SEMARANG — Beranda Joglo Dekase dipenuhi suasana hangat dan akrab, Jumat (27/2/2026) sore. Para perupa, pegiat seni, dan penikmat budaya berkumpul dalam acara Buka Puasa Bareng dan Ngobrol Gayeng Seni Rupa Semarang. Lebih dari sekadar silaturahmi Ramadan, pertemuan ini menjadi ruang konsolidasi untuk membicarakan masa depan seni rupa Kota Atlas.
Ngobrol santai tersebut diinisiasi oleh Dewan Kesenian Semarang (Dekase). Ketua Dekase, Adhitia Admitrianto, membuka perbincangan sore itu dengan menekankan pentingnya ruang temu yang cair namun produktif bagi para pelaku seni. Ajakan itu disambut antusias oleh sejumlah perupa yang hadir, di antaranya Ge Haryanto, Muji Konde, Beby, Heri, Giovanni, Christian Saputro, Darmanto, serta banyak nama lain lintas generasi.
Dari Komite Seni Rupa Dekase, hadir pula Tatas Sehono dan Andy Sueb yang turut memperkaya diskusi. Sejak awal, percakapan mengalir tanpa sekat. Para peserta duduk melingkar di beranda joglo, sebagian bersandar pada tiang kayu, sembari menikmati hidangan berbuka yang tersaji sederhana.
Sebelum azan magrib berkumandang perbincangan diawali.
Selepas berbuka puasa, diskusi menghangat. Beragam gagasan mengemuka, mulai dari pentingnya ruang alternatif bagi perupa muda, keberlanjutan pameran independen, hingga perlunya strategi bersama dalam membangun ekosistem seni rupa Semarang yang lebih solid.
Salah satu gagasan konkret yang disepakati adalah menggelar kegiatan “nyeket bareng” secara rutin di kawasan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS).
Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan berkala antarperupa sekaligus wadah berbagi proses kreatif secara terbuka.
Selain itu, muncul pula ide “arisan pameran” sebagai strategi gotong royong dalam penyelenggaraan pameran kolektif. Konsep ini memungkinkan para perupa saling mendukung secara bergilir, baik dalam pembiayaan maupun pengelolaan ruang, sehingga agenda pameran dapat berjalan lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Tak kalah penting, para peserta sepakat perlunya membangun platform bersama untuk publikasi karya dan kegiatan seni rupa Semarang. Platform ini diharapkan menjadi etalase kolektif yang mampu menjangkau publik lebih luas, sekaligus memperkuat posisi perupa lokal di tingkat regional maupun nasional.
Dalam suasana yang cair namun serius, forum ini menunjukkan bahwa seni rupa tidak hanya tumbuh dari studio atau galeri, tetapi juga dari ruang-ruang dialog yang egaliter. “Kita butuh ruang ngobrol seperti ini—tidak formal, tetapi serius dalam gagasan. Dari pertemuan sederhana sering lahir kerja besar,” ungkap salah satu peserta.
Acara ditutup tanpa protokol panjang. Tidak ada panggung resmi, hanya percakapan yang terus berlanjut hingga malam. Dari beranda joglo yang teduh itu, semangat kebersamaan dan tekad membangun ekosistem seni rupa Semarang terasa semakin menguat. Ramadan menjadi momentum bukan hanya untuk berbagi hidangan, tetapi juga berbagi visi dan harapan bagi masa depan jagad seni rupa kota ini. (Christian Saputro)




