Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis – Pengamat Sejarah dan Budaya tinggal di Semarang
Kabut turun pelan di lereng Merbabu ketika suara gamelan mulai terdengar dari sebuah rumah kayu di Dusun Thekelan. Bunyinya lirih, seperti mengetuk ingatan lama yang disimpan oleh gunung. Di halaman yang tak terlalu luas, beberapa anak muda duduk melingkar. Seorang bapak menata kostum Topeng Ireng, sementara ibu-ibu di pawon sibuk mengiris bawang dan menjerang air dalam dandang besar. Tak ada gedung kesenian. Tak ada panggung megah. Namun malam itu, desa bekerja layaknya sebuah teater raksasa.
Di Thekelan, seni tidak lahir dari auditorium. Ia tumbuh dari tanah basah, dari halaman rumah, dari surau, dan dari jalan setapak yang menghubungkan ladang dengan mata air. Tari Prajuritan, Karawitan, Ketoprak, Gedruk, hingga Wayang Kulit hidup bukan sekadar sebagai tontonan, melainkan sebagai bagian dari cara warga bercakap dengan alam dan leluhur.
Bagi Anisa dan Re, Thekelan adalah potret tentang bagaimana sebuah komunitas mempertahankan denyut tradisi di tengah perubahan zaman yang bergerak nyaris tanpa jeda. Mereka datang bukan untuk sekadar mencatat pertunjukan, melainkan untuk membaca cara sebuah dusun mengelola hidup melalui seni.
Dusun itu berada di lereng Gunung Merbabu. Udara dingin memaksa orang-orang untuk berkumpul lebih dekat. Namun, justru di situlah ruang-ruang publik menemukan maknanya yang paling purba: tempat manusia saling menjaga.
Halaman rumah warga berubah menjadi arena latihan. Pelataran tempat ibadah menjadi ruang perjumpaan lintas iman. Ketika hari raya tiba, warga saling berjabat tangan di depan rumah ibadah, menjadikan tradisi sebagai bahasa toleransi yang tak membutuhkan pengeras suara. Di Thekelan, ruang publik tidak dibangun oleh beton; ia dibangun oleh kebiasaan.
Dan pawon menjadi jantungnya.
Dalam keseharian, pawon hanyalah ruang kecil dengan tungku dan aroma kayu bakar. Namun, ketika pertunjukan digelar atau musim pendakian tiba, ruang itu bertransformasi menjadi pusat logistik desa. Perempuan-perempuan memasak dalam jumlah besar. Anak-anak mondar-mandir membawa nampan. Lelaki mengangkat kursi dan perangkat gamelan. Semua bergerak tanpa komando yang kaku. Tak ada proposal tebal. Tak ada rapat berjam-jam. Yang bekerja adalah ingatan kolektif.
Namun, dunia di luar dusun bergerak dengan cara berbeda.
Anak-anak muda mulai pergi ke kota. Pekerjaan di sektor informal dianggap lebih menjanjikan ketimbang menjadi penabuh gamelan atau pemain ketoprak. Ruang-ruang publik perlahan berubah fungsi. Jalan diperlebar, bangunan tumbuh, dan waktu menjadi semakin mahal untuk sekadar berkumpul dan berlatih. Di titik itulah seni tradisi menghadapi ancaman yang paling sunyi: kehilangan generasi.
Anisa dan Re melihat persoalan ini bukan semata sebagai krisis budaya, melainkan problem tata kelola. Selama ini, komunitas seni tradisi sering bertahan dengan tenaga sendiri. Pemerintah hadir melalui anggaran yang administratif. Dukungan swasta datang sesekali, namun sering kali berhenti sebatas seremoni. Akademisi melakukan penelitian, tetapi tak selalu tinggal cukup lama untuk membangun sistem yang berkelanjutan. Kolaborasi berjalan, namun terputus-putus.
Padahal, seni tradisi tidak hidup dari tepuk tangan semata. Ia membutuhkan ruang, regenerasi, pendanaan, dokumentasi, hingga strategi promosi yang mampu menjangkau generasi baru tanpa kehilangan akar budayanya.
Karena itu, penelitian mereka mencoba membaca ulang kemungkinan sebuah model kolaborasi lintas sektor—antara komunitas, pemerintah, akademisi, swasta, dan masyarakat—untuk membangun sistem pendukung yang lebih kokoh bagi seni tradisi di ruang publik. Bukan agar tradisi menjadi museum, tetapi agar ia tetap bernapas.
Di Thekelan, mereka menemukan bahwa tradisi sebenarnya tidak anti terhadap perubahan. Warga mampu beradaptasi dengan sangat lentur. Mereka mengubah halaman menjadi panggung, pawon menjadi dapur komunal, dan ritual menjadi ruang sosial yang menyatukan warga lintas generasi. Tradisi bertahan justru karena ia bergerak.
Maka, yang paling penting bukan sekadar menjaga bentuk keseniannya, melainkan menjaga ekosistem yang memungkinkan kesenian itu terus hidup: hubungan antarwarga, gotong royong, ruang publik, dan rasa memiliki terhadap kampung sendiri.
Sebab, di banyak kota hari ini, manusia mulai kehilangan ruang untuk saling mengenal. Ruang publik dipenuhi transaksi, percakapan digantikan oleh layar, dan komunitas tercerai-berai oleh ritme modernitas yang bergerak terlalu cepat.
Tapi di lereng Merbabu itu, warga masih percaya bahwa bunyi gamelan mampu memanggil orang pulang.
Dan mungkin, dari dusun kecil bernama Thekelan, kita sedang diingatkan bahwa kebudayaan tidak selalu diselamatkan oleh gedung megah atau festival besar. Kadang, ia hanya dijaga oleh pawon yang tetap menyala sepanjang malam. (*)




