Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis Pemerhati Budaya
Di sebuah pasar pagi yang belum sepenuhnya terjaga, aroma minyak panas dan gula yang meleleh menguar pelan. Di atas tampah bambu, berderet bulatan-bulatan keemasan berbalut wijen. Sederhana. Tidak mencolok. Namun siapa pun yang pernah menggigitnya tahu: di balik renyah kulitnya, ada manis yang diam-diam tinggal di dalam.
Kita menyebutnya onde-onde.
Ia hadir tanpa banyak pengumuman. Di pasar tradisional, di hajatan kampung, di meja perayaan Imlek, bahkan di antara deret takjil saat Ramadan. Ia tidak memilih ruang. Ia tidak membatasi diri pada satu identitas. Seperti Indonesia itu sendiri, onde-onde hidup dari pertemuan.
Jauh sebelum ia mengendap di loyang pasar Jawa, kue bulat berbalut wijen ini telah dikenal di daratan Tiongkok dengan nama Jian Dui (煎堆). Dalam dialek Kanton ia disebut zin deui. Catatan sejarah menyebut keberadaannya sejak masa Dinasti Tang, berabad-abad silam, ketika makanan dari tepung ketan dan wijen menjadi bagian dari kebudayaan kuliner istana maupun rakyat.
Di sana, ia bukan sekadar kudapan. Ia simbol.
Bentuknya yang bulat melambangkan kesempurnaan dan keutuhan. Dalam kosmologi Tiongkok, lingkaran adalah tanda harmoni: tidak ada sudut yang saling menikam, tidak ada ujung yang terputus. Ia mengingatkan manusia pada siklus hidup—tentang musim yang berganti, tentang bulan yang kembali purnama.
Wijen yang menyelimuti tubuhnya dipercaya sebagai perlambang kelimpahan. Saat digoreng, bola ketan itu mengembang, membesar, seolah-olah rezeki ikut bertumbuh bersama panas minyak. Orang-orang memakannya dengan harapan: semoga tahun yang datang dipenuhi keberuntungan, semoga usaha mengembang seperti adonan yang merekah.
Namun sejarah selalu bergerak. Ia tidak tinggal di satu pelabuhan.
Ketika para pedagang berlayar menyusuri Laut Cina Selatan, ketika kapal-kapal kayu menembus angin musim menuju pelabuhan-pelabuhan Nusantara, mereka tidak hanya membawa kain sutra atau keramik. Mereka membawa rasa. Mereka membawa resep. Mereka membawa kebiasaan yang kelak berubah menjadi tradisi.
Di antara gelombang itulah jian dui tiba di Asia Tenggara.
Di tanah Nusantara, ia tidak tinggal sebagai tamu. Ia beradaptasi.
Pasta kacang merah yang lazim di Tiongkok pelan-pelan diganti dengan kacang hijau, bahan yang lebih akrab dengan lidah lokal. Tingkat kemanisan disesuaikan. Ukurannya kadang membesar, kadang mengecil. Namun satu hal tetap dipertahankan: bentuk bulat dan selimut wijen yang menempel rapat.
Di sinilah akulturasi bekerja dengan cara yang paling lembut.
Ia tidak merusak bentuk dasar. Ia tidak memaksakan identitas baru secara kasar. Ia hanya menggeser sedikit rasa, menambahkan bumbu setempat, lalu membiarkan waktu menyatukan semuanya.
Onde-onde menjadi milik pasar Jawa tanpa berhenti menjadi bagian dari perayaan Tionghoa. Ia hadir di Cap Go Meh, tetapi juga di syukuran kelahiran. Ia disajikan dalam pesta pernikahan Tionghoa, tetapi juga dalam kenduri kampung. Ia bahkan berdampingan dengan kurma dan kolak di bulan puasa.
Tak ada yang merasa asing.
Bentuk bulat onde-onde seperti cermin kecil bagi Indonesia. Negeri ini dibangun bukan dari satu garis lurus, melainkan dari lingkaran-lingkaran yang saling bersinggungan. Arab, India, Tiongkok, Eropa, pribumi—semuanya pernah datang, menetap, dan meninggalkan jejak.
Akulturasi bukan berarti kehilangan diri. Ia adalah kemampuan untuk menerima tanpa melebur habis.
Lihatlah onde-onde. Dari luar, ia tampak seragam: wijen menutupi seluruh permukaan, tak menyisakan celah. Namun di dalamnya tersembunyi manis kacang hijau yang lembut. Pesan etisnya terasa halus tetapi dalam: nilai sejati bukan pada kulit luar, melainkan pada isi.
Bukankah itu pelajaran yang terus kita ulang dalam kehidupan sosial?
Sering kali manusia terjebak pada tampilan. Warna kulit, nama keluarga, agama, bahasa—semuanya menjadi label yang mudah dibaca. Padahal yang menentukan rasa adalah isi di dalamnya.
