Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis – Pengamat Budaya tinggal di Semarang
Langit di atas Semarang siang itu seperti ditahan agar tidak terlalu tinggi. Ia menggantung rendah, seolah memberi ruang bagi asap dupa untuk naik perlahan tanpa tergesa. Di Gedung tua Boen Hian Tong, Gang Pinggir, orang-orang berdiri dengan jarak yang tidak sepenuhnya jauh, tetapi juga tidak terlalu dekat—sebuah jarak yang sering hadir dalam peristiwa yang melibatkan ingatan.
Bau kayu cendana bercampur dengan aroma buah, nasi, dan masakan rumahan yang disusun rapi di meja panjang. Tidak ada yang benar-benar mewah, tetapi semuanya terasa cukup. Di tempat seperti ini, kecukupan bukan diukur dari kemegahan, melainkan dari niat yang dibawa.
Ritual itu bernama King Ho Ping.
Sebagian orang menyebutnya sembahyang rebut. Yang lain menyebutnya sembahyang Jit Gwee—bulan ketujuh dalam penanggalan Tionghoa, yang dalam tradisi dikenal sebagai Zhongyuan Festival. Tetapi di Gang Pinggir, nama hanyalah pintu masuk. Makna yang sesungguhnya selalu lebih dalam dari sekadar istilah.
King Ho Ping, dalam dialek Hokkian, berarti menghormati (King), harmoni (Ho), dan damai (Ping). Tiga kata yang, jika disatukan, bukan sekadar definisi, melainkan arah. Ia bukan hanya tentang apa yang dilakukan, tetapi tentang bagaimana manusia menempatkan dirinya—di antara yang telah pergi dan yang masih tinggal.
Di altar utama, papan-papan arwah berjajar rapi. Tahun itu jumlahnya hampir dua ratus. Nama-nama itu tidak hanya mewakili individu, tetapi juga cerita—tentang keluarga, tentang kehilangan, tentang kehidupan yang pernah berjalan di kota ini. Mereka dipanggil satu per satu, seperti seseorang yang memastikan tidak ada yang tertinggal.
Di antara nama-nama itu, ada Abdurrahman Wahid. Ia tidak lahir dari tradisi Tionghoa, tetapi kehadirannya di altar itu seperti menjelaskan sesuatu yang tidak selalu bisa diucapkan dengan mudah: bahwa penghormatan tidak lagi dibatasi oleh darah.
Ada juga nama-nama lain yang datang dari ruang sejarah yang lebih kelam, seperti mereka yang menjadi korban dalam Kerusuhan Mei 1998 seperti; Ita Martadinata. Nama-nama itu mungkin tidak selalu tercatat di buku pelajaran.
Tetapi di sini, mereka tetap disebut. Diingat. Dihadirkan.
Sejarah, dalam bentuk seperti ini, tidak disimpan dalam arsip. Ia dirawat.
Jika ditarik jauh ke belakang, King Ho Ping bukanlah tradisi yang lahir di Semarang. Ia datang dari perjalanan panjang yang melintasi laut, membawa serta keyakinan dan ketakutan manusia yang sama tuanya dengan peradaban itu sendiri.
Dalam tradisi Tao, bulan ketujuh dipercaya sebagai saat ketika gerbang dunia bawah terbuka. Roh-roh yang tidak terurus—yang mati tanpa keluarga, tanpa doa, tanpa nama—kembali ke dunia manusia. Mereka bukan sekadar bayangan, tetapi kehadiran yang harus dihadapi.
Karena itu, manusia membuat persembahan. Makanan, kertas uang, dupa. Bukan untuk memanjakan, tetapi untuk menenangkan. Sebuah negosiasi diam antara dua dunia: kami mengingatmu, maka jangan ganggu kami.
Dalam ajaran Buddha, kisah Mulian memberi arah yang berbeda. Ia tidak hanya bicara tentang roh, tetapi tentang bakti. Tentang seorang anak yang tidak berhenti mencintai ibunya bahkan setelah kematian memisahkan mereka. Dari kisah itu, ritual tidak lagi sekadar perlindungan, tetapi menjadi ekspresi kasih.
Sementara dalam ajaran Khonghucu, penghormatan kepada leluhur adalah dasar dari kehidupan sosial. Ia bukan sekadar kewajiban spiritual, tetapi juga etika. Cara manusia mengingat masa lalu menentukan bagaimana ia hidup hari ini.
Tiga arus ini bertemu. Tidak selalu dengan kesepakatan, tetapi dengan kebutuhan yang sama: memahami kematian tanpa sepenuhnya menguasainya.
Ketika tradisi itu sampai di Nusantara, ia tidak datang sebagai sesuatu yang utuh. Ia berubah, seperti air yang mengikuti bentuk wadahnya. Di kota-kota pelabuhan seperti Semarang, tempat berbagai budaya bertemu, perubahan itu menjadi sesuatu yang tak terhindarkan.
Di masa lalu, setelah doa selesai, makanan persembahan tidak langsung dibagikan. Ia diperebutkan.
Orang-orang bergerak cepat, tangan saling mendahului, suara menjadi riuh. Tidak ada aturan yang jelas. Hanya keyakinan sederhana: bahwa makanan itu telah diberkati, dan siapa yang mendapatkannya akan memperoleh keberuntungan.
Dari situlah istilah sembahyang rebutan lahir.
Sekilas, ia tampak seperti kekacauan yang dilegalkan. Tetapi jika diperhatikan lebih dalam, ada sesuatu yang lebih kompleks. Rebutan itu bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang harapan. Tentang keinginan untuk mendapatkan bagian dari sesuatu yang dianggap membawa berkah.
