SEMARANG – Semangat kebersamaan mewarnai kegiatan buka puasa bersama yang digelar oleh Yayasan Maretha Hati Natara bersama Yayasan Kinasih Keluarga Inklusi di Semarang, Jumat (13/3). Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang berbagi hidangan berbuka di bulan Ramadan, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi yang menumbuhkan kepedulian sosial bagi keluarga inklusi dan sahabat difabel.
Acara diawali dengan pembukaan serta pembacaan basmalah bersama sebagai ungkapan syukur dapat berkumpul dalam suasana Ramadan yang penuh berkah. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Faisal yang diikuti sari tilawah oleh Dewi.
Ketua Komunitas Kinasih, Hertinawati, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan buka puasa bersama ini menjadi momentum penting untuk mempererat kebersamaan di antara para anggota komunitas.
“Kegiatan seperti ini bukan sekadar berbuka puasa bersama, tetapi juga menjadi ruang saling menguatkan dan berbagi kasih di antara kita,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Yayasan Maretha Hati Natara, Maretha, menegaskan bahwa kegiatan sosial sederhana seperti ini memiliki makna besar dalam menumbuhkan solidaritas dan kepedulian di tengah masyarakat.
Suasana semakin hidup ketika anak-anak dari komunitas Kinasih menampilkan hiburan sholawat. Penampilan tersebut bukan hanya menghibur para peserta, tetapi juga menjadi panggung bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri dan menumbuhkan rasa percaya diri.
Menjelang waktu berbuka, acara diisi tausiah singkat oleh Murni yang akrab disapa Bude Murni. Namun yang disampaikannya bukan sekadar ceramah keagamaan. Ia berbagi kisah perjalanan panjang membersamai putranya, Faisal, selama lebih dari tiga puluh tahun.
Dengan suara tenang, Bude Murni menceritakan bagaimana sejak kecil ia membimbing Faisal untuk belajar hidup mandiri. Ia membiasakan anaknya untuk belajar, berinfaq, menabung, serta mengurus kebutuhan pribadi.
“Tidak ada jalan yang instan. Semua harus dijalani dengan sabar,” tuturnya.
Perjalanan itu, katanya, tidak selalu mudah. Ia bahkan pernah mengalami momen menyakitkan ketika Faisal yang sedang bersedekah justru dituduh sebagai pencuri.
“Ada yang bilang maling, ada juga yang mengira dia mengemis,” kenangnya.
Namun bagi Bude Murni, pengalaman pahit tersebut justru menjadi bagian dari sekolah kehidupan. Ia mengajarkan kepada anaknya bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan, tetapi niat baik harus tetap dijaga.
“Yang penting tetap berbuat baik dan tetap bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, anak yang dahulu ia bimbing perlahan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Kini Faisal mampu bekerja, mengurus dirinya sendiri, serta menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab.
Suasana ruangan sempat hening ketika Faisal berdiri menutup pertemuan dengan doa. Doa sederhana itu seakan merangkum perjalanan panjang seorang ibu yang tak pernah lelah membersamai anaknya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah, hiburan yang berlangsung hangat, serta kegiatan inti berupa buka puasa bersama. Para peserta tampak menikmati hidangan sambil berbagi cerita dalam suasana kekeluargaan.
Pada kesempatan tersebut, Maretha bersama Singgih Adhi Prasetyo dari Yayasan Maretha Hati Natara juga menyampaikan rencana untuk mengadakan pelatihan keterampilan bagi sahabat difabel, seperti pelatihan rias dan desain grafis. Program ini diharapkan dapat memberikan bekal keterampilan bagi mereka agar lebih mandiri di masa depan.
Melalui kegiatan ini, para penyelenggara berharap semangat kebersamaan, empati, dan dukungan bagi keluarga inklusi terus tumbuh di tengah masyarakat. Buka puasa bersama itu menjadi pengingat bahwa kebajikan sering lahir dari pertemuan-pertemuan sederhana—ketika orang-orang berkumpul, saling mendengar, dan saling menguatkan.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, kisah Bude Murni dan Faisal menjadi pelajaran berharga: bahwa kemandirian, kesalehan, dan kebaikan tidak lahir dalam semalam, melainkan ditempa oleh kesabaran panjang serta cinta yang tak pernah lelah. (Christian Saputro)




