SEMARANG — Festival mural yang digelar Hysteria Artlab menghadirkan warna baru dalam ruang seni publik. Mengusung tema “Aturan Awuren”, kegiatan ini dinilai peserta sebagai ajang yang tidak hanya unik, tetapi juga berani dalam mendorong kebebasan berekspresi.
Sejumlah peserta mengaku mendapatkan pengalaman berbeda dibandingkan kegiatan seni pada umumnya. Pendekatan visual yang ditampilkan dalam karya mural dinilai lebih eksploratif, bahkan cenderung keluar dari pakem yang biasa ditemui.
Azarine, salah satu peserta, mengatakan konsep yang dihadirkan terasa segar dan tidak terduga. Ia mencontohkan salah satu karya yang memadukan berbagai gaya visual dalam satu bidang gambar.
“Lucu banget, karena yang digambar itu justru truk kecil. Tapi dalam satu truk, art style-nya banyak banget. Ada bunga-bunga, ada juga yang nyerempet grafiti, terasa ‘ngerock’ banget,” ujarnya.
Menurut Azarine yang memiliki latar belakang desain komunikasi visual (DKV), festival ini membuka perspektif baru dalam berkarya. Ia menilai keberanian para seniman dalam mengolah gaya visual menjadi daya tarik utama.
“Aku yang dari DKV biasanya ilustrasinya kurang berani. Tapi di sini berani banget, dan itu keren,” katanya.
Pendapat serupa disampaikan Amalia, peserta dari LPM Hayam Wuruk FIB Undip. Ia mengaku datang secara sukarela karena tertarik dengan konsep festival yang dinilai selalu menghadirkan sesuatu yang baru.
“Konsepnya unik banget. Selalu baru dan fresh, jadi aku tertarik datang,” ujarnya.
Amalia menilai tema “Aturan Awuren” benar-benar terasa dalam keseluruhan acara. Kebebasan berekspresi yang diusung mampu diterjemahkan dengan baik oleh para seniman melalui karya-karya mural yang ditampilkan.
“Tema kebebasan berekspresi itu benar-benar kerasa. Jadi bukan cuma konsep, tapi memang bisa dirasakan langsung,” tambahnya.
Festival ini juga dinilai tidak hanya menyuguhkan pengalaman visual, tetapi turut menghadirkan keterlibatan emosional bagi pengunjung. Interaksi antara karya dan penikmatnya menciptakan ruang dialog yang terbuka di tengah ruang publik.
Kehadiran festival mural ini menunjukkan bahwa ruang publik dapat dimanfaatkan sebagai medium seni yang inklusif. Tidak hanya sebagai tempat memamerkan karya, tetapi juga menjadi wadah interaksi antara seniman, mahasiswa, dan masyarakat luas di Semarang.
Selain itu, pendekatan yang terbuka dan eksperimental dinilai relevan dengan kebutuhan generasi muda yang mencari ruang kebebasan dalam berekspresi. Festival ini memberikan alternatif ruang kreatif yang tidak kaku, sekaligus mendorong keberanian dalam berkarya.
Respons positif dari para peserta menjadi sinyal bahwa festival mural semacam ini memiliki potensi untuk terus berkembang. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan tidak hanya menjadi ajang pamer karya, tetapi juga ruang pertukaran gagasan dan inspirasi di antara pelaku seni dan masyarakat. (Christian Saputro)




