Oleh Christian Saputro | Sumatera Post
SEMARANG — Malam di Gang Gambiran, kawasan Pecinan, berubah menjadi lautan cahaya. Lampion-lampion merah bergoyang pelan diterpa angin, memantulkan warna hangat di wajah-wajah yang duduk rapat di sepanjang meja kayu yang membentang. Aroma kebab kambing dan rempah Xinjiang menyatu dengan wangi kue moho yang baru diangkat dari kukusan. Di sanalah Pasar Imlek Semawis (PIS) 2026 resmi dibuka, Jumat (13/2/2026), lewat tradisi makan bersama “Tuk Panjang” yang sarat makna persaudaraan.
Tak ada jarak antara pejabat dan warga. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti duduk berdampingan dengan tokoh masyarakat, pelaku usaha, hingga perwakilan komunitas. Hadir pula anggota DPRD Kota Semarang Mikhael dan Melly Pangestu, Ketua GIPI Jawa Tengah Kukrit Suryo Wicaksono, perwakilan KADIN dan PERPIT Jateng, serta Ketua Kopi Semawis Harjanto Halim bersama jajaran panitia.
Mengusung tema “Kuda Datang, Sukses Menjelma”, perayaan Imlek 2577 ini tidak sekadar seremoni budaya atau agenda wisata tahunan. Ia menjadi penanda bahwa akulturasi di Kota Atlas tumbuh alami dan terus dirawat.
Dalam sambutannya, Agustina menekankan bahwa keberagaman di Semarang bukan slogan kosong. Ia menyebut PIS sebagai ruang perjumpaan yang mempertemukan pemerintah, pengusaha, seniman, tokoh agama, dan masyarakat dari beragam latar belakang.
“Pasar Imlek Semawis ini bukan hanya festival. Ini adalah ruang temu, ruang dialog, dan ruang ekonomi. Di sinilah kita melihat toleransi bekerja, bukan sekadar dibicarakan,” ujar Agustina.
Ia kembali mengangkat filosofi Warak Ngendog sebagai simbol percampuran budaya Jawa, Tionghoa, Melayu, dan Arab yang membentuk identitas Semarang.
“Kalau kita congkrah, kita tidak bisa bekerja bersama. Kalau gelut, ora iso medug endoge. Artinya, tanpa harmoni, tidak ada hasil. Tanpa persatuan, tidak ada kesejahteraan,” tegasnya.
Menurutnya, stabilitas sosial adalah fondasi pertumbuhan ekonomi. Pedagang dapat berjualan tanpa rasa waswas, anak-anak belajar dengan nyaman, dan masyarakat bekerja dengan tenang. Tahun ini, Imlek bahkan berdekatan dengan Ramadan dan masa prapaskah umat Kristiani, sebuah momentum yang menunjukkan kehidupan antarumat beragama di Semarang berjalan berdampingan.
Ketua Kopi Semawis, Harjanto Halim, menegaskan bahwa Tuk Panjang bukan sekadar tradisi makan bersama. Ia adalah simbol kesetaraan.
“Di meja panjang ini semua duduk sejajar. Tidak ada kursi khusus, tidak ada pembatas. Ini pesan sederhana tapi kuat—bahwa harmoni lahir dari kebersamaan,” kata Harjanto.
Ia menambahkan, PIS telah berkembang dari sekadar perayaan komunitas menjadi agenda budaya yang menggerakkan ekonomi lokal. Ratusan pelaku UMKM terlibat, mulai dari kuliner, kerajinan, hingga pertunjukan seni.
“Tugas kami menjaga agar Pasar Imlek Semawis tetap menjadi milik bersama. Bukan hanya milik satu etnis atau golongan, tetapi ruang publik yang menyatukan,” ujarnya.
Menu yang tersaji malam itu mencerminkan semangat lintas budaya. Selain kue moho yang melambangkan rezeki merekah dan salad mentimun (Pai Huang Gua) sebagai simbol kejernihan pikiran, hadir pula hidangan Muslim Tiongkok khas Xinjiang seperti kebab kambing, paha kambing bakar, dan claypot sapi. Seluruhnya halal, kaya rempah, dan sarat filosofi—tentang persatuan keluarga, ketahanan menghadapi tantangan, serta kesabaran dalam proses.
Semarak pembukaan kian terasa lewat alunan musik Lamkwan dari Boen Hian Tong, tari Lenggang Nusantara, hingga penampilan Teater “Kranggan Rumah Kita”. Pada kesempatan itu juga diluncurkan Sampul Hari Pertama (SHP) dan materai Tahun Kuda 2027, menambah nuansa simbolik bahwa tradisi dan sejarah terus dirawat.
Menariknya, PIS 2026 beririsan waktu dengan tradisi Dugderan—penanda datangnya Ramadan. Dua perayaan dari akar budaya berbeda itu justru berdiri berdampingan, memperlihatkan wajah Semarang yang tidak terbelah oleh identitas.
Di bawah gemerlap lampion, Gang Gambiran kembali menjadi saksi bahwa harmoni bukan sekadar retorika. Ia hidup dalam percakapan, dalam sendok yang saling beradu, dalam tawa yang pecah tanpa prasangka.
Di Tahun Kuda Api ini, Semarang seolah bersiap berlari lebih kencang—bukan sendirian, melainkan bersama. Karena di kota yang damai, perbedaan bukan sekat, melainkan tenaga pendorong menuju sukses yang menjelma nyata. (*)




