SEMARANG — Suasana kebersamaan mewarnai kegiatan buka puasa bersama yang digelar komunitas seni Forum Senin Legi sebelum pertunjukan lakon Megathrust 2065: Pusara Segara di pelataran Pura Agung Giri Natha, Selasa (10/3/2026). Kegiatan ini menjadi pembuka bagi peristiwa seni bertajuk Simakan Lakon yang mempertemukan bunyi, kata, dan refleksi budaya dalam format experimental sound dan pembacaan naskah secara langsung.
Dalam pengantarnya, penulis dan sutradara lakon, Nano Suharno, menyampaikan bahwa pertemuan tersebut menjadi momen untuk kembali merasakan posisi teater dalam ruang yang lebih terbuka dan reflektif. Menurutnya, suasana pelataran pura memberikan pengalaman berbeda karena pertunjukan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menghadirkan ruang spiritual bagi para penonton untuk bersama-sama menyimak dan merasakan makna cerita.
Nano menjelaskan bahwa lakon Megathrust 2065: Pusara Segara merupakan bagian dari naskah yang ia tulis melalui proses kreatif yang cukup panjang. Naskah tersebut memiliki total sekitar 80 halaman yang berisi berbagai fragmen cerita tentang masa depan, ingatan manusia, serta kemungkinan-kemungkinan yang lahir dari imajinasi teater.
Ia juga menuturkan bahwa format simakan lakon yang dihadirkan tidak menempatkan penonton hanya sebagai penyaksi. Para peserta yang hadir bahkan diberi kesempatan untuk ikut membacakan beberapa bagian naskah secara sukarela. Dengan cara itu, perjumpaan antara pembaca, penonton, dan ruang pertunjukan diharapkan mampu menghadirkan pengalaman teater yang lebih intim dan partisipatif.
Sebelum pertunjukan dimulai, acara juga diisi dengan tausiyah yang disampaikan oleh Khotibul Umam. Dalam refleksinya, ia mengingatkan bahwa kesadaran manusia terhadap lingkungan sering kali baru muncul ketika persoalan tersebut benar-benar menyentuh kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, isu tentang kebersihan dan kelestarian alam sering terdengar seperti nasihat yang berulang. Namun secara psikologis manusia baru benar-benar merasakan pentingnya suatu persoalan ketika dampaknya dirasakan secara langsung, misalnya saat banjir datang atau ketika ruang hidup menjadi tidak nyaman.
Khotibul Umam juga menekankan bahwa kehidupan sosial, budaya, dan kesenian tidak pernah terlepas dari realitas ruang hidup manusia. Ia menyebut bahwa teater pada dasarnya tumbuh dari kehidupan sehari-hari, dari berbagai peristiwa yang terjadi di ruang publik seperti jalanan, pasar, hingga terminal.
Melalui refleksi tersebut, ia mengajak masyarakat untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan bersama. Menurutnya, menjaga ruang hidup merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat, bukan hanya pemerintah atau kelompok tertentu.
Kegiatan tersebut turut mendapat sambutan dari Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang, I Ketut Puja. Ia menekankan bahwa seni dan budaya memiliki peran penting dalam menjaga harmoni kehidupan, sejalan dengan ajaran Hindu yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.
Menurutnya, nilai tersebut tercermin dalam konsep kesucian ruang seperti Utama Mandala, Madya Mandala, dan Nista Mandala, yang mengajarkan bahwa setiap ruang kehidupan memiliki makna spiritual dan tanggung jawab untuk dijaga keharmonisannya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan generasi muda dalam kegiatan seni dan budaya. Kreativitas anak-anak muda, menurutnya, dapat menjadi energi baru dalam menghidupkan ruang kebudayaan sekaligus memperkuat semangat toleransi dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan seperti ini, ia berharap seni, pendidikan, dan kebudayaan dapat terus berkembang sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang harmonis, berbudaya, serta memiliki kesadaran spiritual yang kuat. (Christian Saputro)




