakapan, tawa, mungkin juga air mata kecil yang tak terlihat.
Seni selalu menemukan jalannya sendiri untuk menyuarakan kemanusiaan. Dan di Semarang, pada Februari 2026 itu, jalan itu melewati sebuah ruang sederhana—tempat kebebasan dan inklusi tak lagi menjadi slogan, melainkan pengalaman.
Barangkali, seperti kata Kiki, masa depan tak bisa dibangun sendirian. Ekosistem hanya tumbuh jika kita berani berkolaborasi.
Dan di kota yang lentur ini, kolaborasi itu sedang belajar berjalan.




