Oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Kota yang Bernapas dalam Dua Waktu
Di Semarang, waktu tidak pernah benar-benar tunggal. Ia berlapis seperti cat di dinding tua Pecinan—sebagian mengelupas, sebagian bertahan, sebagian justru membuat warna lama semakin dalam.
Pagi adalah bunyi plastik kresek dan timbangan besi yang beradu. Siang adalah tawar-menawar yang cepat dan praktis.
Sore menghadirkan percakapan campur-aduk: Jawa, Indonesia, dan serpih Hokkian yang tinggal sebagai gema. Namun ketika lampion menyala dan hio mengepulkan asap tipis, kota seperti memejamkan mata dan memasuki waktu lain—waktu doa.
Di halaman Klenteng Tay Kak Sie, malam sebelum Kirab Sam Poo Besar selalu terasa lebih panjang. Pilar kayu tua memantulkan cahaya temaram. Atap melengkung yang dibangun pada abad ke-18 itu menyimpan dengung sejarah: masa kolonial, masa ketika identitas Tionghoa dipaksa merunduk, hingga masa kini ketika ia kembali berdiri terang.
Di tempat inilah sejarah tidak sekadar dikenang. Ia dirias. Ia dipanggil. Lalu ia disiapkan untuk berjalan.
Malam yang Melahirkan Wajah-Wajah
Jarum jam melewati pukul sebelas ketika Slamet Ananta—yang akrab dipanggil Peng An—menghitung ulang peserta kirab. Tahun 2025, jumlahnya mencapai hampir dua ratus orang. Mereka datang dari berbagai kota, lintas generasi, lintas latar belakang.
“Jumlah itu bukan sekadar angka,” ujarnya pelan. “Itu tanda tradisi masih menemukan jalannya.”
Bangku sederhana disusun berderet. Meja kayu dipenuhi pigmen merah karmin, hitam arang, dan serpih emas. Delapan perias membuka kotak peralatan mereka. Nama-nama itu beredar seperti doa yang dipanggil satu-satu.
“Wajah Bhekun bukan sekadar digambar,” kata Peng An. “Ia dipersiapkan.”
Satu per satu peserta duduk bersila. Mata terpejam. Nafas ditata. Kuas menyentuh kulit dengan hati-hati—garis hitam menegaskan sorot mata, merah menyalakan keberanian, emas memberi wibawa.
Tak ada cermin besar di depan mereka. Mereka menyerahkan wajahnya sebagaimana menyerahkan niatnya.
Seorang pelukis berbisik, “Ini bukan soal cantik atau gagah. Ini soal karakter.”
Wajah-wajah itu seperti topeng yang justru membuka, bukan menutup. Mereka bukan lagi individu yang datang dengan pakaian sehari-hari. Mereka sedang beralih rupa—dari diri pribadi menjadi Bhekun.
Malam melahirkan wajah.
Wajah melahirkan tekad.
Dan tekad itulah yang akan berjalan saat subuh tiba.
Nazar yang Disimpan dalam Diam
Menjadi Bhekun tidak membutuhkan syarat administratif. Tidak ada formulir panjang. Tidak ada seleksi ketat.
“Yang penting niat. Siap jalan. Siap wajahnya digambar,” ujar Peng An.
Namun di balik keterbukaan itu tersimpan lapisan batin yang tak selalu diucapkan keras-keras: nazar.
Sebagian pernah berdiri sendiri di sudut Tay Kak Sie, memohon kesembuhan anak, kelancaran usaha, atau kedamaian rumah tangga. Sebagian datang untuk menepati janji setelah permohonan itu dijawab dengan caranya sendiri.
Peng An pernah berada di titik itu. Ketika anaknya sakit keras, ia berdiri dalam sunyi dan berkaul tanpa saksi. Jika diberi jalan, ia akan menjaga kirab ini selama tubuhnya mampu berjalan.
Anaknya sembuh. Ia tidak mengumumkan apa pun. Ia hanya hadir, tahun demi tahun.
“Menjadi Bhekun bukan soal gagah,” katanya. “Ini soal ingat pada janji sendiri.”
Di sanalah tradisi menemukan makna terdalamnya: pada janji yang tidak dipamerkan, pada kesetiaan yang tidak diiklankan.
Mak Ribut, Penjaga yang Tidak Pernah Pergi
Di antara ratusan wajah yang dirias itu, ada satu nama yang tak perlu diumumkan untuk dikenali: Mak Ribut.
Tubuhnya telah renta. Rambutnya memutih. Namun langkahnya tetap tegak ketika menggenggam tali kekang kuda Kongco Dewa Agung dalam arak-arakan.
Ia tidak berjalan untuk dipotret. Ia berjalan untuk menjaga.
Tugasnya terdengar sederhana: menenangkan dan memberi makan kuda sepanjang prosesi, dari Tay Kak Sie hingga kompleks Sam Poo Kong di Gedung Batu.
Namun di situlah inti kesetiaan itu.
Di tengah denting tambur, letupan petasan, dan riuh warga yang memadati jalanan, kuda bisa gelisah. Nafasnya meninggi. Telinganya bergerak cepat. Satu bunyi keras bisa mengacaukan barisan.
