SEMARANG — Rangkaian Europe on Screen 2026 (EOS) di Semarang tak hanya menghadirkan pemutaran film, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang penguatan ekosistem perfilman, khususnya bagi mahasiswa. Hal ini mengemuka dalam sesi diskusi pasca-pemutaran film Jokes & Cigarettes di Mini Theater Albertus, Kampus 1 Universitas Katolik Soegijapranata, Sabtu (18/4/2026).
Kegiatan yang merupakan bagian dari program Alliance Française ini dipandu oleh Louis Kefi dari Kofimilk dan berlangsung interaktif dengan melibatkan audiens. Salah satu isu yang mengemuka adalah peluang bagi komunitas film kampus untuk menembus festival.
Pertanyaan tersebut disampaikan Umar dari Kofimilk yang menyoroti minimnya akses distribusi karya mahasiswa.
“Bagaimana caranya agar komunitas film di kampus bisa ikut serta dalam festival semacam ini?” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Festival Co-Director EOS, Meninaputri Wismurti, menjelaskan bahwa langkah awal yang bisa ditempuh adalah aktif mendistribusikan karya ke festival film yang membuka jalur pendaftaran terbuka.
“Distribusi bisa dimulai dari festival-festival di Indonesia yang membuka submission. Tidak harus langsung ke tingkat internasional, bisa dimulai dari skala nasional,” jelasnya.
Ia menambahkan, selain distribusi, persoalan mendasar yang sering terabaikan adalah dokumentasi karya.
Menurutnya, pembuatan katalog film mahasiswa menjadi langkah penting untuk memperluas akses dan meningkatkan peluang kurasi.
“Hal yang masih jarang dilakukan adalah menyusun katalog film pendek mahasiswa. Dengan katalog, karya lebih mudah dikenali dan dipertimbangkan dalam proses seleksi festival,” ujarnya.
Putri juga mengingatkan bahwa setiap festival memiliki standar kurasi yang ketat. Karena itu, pembuat film perlu memperhatikan kualitas produksi serta kekuatan narasi agar mampu bersaing.
Dalam diskusi tersebut, ditegaskan pula bahwa EOS tidak hanya berfokus pada pemutaran film Eropa, tetapi juga berupaya mendorong perkembangan perfilman lokal. Salah satu inisiatif yang dihadirkan adalah program pitching film pendek yang membuka ruang bagi sineas muda untuk mengembangkan ide dan jejaring.
Forum diskusi ini menjadi bagian penting dari upaya EOS dalam membangun ekosistem perfilman yang inklusif dan berkelanjutan. Tidak sekadar menghadirkan tontonan, kegiatan ini diharapkan mampu membuka peluang kolaborasi serta memperluas akses distribusi bagi komunitas film, terutama di lingkungan kampus. (Christian Saputro/ril)




