LAMPUNG — Di balik harmoni yang mengalun indah di panggung internasional, ada kerja panjang, disiplin, dan keteguhan yang tak selalu terlihat. Bagi Rayza Aldira, musik bukan sekadar rangkaian nada atau teknik vokal. Ia menjadikannya sebagai ruang perjuangan, sarana pembentukan karakter, sekaligus jembatan untuk mengangkat identitas Lampung ke pentas dunia.
Perjalanan Rayza bukan jalan lurus tanpa hambatan. Dari Lampung hingga Jakarta, dari panggung-panggung lokal hingga kompetisi internasional di Eropa, ia konsisten membangun ekosistem paduan suara daerah agar mampu berdiri sejajar dengan kelompok-kelompok terbaik dunia.
Ketertarikan Rayza pada dunia musik tumbuh sejak remaja. Melalui berbagai festival seni di Lampung, ia menempa disiplin artistik sekaligus memperdalam kecintaannya pada paduan suara. Setelah lulus SMA pada 2009, semangat itu berlanjut di Politeknik Negeri Lampung, tempat ia ikut menghidupkan Gita Merpati sebagai wadah kreativitas mahasiswa.
Langkah penting berikutnya datang pada 2011, saat ia mendirikan Allegria Choir. Gagasan itu sempat menjadi taruhan besar, namun sambutan masyarakat justru melampaui perkiraan. Audisi yang digelar di Dinas Pendidikan Provinsi Lampung diikuti sekitar 1.400 peserta.
Antusiasme tersebut menjadi penanda bahwa bakat dan minat generasi muda Lampung di bidang seni vokal sangat besar, selama tersedia ruang pembinaan yang tepat.
Lewat Allegria Choir, Rayza bersama timnya berhasil menembus kompetisi internasional dan meraih medali perak. Prestasi itu menjadi tonggak penting, sekaligus membuktikan bahwa kelompok paduan suara dari daerah pun mampu bersaing di level global.
Saat pandemi COVID-19 melumpuhkan banyak aktivitas seni pada 2020, Rayza justru mengambil langkah baru. Ia mendirikan Betik Music Academy di Lampung, yang kemudian melahirkan Lampung Choral Academy, Betik Youth Singers, dan Betik Children’s Choir. Dari tangan dingin pembinaan itu, lahir prestasi yang membanggakan: empat medali emas dalam kompetisi paduan suara internasional.
Salah satu nama yang tumbuh dari proses pembinaan tersebut adalah Putri Ariani.
Sebelum dikenal luas sebagai finalis America’s Got Talent, Putri merupakan bagian dari Betik Youth Singers binaan Rayza. Keberhasilan Putri menjadi bukti bahwa talenta dari daerah dapat menembus panggung dunia apabila mendapat ruang tumbuh, pendampingan yang tepat, dan dorongan kepercayaan diri.
“Putri adalah bukti bahwa talenta dari daerah, jika diberi ruang dan bimbingan yang tepat, bisa bersinar di mana saja,” ujar Rayza dalam satu kesempatan wawancara.
Namun, perjalanan Rayza tidak selalu mudah. Tahun 2023 menjadi masa berat ketika berbagai tantangan eksternal membuat aktivitas komunitas seni di Lampung sempat terhenti. Dari situ, Rayza memilih untuk memperluas langkahnya ke Jakarta dengan mendirikan Jakarta Choral Academy sebagai induk program dari Betik Jawara Singers.
Keputusan itu terbukti tepat. Di bawah binaan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Betik Jawara Singers meraih medali emas pertama pada ajang kompetisi internasional pada 2025. Capaian ini menandai babak baru perjalanan Rayza, sekaligus menunjukkan bahwa metode pembinaannya dapat berkembang dan berhasil di ekosistem yang berbeda.
Kiprah Rayza di tingkat global juga makin diakui. Ia pernah dipercaya menjadi juri di JSFest Finland pada 2023 dan dikabarkan akan kembali terlibat dalam edisi 2028. Di saat yang sama, ia terus mengasah kapasitas diri dengan bergabung bersama Batavia Madrigal Singers, mengikuti konser Jakarta Concert Orchestra di bawah arahan Avip Priatna, serta mendalami teknik konduktor bersama Tommy Prabowo.
Meski aktif di Jakarta, hati Rayza tetap tertambat pada Lampung. Ia berharap daerah asalnya kembali membuka ruang yang lebih luas bagi komunitas seni untuk tumbuh dan berkembang secara sehat.
“Saya berharap pemerintah provinsi, kota, maupun kabupaten di Lampung dapat membuka jalan kolaborasi bagi komunitas paduan suara. Ekosistem seni daerah perlu dikembangkan secara sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Bagi Rayza, seni bukan sekadar pertunjukan, melainkan investasi jangka panjang. Musik, katanya, membangun karakter, memperkenalkan budaya, dan memberi ruang positif bagi generasi muda. Ia percaya Lampung menyimpan potensi besar di bidang musik jika mendapat dukungan yang serius dan berkelanjutan.
Perjalanan Rayza Aldira dari Lampung ke Jakarta, lalu menembus panggung dunia, menjadi bukti bahwa karya besar tak harus lahir dari pusat kekuasaan atau kota metropolitan. Dari daerah, karya itu bisa tumbuh melalui dedikasi, dirawat oleh konsistensi, dan bersinar lewat keyakinan yang tak pernah padam. Seperti paduan suara, keindahan hadir ketika setiap suara, sekecil apa pun, dinyanyikan dengan hati dan tujuan yang sama. (*)




