SEMARANG — Ruang pamer Tan Artspace, Jalan Papandayan 11, Semarang, Selasa (17/2/2026) sore dipenuhi perupa, penyair, dan pegiat seni lintas generasi. Mereka menghadiri Artist Talk pameran tunggal “ALIR” karya Afnan Malay, yang digelar dalam rangkaian pameran 8–20 Februari 2026.
Diskusi yang dimulai pukul 16.00 WIB itu menghadirkan kurator Rain Rosidi dan dipandu penyair Beno Siang Pamungkas. Forum tersebut menjadi ruang pembacaan bersama atas proses kreatif Afnan—membuka percakapan antara lukisan, pengalaman tubuh, dan tafsir kata.
Sejumlah seniman Semarang turut hadir dan berdialog, di antaranya Eko Tunas, Giovanni Susanto, Kelana Siwi, Iwan Hasto, Agus Budi Santoso, Salahuddin Mbuh, Hokage, Mung Paryono, Soleh Ibnu, Luthfi, Andri Jacky Chen, Sri Wahyu Wardhani, serta Lelie Siang Pamungkas.
Dari Yogyakarta ikut nimbrung dalam diskusi pelukis Eko Rahmy. Kehadiran mereka memperkaya dialog yang berlangsung hangat dan terbuka.
Afnan selama ini dikenal luas sebagai penyair dengan latar gerakan mahasiswa 1990-an. Ia pernah menempuh pendidikan di SMSR dan melanjutkan studi di ISI Yogyakarta. Melalui “ALIR”, ia kembali menegaskan pijakan awalnya di seni rupa.
Jika dalam puisi ia kerap memulai dari judul atau gagasan tertentu, dalam melukis ia membiarkan proses berjalan tanpa dikunci tujuan. Warna ditorehkan lebih dahulu, garis bergerak mengikuti intuisi, dan tekstur tumbuh sebagai jejak tubuh. “Makna datang belakangan,” demikian benang merah yang mengemuka.
Rain Rosidi melihat “ALIR” sebagai sikap artistik—membiarkan proses lebih dominan daripada hasil akhir. Sapuan kuas besar, lapisan cat tebal, serta keberanian menerima ketidakterdugaan menjadi karakter kuat karya-karya yang dipamerkan. Ia juga menyinggung perbedaan watak karya sastra dan seni rupa. Dalam sastra, kata-kata kerap melekat pada pengarangnya. Sementara dalam seni rupa, ketika karya visual telah dipajang, ia berada di luar otoritas pekarya dan hidup dalam tafsir publik.
Rain yang kesehariannya mengajar di ISI Yogyakarta turut menyoroti tantangan seni rupa di era kecerdasan artifisial (AI). “Pelukis di era AI, apakah masih mampu mempertahankan jejak kemanusiaannya?” ujarnya. Karena itu, menurutnya, forum diskusi dalam pameran menjadi penting sebagai ruang penyemaian nilai dan pertukaran gagasan. “Pameran tidak sekadar pajang karya, tetapi juga proses edukasi dan apresiasi,” imbuhnya.
Beberapa karya yang disorot antara lain “Pelukan Ibu” dan “Wolf”. Pada “Pelukan Ibu”, pengalaman afektif hadir melalui pertemuan warna dan ruang, bukan lewat adegan figuratif. Bidang putih ambigu berhadapan dengan dominasi cokelat yang membumi, sementara garis hijau diagonal menjadi aksen emosional. Sebaliknya, “Wolf” tampil lebih liar dan dinamis, dengan ledakan warna dan garis meliuk yang merekam energi naluriah—bukan sosok, melainkan suasana batin.
Dalam sesi tanya jawab, Afnan mengisahkan proses kreatifnya hingga terwujud pameran tunggal ini. Ia mengaku mulai kembali intens melukis saat merasa jenuh dengan dunia perpolitikan, sembari menunggu realisasi dana kegiatan kepenyairan. Rencana awalnya adalah pameran bersama, namun kemudian berkembang menjadi pameran tunggal di Semarang. “Semua mengalir saja, seperti judul awal yang saya rencanakan. Di tangan Mas Rain, pameran ini menjadi bertajuk ‘ALIR’,” ujarnya.
Bagi Afnan, melukis adalah “dunia pamer”—dunia visual yang menemukan bentuknya sendiri. Ia menyebut dirinya sebagai “pelukis yang tertunda”, yang kini memberi ruang lebih luas bagi kanvas untuk berbicara. Artist Talk sore itu pun menjadi lebih dari sekadar penjelasan karya. Di ruang yang akrab, “ALIR” menemukan maknanya yang paling hidup: mengalir dalam percakapan, tafsir, dan kebersamaan komunitas seni Semarang. (Christian Saputro)




