SEMARANG – Malam di Gedung Sobokartti tak sekadar sunyi yang dipenuhi bunyi gamelan. Ia menjadi ruang perjumpaan—antara masa lalu dan masa kini, antara tradisi dan generasi yang berusaha menjaganya tetap bernapas.
Di panggung sederhana namun sarat makna itu, Komunitas “Dari Kita Untuk Kita” (DKUK) kembali menggelar pagelaran wayang kulit, Senin (30/3/2026). Bukan sekadar pertunjukan rutin, melainkan sebuah ikhtiar sunyi anak-anak muda untuk merawat denyut budaya di tengah derasnya zaman yang kian bising.
Lakon Banjaran Sukrosono dipilih sebagai ruh pertunjukan. Kisah Sukrosono mengalir pelan, tentang seorang ksatria raksasa yang tak larut dalam kodratnya. Ia kuat, tetapi memilih lembut. Ia sakti, tetapi tunduk pada kebenaran. Dalam perjalanan hidupnya, Sukrosono menjadi cermin manusia—tentang pergulatan batin, tentang pilihan antara kuasa dan kebijaksanaan.
Di tangan tiga dalang muda—Ki M.M. Fiorello Falah Rahalian, Ki Fajar Adhsa Fransetya, dan Ki Dimas Satria Pamenang—kisah itu tidak hanya dituturkan, tetapi dihidupkan. Mereka adalah wajah masa depan pedalangan, yang dengan tekun merawat warisan sambil mencari suaranya sendiri.
Suasana kemudian mencair saat dalang tamu dr Febri hadir dalam sesi goro-goro. Tawa penonton pecah, namun di balik kelakar, terselip kritik sosial yang tetap relevan. Wayang, sekali lagi, membuktikan dirinya bukan sekadar hiburan, tetapi juga cermin kehidupan.
Mewakili panitia, Reski menyebut pagelaran ini sebagai ruang belajar bersama. “Dari kita, untuk kita,” menjadi napas gerakan—bahwa budaya tak harus menunggu, tetapi bisa dimulai dari kesadaran kecil yang dirawat bersama.
Sementara itu, Ketua Sobokartti, KRT Soetrisno Budoyodipuro, menegaskan bahwa keberlangsungan kegiatan ini menjadi bukti bahwa Sobokartti bukan sekadar bangunan tua, melainkan rumah budaya yang tetap hidup. Ia berharap generasi muda terus mengambil peran, bukan hanya menjaga, tetapi juga mengembangkan wayang agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Apresiasi juga datang dari Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah,
Padmasari Mestikajati,S.IP, M.Si.
Ia menyebut langkah anak muda ini sebagai sesuatu yang patut dijaga dan didukung.
“Ini luar biasa. Anak-anak muda masih memiliki kepedulian untuk melestarikan budaya adiluhung seperti wayang kulit,” ujarnya.
Lebih dari sekadar kata, dukungan itu diwujudkan dalam komitmen membantu pembiayaan pagelaran selama tiga bulan ke depan. Sebuah angin segar bagi komunitas yang selama ini bergerak dengan semangat gotong royong.
Pagelaran di Sanggar Seni Sobokartti, Jalan Dokter Cipto, Kebonagung, itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar tontonan. Ia adalah pernyataan: bahwa wayang kulit belum usai. Bahwa di tangan generasi muda, tradisi tidak hanya dikenang, tetapi dijalani.
Dan di antara bayang-bayang kelir yang bergerak pelan, ada keyakinan yang tumbuh—bahwa budaya akan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup, selama masih ada yang mau merawatnya. (*)




