YOGYAKARTA — Di tengah gempuran tuntutan sosial untuk selalu tampil rapi, produktif, dan stabil secara emosional, sebuah pameran seni di Yogyakarta justru berani merayakan hal sebaliknya: kekacauan. Bertajuk DIS/ORDER, pameran ini hadir bukan sekadar sebagai tontonan visual, melainkan sebagai ruang refleksi atas kelelahan mental (burnout) yang kerap disembunyikan di balik topeng “kewarasan” sosial.
Digagas oleh Celah Kecil, kolektif seni mahasiswa dari Program Studi Tata Kelola Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, DIS/ORDER merupakan manifestasi kegelisahan personal dan dinamika sosial yang sering terpinggirkan oleh narasi keteraturan.
Pameran yang dikuratori oleh Cerah Hati Natara dibuka Bambang Toko yang menekankan bahwa ketidakteraturan bukanlah gangguan semata, melainkan respons manusiawi terhadap sistem yang menuntut individu terus bergerak tanpa jeda.

“Ketidakteraturan sering diposisikan sebagai sesuatu yang harus segera dibereskan. Padahal, ia adalah bentuk respons yang wajar terhadap tekanan yang terus-menerus,” ujar Cerah Hati Natara.
Menyingkap Topeng “Fungsi Normal”
Melalui DIS/ORDER, Celah Kecil membongkar tekanan sosial yang memaksa individu untuk selalu tampak “baik-baik saja”. Dalam kehidupan modern, emosi seperti lelah, marah, dan cemas kerap ditekan demi memenuhi ekspektasi sosial. Pameran ini justru membuka ruang bagi emosi-emosi tersebut untuk hadir tanpa sensor.
Puluhan karya dari perupa lintas kota ditampilkan, menghadirkan ragam perspektif tentang ketidakteraturan. Para seniman yang terlibat antara lain Bob Sick, M. Salafi Handoyo (Ridho), Pangestu, Pratanda Fillahi, Hibatullah Sukma, Dirot Kadirah, Oddin, Ipang, Sulung Ardhana, Mohammad Iqbal, Rahma Jamil Setyotuhu, Dodok, Kus Hervida, Kus Hervica, Ratri Inayatul Basyarah, Ari Eko Budiyanto, Singgih Adhi Praseto, Rudy Vouller, Hananingsih Widhiasri, hingga Aldo Aprilian.
Melalui medium yang beragam—mulai dari instalasi, lukisan, hingga found object—karya-karya tersebut tidak berupaya merapikan kekacauan, melainkan membiarkannya hadir apa adanya: bocor, menumpuk, dan berbicara dengan bahasa visualnya sendiri.
Pendekatan ini sekaligus menggeser fungsi galeri dari ruang estetika yang steril menjadi ruang refleksi yang hidup. Pengunjung tidak hanya diajak melihat, tetapi juga merasakan ketidaknyamanan yang mungkin selama ini mereka tekan.
Seni sebagai Ruang Validasi
Berbeda dari pameran konvensional yang sering menawarkan keindahan sebagai pelarian, DIS/ORDER justru menawarkan validasi. Ia mengajak publik mempertanyakan ulang standar sosial yang menuntut kesempurnaan emosional.
“Alih-alih memberi solusi instan, kami ingin menghadirkan ruang pengakuan. Bahwa lelah itu nyata, dan cemas itu manusiawi,” ungkap perwakilan Celah Kecil.
Setiap karya dalam pameran ini menjadi fragmen dari narasi yang lebih besar—tentang manusia yang berusaha bertahan di tengah tekanan. Tidak ada penghakiman, yang ada justru penerimaan atas kerentanan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan.
Lebih dari Sekadar Pameran
Bagi Celah Kecil, DIS/ORDER bukan hanya peristiwa artistik, tetapi juga peristiwa kolektif. Berangkat dari semangat eksplorasi inklusif, kolektif ini menjadikan pengalaman personal sebagai pintu masuk untuk membaca ulang realitas sosial.
Dengan mengangkat isu kesehatan mental ke ruang publik, mereka berharap dapat membuka percakapan yang lebih luas tentang makna keberterimaan dalam kehidupan kontemporer.
DIS/ORDER resmi dibuka pada Rabu, 29 April 2026 dan berlangsung hingga 1 Mei 2026 di Sangkasa Gallery. Bagi siapa pun yang lelah berpura-pura kuat, pameran ini menawarkan satu hal sederhana: ruang untuk mengakui bahwa tidak apa-apa jika sedang tidak baik-baik saja.
(Christian Saputro)