Mak Ribut hafal tanda-tanda itu.
Tangannya lembut. Suaranya rendah. Ia tidak menarik keras. Ia membisikkan ketenangan. Sesekali ia menyuapi pakan, memberi air, memastikan tenaga kuda tidak surut sebelum perjalanan usai.
“Menjaga bukan berarti menekan,” kata Peng An suatu subuh ketika kuda sempat tersentak. “Menjaga itu menenangkan.”
Puluhan tahun ia menjalani peran itu sebagai nazar. Ia tak pernah menceritakan awal mula janjinya. Ia hanya hadir—tahun demi tahun—seperti seseorang yang berdiri di sisi ingatannya sendiri.
Dari Laksamana ke Kota yang Mengingat
Kirab Sam Poo Besar berakar pada penghormatan kepada Cheng Ho—yang di Semarang dikenal sebagai Sam Poo Tay Djien. Pada abad ke-15, laksamana dari Dinasti Ming itu memimpin pelayaran besar menyinggahi pesisir Jawa.
Di kawasan Gedung Batu, jejak itu dirawat dalam kompleks Sam Poo Kong.
Gerbang merah dan atap bertingkat menjadi simbol perjumpaan Tiongkok dan Jawa—perjumpaan yang tidak hanya menghasilkan perdagangan, tetapi juga percampuran rasa, bahasa, dan keyakinan.
Kirab tumbuh sebagai arak-arakan penghormatan—bukan semata pada tokoh sejarah, melainkan pada gagasan tentang persaudaraan lintas budaya.
Ia sempat meredup ketika ekspresi budaya Tionghoa dibatasi. Namun selepas Reformasi, kirab kembali terbuka. Ia menjadi milik kota, bukan milik satu komunitas saja.
Sejarah besar itu, pada akhirnya, bertahan bukan hanya karena bangunan atau arsip. Ia bertahan karena ada manusia yang memilih berjalan.
Subuh yang Menggerakkan Aspal
Azan subuh terdengar tipis ketika barisan mulai bergerak meninggalkan Tay Kak Sie. Jalan yang biasa dipenuhi transaksi kini menjadi lorong sejarah.
Cahaya pagi menyentuh wajah-wajah yang dirias semalaman. Cat merah berkilau diterpa matahari pertama. Wajah-wajah itu kini bukan lagi sekadar wajah.
Mereka adalah tekad yang berjalan.
Seekor kuda sempat gelisah ketika bunyi petasan terdengar jauh. Mak Ribut sudah lebih dulu di sana—di sisi kuda—membisikkan sesuatu yang tak terdengar oleh siapa pun kecuali hewan itu sendiri.
Subuh melahirkan langkah.
Langkah melahirkan ingatan.
Aspal yang biasa dilalui kendaraan kini menanggung beban sejarah. Warga berdiri di tepi jalan—ada yang memotret, ada yang hanya menatap dengan khidmat. Anak-anak kecil memandang dengan mata membesar, seolah menyaksikan dongeng yang keluar dari buku dan berjalan di depan mereka.
Laku yang Tidak Tercatat di Kitab
Ketika dupa mulai menipis dan para Bhekun menanggalkan rias wajahnya, tersisa satu pertanyaan yang menggantung di udara: apakah semua ini sekadar tradisi, ataukah ia telah menjelma ibadah?
Menjadi Bhekun berarti menyerahkan diri pada disiplin yang tak tertulis. Datang sebelum orang lain tiba. Menahan lelah tanpa mengeluh. Berjalan jauh tanpa merasa paling berjasa. Menjaga dengan sabar. Menenangkan ketika gelisah.
Ibadah, pada akhirnya, tidak selalu berbentuk kata-kata besar. Ia bisa hadir dalam kesetiaan yang dijaga bertahun-tahun. Dalam langkah yang diulang tanpa pamrih. Dalam keringat yang tidak diumumkan.
Di kota yang terus berlari mengejar modernitas, laku semacam ini menjadi pengingat bahwa spiritualitas kadang hadir dalam bentuk paling sederhana: wajah yang dirias dalam diam, tangan yang menggenggam tali kekang dengan hati teduh, dan janji yang ditepati tanpa sorot lampu.
Selama kuas masih menyentuh wajah dengan niat,
selama tambur masih berdentum di Pecinan,
selama ada yang memilih menjaga daripada pergi—
maka Semarang akan selalu memiliki penjaga.
Dan di antara para penjaga itu, Mak Ribut akan dikenang bukan hanya sebagai pengawal kuda, melainkan sebagai orang yang mengajarkan bahwa nazar—ketika dijalani dengan setia—bisa menjelma langkah yang menjaga ingatan sebuah kota.
Bhekun, pada akhirnya, bukan hanya jejak masa lalu. Ia adalah bentuk kesetiaan untuk mengguri-uri, menghidupi, dan menumbuhkembangkan budaya Nusantara warisan leluhur.
Jika dunia ini adalah panggung besar, Bhekun mungkin bukan pemeran utama. Tapi dialah yang memastikan panggung tetap berdiri—kokoh, hening, dan tak tergoyahkan. (*)