Namun waktu, seperti biasa, mengubah cara manusia memahami sesuatu.
Di tempat seperti Boen Hian Tong, praktik rebutan itu perlahan ditinggalkan. Makanan tidak lagi diperebutkan, melainkan dibagikan. Ada antrean, ada keteraturan, ada kesadaran baru bahwa berkah tidak harus datang melalui kompetisi.
Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Ia lahir dari pengalaman panjang—termasuk pengalaman sebagai kelompok yang pernah berada di posisi rentan.
Pasca Kerusuhan Mei 1998, banyak hal berubah dalam kehidupan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Identitas yang sebelumnya ditekan, perlahan menemukan ruang untuk tampil kembali. Tetapi bersama dengan itu, muncul juga kebutuhan untuk membangun ulang relasi dengan masyarakat luas.
Dalam konteks itulah, King Ho Ping menemukan makna baru.
Ia tidak lagi sekadar ritual internal komunitas. Ia menjadi ruang terbuka.
Di Gang Pinggir, perubahan itu terasa jelas.
Ritual dimulai dengan penghormatan kepada Tian—langit, sumber kehidupan. Setelah itu, doa-doa dipimpin oleh pemuka agama Khonghucu. Namun yang membuat suasana menjadi berbeda adalah apa yang terjadi setelahnya.
Tokoh-tokoh dari berbagai agama berdiri bersama.
Ada yang melantunkan paritta. Ada yang membaca doa dalam bahasa Arab. Ada yang berbicara tentang kasih dan rumah Bapa di surga. Ada pula yang menyanyikan kidung Jawa kuno. Semua berbeda, tetapi tidak saling meniadakan.
Dalam momen itu, King Ho Ping berhenti menjadi milik satu kelompok. Ia menjadi ruang bersama.
Barangkali inilah bentuk paling konkret dari sesuatu yang sering disebut sebagai toleransi. Bukan sekadar menerima perbedaan, tetapi memberi ruang bagi perbedaan itu untuk hadir tanpa harus diseragamkan.
Dan mungkin, di sinilah letak kekuatan ritual ini: ia tidak memaksa kesatuan, tetapi merawat kebersamaan.
Di sudut halaman, sebuah replika kapal kecil disiapkan. Di dalamnya ada kertas uang, papan arwah, dan simbol-simbol perjalanan. Kapal itu bukan hiasan. Ia adalah metafora.
Di masa lalu, laut adalah jalur penghubung antara dunia yang dikenal dan yang asing. Kini, dalam ritual ini, api mengambil peran itu.
Ketika kapal dibakar, api menjilat perlahan. Tidak ada teriakan. Tidak ada kegaduhan. Hanya tatapan yang mengikuti perubahan bentuk—dari benda menjadi abu, dari yang terlihat menjadi yang tak kasatmata.
Api, dalam konteks ini, bukan penghancur. Ia adalah pengantar.
Ia membawa sesuatu yang tidak bisa dibawa oleh tangan manusia.
Sementara itu, di meja panjang, makanan mulai dibagikan. Tidak ada lagi rebutan. Orang-orang menunggu giliran. Sebagian membawa pulang untuk keluarga, sebagian lagi langsung dimakan di tempat.
Transformasi dari “rebutan” menjadi “berbagi” mungkin terdengar sederhana. Tetapi ia mencerminkan perubahan cara pandang yang lebih besar.
Bahwa berkah tidak harus dimenangkan.
Bahwa ia bisa dibagikan.
Dan bahwa nilai dari sebuah ritual tidak terletak pada dramanya, tetapi pada dampaknya.
Seorang pemuka Khonghucu pernah merumuskan inti dari semua ini dalam tiga kata: bakti, teladan, dan berbagi.
Tiga kata yang, jika dipikirkan, bukan hanya relevan untuk ritual, tetapi juga untuk kehidupan sehari-hari.
Menjelang sore, ritual perlahan selesai. Asap dupa mulai menipis. Meja-meja dirapikan. Orang-orang kembali ke kehidupan masing-masing.
Namun sesuatu tetap tinggal.
Bukan benda, bukan suara, tetapi perasaan bahwa sesuatu telah ditunaikan.
Bahwa ingatan tidak dibiarkan menguap begitu saja.
Bahwa hubungan antara yang hidup dan yang telah tiada, meskipun tidak bisa dijelaskan sepenuhnya, tetap dijaga.
Di kota yang terus berubah, Gang Pinggir menjadi semacam penanda. Bahwa di tengah modernitas, masih ada ruang untuk berhenti sejenak dan melihat ke belakang.
Bukan untuk terjebak di masa lalu, tetapi untuk memahami dari mana kita datang.
Pada akhirnya, King Ho Ping bukan hanya tentang arwah.
Ia adalah tentang manusia.
Tentang bagaimana manusia menghadapi kematian tanpa kehilangan kemanusiaannya.
Tentang bagaimana ia mengingat tanpa terjebak dalam kesedihan.
Dan tentang bagaimana ia hidup—dengan kesadaran bahwa ia adalah bagian dari rantai panjang yang tidak dimulai darinya, dan tidak akan berakhir padanya.
Di bawah langit Jit Gwee, doa-doa itu terus berlayar.
Tidak untuk mencari siapa yang paling benar.
Tetapi untuk menjaga sesuatu yang lebih penting: bahwa di balik segala perbedaan, manusia selalu memiliki satu kebutuhan yang sama.Untuk mengingat.
Dan untuk diingat.
King Ho Ping mengingatkan: kita semua anak leluhur yang sama, pewaris cinta kasih yang tak lekang zaman. (*)




