Kota selalu punya cara untuk mengingat orang-orang yang mencintainya. Bukan lewat patung, bukan pula lewat nama jalan. Kadang, ia mengingat lewat garis-garis tipis di atas kertas—goresan yang lahir dari tangan yang sabar dan mata yang tekun membaca ruang. Begitulah Semarang akan mengenang Dr. Budi Sudarwanto.
Kabar kepergian beliau pada pukul 11.00 menyisakan jeda yang panjang. Di ruang-ruang kelas Departemen Arsitektur FT Undip, mungkin masih ada kursi yang terasa kosong. Di sudut-sudut Kota Lama, ada dinding tua yang pernah ia tatap lama sebelum mengabadikannya dalam sketsa. Dan di lingkar pertemanan Semarang Sketchwalk, langkah-langkah kecil menyusuri trotoar kini terasa kehilangan satu irama.
Dr. Budi bukan sekadar dosen. Ia adalah pembaca kota yang tekun. Dalam kesehariannya sebagai akademisi, ia akrab dengan teori, struktur, dan presisi hitung-hitungan bangunan. Namun ketika turun ke lapangan, ia menjelma peziarah ruang—menggambar dengan hening, menyimak detail yang kerap terlewatkan.
Pamerannya bertajuk “Sketsa Arsitektural” pada 2021 di TAN Artspace Semarang menjadi penanda penting. Enam belas karya dari rentang 2019–2021 menghadirkan bangunan-bangunan yang tak sekadar berdiri sebagai objek visual, melainkan sebagai ruang hidup. Lawang Sewu, Candi Mendut, Benteng Vastenberg, hingga Villa Isola tampil bukan sebagai monumen beku, tetapi sebagai wadah aktivitas manusia—seperti yang kerap ia ucapkan, “Arsitektur adalah wadah manusia beraktivitas.”
Kalimat itu sederhana. Namun di tangannya, ia menjadi tafsir yang hidup. Sketsanya tak berhenti pada garis presisi ala arsitek. Warna-warna merembes masuk. Tekstur menjadi lebih terasa. Bayangan dan cahaya menemukan napasnya. Ia tak sekadar menggambar bangunan—ia menggambar waktu.
Dalam setiap sketchwalk, ia berjalan tanpa banyak bicara. Sering kali duduk agak terpisah, memilih sudut yang mungkin tak terpikirkan orang lain.
Retakan tembok, bayangan jendela, atap seng berkarat—detail-detail kecil itu baginya adalah pintu masuk menuju cerita. Kota bukan sekadar kumpulan struktur, melainkan arsip kenangan.
Mahasiswa yang pernah ia ajak turun ke lapangan mengenangnya sebagai pembimbing yang sabar. Ia tak memaksakan gaya, tak tergesa memberi jawaban. Ia hanya bertanya, “Kamu melihat apa?” Dari pertanyaan itu, percakapan lahir. Dari percakapan itu, cara pandang tumbuh.
Sebagai akademisi, ia berdiri kokoh dalam disiplin. Sebagai perupa, ia melenturkan batas. Ia menunjukkan bahwa arsitektur dan seni tak perlu berhadap-hadapan. Keduanya bisa bersalaman.
Struktur bisa menjadi puitis, dan puisi bisa berdiri setegak bangunan.
Kenangan terakhir Semarang Sketchwalk dalam agenda Silaturahome ke rumah beliau pada 20 Juli 2025 kini terasa seperti fragmen yang berkilau dalam ingatan. Tawa ringan, obrolan hangat, dan sketsa yang terbuka di meja—semuanya kini menjadi potongan waktu yang tak tergantikan.
Kepergian Dr. Budi adalah kehilangan bagi dunia akademik dan seni rupa Semarang. Namun seperti bangunan tua yang tetap berdiri meski pembangunnya telah tiada, jejaknya tak mudah terhapus. Sketsa-sketsanya akan terus berbicara—tentang kota yang ia cintai, tentang detail yang ia jaga, tentang generasi yang ia bimbing untuk melihat lebih dalam.
Alamat rumah duka berada di Jl. Arya Mukti Raya No. 1, Pedurungan Lor, Pedurungan. Almarhum akan dimakamkan pada Minggu, 1 Maret 2026 pukul 08.00 di Pemakaman Husnul Khatimah Gunungpati.
Mungkin, di suatu sore mendatang, ketika komunitas sketchwalk kembali berkumpul di Kota Lama atau Pecinan, seseorang akan membuka kembali salah satu karyanya. Menatapnya lama. Diam sejenak. Lalu menyadari—sketsa itu memang tak pernah selesai. Ia hanya berpindah tangan, berpindah mata, berpindah hati.
Selamat jalan, Dr. Budi Sudarwanto.
Kota ini tetap berdiri.
Dan di setiap sudut yang pernah Anda gambar, ada kenangan yang tak akan pudar. (Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis — Pengamat Seni Rupa)




