Oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Sore itu, Minggu (19/4/2026), waktu seolah melambat di sebuah sudut kota. Di Klarisan Coffee and Eatery, aroma kopi tak lagi sekadar wangi yang lewat di hidung. Ia berubah menjadi medium—mengikat percakapan, menyatukan rasa, dan perlahan membuka ruang bagi sesuatu yang lebih dalam: kemanusiaan.
Pukul 14.00 WIB, ruang yang biasanya riuh oleh obrolan ringan bertransformasi menjadi panggung sunyi yang penuh makna.
Pameran lukisan bertajuk “BIRU”, yang digelar dalam rangka Hari Kesadaran Autisme Internasional 2026, menutup tirainya. Namun yang berakhir hanyalah pamerannya, bukan gaungnya. Sebab sore itu, sebuah kafe menjelma menjadi rumah—tempat di mana mereka yang kerap disisihkan justru berdiri di pusat perhatian.
Dipandu Aril dan Kak Api, acara dibuka sederhana, dengan doa yang dibacakan Refa. Namun kesederhanaan itu justru menghadirkan keheningan yang utuh—sejenis ruang batin tempat semua orang, tanpa kecuali, diundang hadir sepenuhnya.
Lalu, IMentor Asih naik ke depan. Dengan suara tenang, ia meruntuhkan batas antara “ruang publik” dan “rumah”. “Ini bukan sekadar galeri sementara,” katanya pelan, tetapi tegas.
“Ini adalah rumah—tempat setiap karya dihargai, setiap suara didengar.” Kata rumah melayang di udara, mengendap, lalu menjelma makna. Sebab bagi banyak sahabat difabel, dunia di luar sering terasa asing. Sore itu, Klarisan menjadi pelukan.
Perkenalan para pelukis menjadi titik awal keharuan. Nama-nama yang mungkin tak pernah tampil di panggung besar ibu kota, justru menemukan panggung paling jujur di sini—di antara cangkir kopi dan tatapan hangat. Mereka melukis bukan sekadar dengan tangan, tetapi dengan pengalaman hidup: luka, sunyi, dan harapan. Tepuk tangan yang pecah bukan basa-basi. Ia adalah pengakuan—bahwa mereka ada, dan mereka setara.
Menjelang sore, Melly Pangestu hadir membawa napas kolaborasi. Ia menolak anggapan bahwa inklusi harus terjadi di ruang eksklusif. “Kami bukan sekadar sponsor. Kami bagian dari keluarga yang percaya pada potensi tanpa batas,” ujarnya. Kalimatnya sederhana, tetapi mengandung satu hal penting: inklusi bukan konsep, melainkan tindakan.
Namun, inti dari sore itu tidak sepenuhnya berada pada sambutan. Ia bersemayam dalam kata-kata—dalam puisi.
Sebelum apa pun mencapai puncaknya, Difa Christina melangkah ke depan. Dengan sorot mata teduh, ia membacakan puisi berjudul “Roemah D, Rumah Kita, Rumah Cinta.” Suaranya jernih, mengalir tanpa beban, tetapi justru menekan perlahan ke dalam dada. Ia tidak hanya membacakan puisi—ia menghidupkannya.
Dalam bait-baitnya, Roemah D bukan sekadar tempat, melainkan ruang batin. Sebuah rumah yang dibangun bukan dari bata, tetapi dari penerimaan. Dari cinta yang tidak menilai. Dari pelukan yang tidak bertanya. Di sana, kata “cacat” kehilangan makna, digantikan oleh sesuatu yang lebih manusiawi: keutuhan.
Beberapa hadirin menunduk. Sebagian lain menatap kosong, mencoba menahan sesuatu yang tak bisa diberi nama. Puisi itu menjadi jembatan—menghubungkan yang memahami dan yang baru belajar mengerti.
Barulah setelah itu, Noviana Dibyantari, pendiri Roemah D, maju. Jika puisi Difa adalah pelukan, maka puisi Noviana adalah perjalanan. Ia membacakan “Dua Belas Tahun Menyulam Cahaya”, karya yang mengurai panjangnya jalan yang telah dilalui.
Dengan suara bergetar, ia mengingat hari-hari awal—ruang kecil, mimpi yang bahkan belum punya nama. Ia bicara tentang penolakan, tentang pintu yang tertutup, tentang dunia yang sering berkata: “ini bukan prioritas.” Ada jeda di sana, jeda yang terasa berat.
Namun dari jeda itu lahir kekuatan.
“Kami berjalan bersama—bukan untuk dikasihani, tetapi untuk diakui,” ucapnya. Tidak lantang, tetapi cukup untuk menembus kesadaran siapa pun yang mendengar.
Dua puisi itu—Difa dan Noviana—menjadi dua sisi dari satu napas: cinta dan perjuangan. Yang satu merangkul, yang lain menegakkan. Keduanya menyatu, menjadi jiwa dari “BIRU”.
Sore kembali bergerak. Ara mulai menggambar dalam live sketch, sementara Sheva merangkai diamond painting. Di latar, lagu “Biru” milik Vina Panduwinata mengalun pelan. Musik, visual, aroma kopi, dan sisa getar puisi berpadu menjadi satu pengalaman yang sulit diulang.
Ketika Iswar Aminuddin menutup acara, yang tersisa bukan sekadar formalitas. Ia menangkap sesuatu yang lebih dalam: bahwa ruang publik harus menjadi milik semua. Bahwa inklusi bukan wacana, melainkan keberanian membuka pintu.
Dan sore itu, sebuah pintu telah dibuka.
Pameran “BIRU” memang usai. Lukisan mungkin akan dipindahkan, lampu akan dipadamkan, kursi akan dirapikan. Namun sesuatu telah tertanam—diam-diam, tetapi kuat.
Bahwa martabat tidak pernah meminta izin untuk hadir. Ia hanya butuh ruang.
Dan di sudut kecil kota Semarang itu, ruang itu akhirnya ditemukan. Bukan di galeri besar, bukan di gedung megah, melainkan di sebuah kafe—tempat sederhana yang sore itu menjadi rumah.
Di luar, malam turun perlahan. Tetapi di dalam hati mereka yang sempat singgah, “biru” itu tidak pernah benar-benar padam. (*)