Onde-onde mengajarkan bahwa harmoni tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan membungkus perbedaan dalam satu keutuhan.
Di sebuah perayaan Cap Go Meh di kota pesisir seperti Semarang, onde-onde kerap disajikan berdampingan dengan lontong opor. Di satu meja, aroma santan Jawa bercampur dengan wangi wijen yang digoreng. Orang-orang duduk bersama, berbagi cerita tentang leluhur dan masa depan.
Di saat-saat seperti itu, sulit membedakan mana yang “asli” dan mana yang “datang kemudian”. Semua telah menjadi bagian dari ingatan kolektif.
Akulturasi bekerja bukan dengan suara keras, melainkan dengan kebiasaan yang diulang-ulang. Ia hidup di dapur, bukan di podium. Ia bertahan di pasar, bukan di ruang debat.
Onde-onde adalah saksi dari kerja sunyi itu.
Ada filosofi lain yang tersembunyi dalam cara ia dimasak. Adonan tepung ketan dibentuk bulat, diisi, lalu digulingkan di atas wijen hingga seluruh permukaannya tertutup. Setelah itu ia digoreng dalam minyak panas.
Minyak yang mendidih bukan musuh. Ia justru syarat agar onde-onde matang dan mengembang. Tanpa panas, ia akan tetap keras dan mentah.
Begitu pula akulturasi.
Pertemuan budaya tidak selalu berjalan tanpa gesekan. Ada masa-masa panas dalam sejarah: prasangka, diskriminasi, bahkan kekerasan. Namun dari ujian itulah lahir bentuk baru yang lebih matang.
Wijen yang menempel rapat mengajarkan tentang keteguhan. Meski digoreng dalam minyak mendidih, ia tidak tercerai-berai. Ia tetap menyatu pada kulitnya.
Barangkali itulah metafora paling sederhana tentang ketahanan budaya: bertahan tanpa mengeras, berubah tanpa kehilangan inti.
Di banyak keluarga Indonesia, onde-onde tidak lagi dipandang sebagai “kue Tionghoa”. Ia adalah bagian dari jajanan pasar. Anak-anak memakannya tanpa memikirkan sejarahnya. Mereka hanya tahu rasanya enak, renyah di luar, lembut di dalam.
Dan mungkin di situlah keberhasilan akulturasi mencapai puncaknya: ketika identitas tidak lagi diperdebatkan, melainkan dinikmati bersama.
Namun melupakan asal-usul juga bukan pilihan bijak. Mengingat muasal bukan untuk membangun jarak, melainkan untuk memahami betapa panjang perjalanan yang telah ditempuh sebuah rasa sebelum sampai di tangan kita.
Setiap gigitan onde-onde sesungguhnya adalah gigitan pada sejarah migrasi, perdagangan, dan perjumpaan antarmanusia.
Di tengah dunia yang mudah terpolarisasi, di mana perbedaan sering kali dibesar-besarkan hingga menjadi jurang, mungkin kita perlu belajar dari kue kecil ini.
Ia bulat—tanpa sudut tajam yang melukai.
Ia manis—tanpa berlebihan.
Ia sederhana—tanpa kehilangan makna.
Onde-onde tidak berteriak tentang identitasnya. Ia tidak menuntut pengakuan. Ia hanya hadir, ditawarkan, lalu disantap bersama.
Dan di antara percakapan ringan di pasar, di sela-sela tawa dalam hajatan, atau di momen hening setelah doa perayaan, ia menjalankan fungsinya yang paling sunyi: menyatukan.
Indonesia dibangun dari banyak rasa. Dari rendang hingga bakpia, dari nasi kebuli hingga pempek, dari gudeg hingga lontong cap go meh. Masing-masing membawa cerita pertemuan. Masing-masing menyimpan jejak pelayaran dan persilangan budaya.
Onde-onde adalah salah satu bab kecil dalam buku besar itu.
Ia mengajarkan bahwa menjadi Indonesia bukan berarti meniadakan akar, melainkan merawatnya sambil membuka diri pada tanah tempat ia tumbuh.
Bulatnya menyatukan.
Wijennya melimpah seperti harapan.
Isinya mengingatkan bahwa yang paling berharga sering kali tersembunyi di dalam.
Mungkin, ketika kita menggigit onde-onde berikutnya, kita tak hanya merasakan manis kacang hijau. Kita merasakan sejarah yang mengembang. Kita merasakan pertemuan yang berhasil menemukan harmoni.
Dan dalam kesederhanaannya, kue kecil itu berbisik:
bahwa perbedaan tidak harus dipertentangkan.
Ia bisa digoreng bersama waktu, dibalut kesabaran, lalu disajikan sebagai rasa yang kita nikmati bersama.
Seperti onde-onde.
Seperti Indonesia. (*)




