{IM} MATURE ADOLESCENT, Dunia Urban di Atas Kanvas Donni Arifianto

Pameran tunggal Donni Arifianto (IM) MATURE ADOLESCENTE dibuja GM Artotel Gajahmada Semarang Herlinda Arto Kusumo, di Artotel Artspace, Semarang, Jugar (2/12/2022) (Christian Saputro)

Semarang – Perupa asal Bandung Donni Arifianto menggelar pameran tunggal ketiganya di Artspace, Artotel Gajahmada Semarang dari 2 Desember – 2 Februari 2023. Pameran tunggal pertamanya; TUMPANG TINDIH (2021) di Galeri Orbital, Bandung, dan keduanya; INCODING ALGORITHM (2022) di Artotel De Braga (2022), Bandung .

Dalam pameran tunggal ketiga Donni dengan tajuk: {IM} MATURE ADOLESCENT, yang dibuka GM Artotel Gajahmada Herwindo Aryo Kusumo ini Donni menaja 8 karyanya mix media di atas kanvas. Perupa lulusan Fakulatas Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung tahun 2009 masih bersetia dengan langgam kontemporer yang diusungnya.

Donni semana membedah karyanya di depan apresian. (Christian Saputro)

Padahal Donni yang dilahirkan di Ciwedey 22 November 1985 ini mengaku sebelumnya pernah mengakrabi lukisan realis. Bahkan Donni yang aktif sejak mahasiswa di medan seni rupa pernah meninggalkan dunia kreatif seni rupa yang pernah diakrabinya.

“Saya berpikir dunia seni rupa tak bisa dijadikan andalan untuk hidup. Dunia seni belum bisa dijadikan profesi yang menjanjikan,” ujar Donni dalam acara artis talk di helat pamerannya.

Donni yang sejak mahasiswa banyak terlibat dalam berbagai program pameran di Rumah Proses – Bandung sempat vakum dari medan senirupa. Donni mengaku menekuni bisnis dunia percetakannya.

Baca Juga :  Sastrawan Lampung Zabidi Yakub Raih Hadiah Sastra Rancage 2023

”Pada tahun 2016 saya justru terjun ke dunia kuliner kongsi bersama teman mendirikan kedai kopiAbraham and Smith di bilangan Gudang Selatan yang menjadi pusat kreatif anak muda Bandung,” kisah Donni.

Donni Kembali Berkarya

Bisnis warung kopinya berkembang. Pada tahun 2018 Donni membuka cabang di jalan Tamblong, Bandung sekaligus dijadikan studionya tempat dia berkarya. Di warung kopinya inilah karena bergaul dengan anak muda yang nongkrong jiwa kreatifnya sebagai seniman terpantik.

“Jiwa muda saya kembali, seperti tak ingin menua .Saya kembali melukis dan menjadikan warung kopinya menjadi studionya. Jadi tak ada batas benar-benar menyatu. Saat saya melukis bisa berinteraksi dan dilihat pengunjung,” imbuhnya.

Donni mengaku ”come back” ke dunia seni rupa pada tahun 2019, setelah meninggalkannya sejak tahun 2011. Ternyata dunia usahanya mendkung dunia kreatif yang digelutinya. Usaha warung kopi membangun iklim kreativitasnya selalu bergairah karena sering nongkrong bersama anak muda yang dinamis. Sedangkan dunia percetakannya mendukung dalam teknik kekaryaanya. Kini Donni terus produktif berkarya dan terus tertantang untuk menggelar pameran.

Baca Juga :  Sastrawan Lampung Zabidi Yakub Raih Hadiah Sastra Rancage 2023

“Sewaktu pandemi Covid 19 melanda warung kopi saya tutup. Tetapi saya justru aktif berkary., Bahkan kemudian mulai berpameran baik tunggal maupun bersama,” terang Donni.

Kurator Rifky Efffendi tertarik dengan karya-karya Donni. Kemudian Riffky memberi kesempatan Donni untuk berpameran di Orbital Galerinya.

Menurut Goro sapaan akrab Rifky Effendi karya-karya Donni menyiratkan suatu kondisi individu dimana berbagai sumber nilai – nillai dari berbagai realitas keseharian. Yang bisa jadi ikon dan bagian identitas masyarakat kita sekarang.

Dalam pameran tunggalnya {IM} MATURE ADOLESCENT ini Donni menaja 8 karyanya bertajuk. No Sugar, Kucing Dalam Kamar, Kekuatan Magis, To The Moon and Back, Everyday Surprisses, Calssic Problem, Jualan Seni, The Partner.

Objek karya-karya Donni adalah dunia kesehariannya, tak mengawang-awang bisa dilihat dari judul-judulnya. Apa yang dianggap orang remeh temeh dan keseharian jadi sesuatu dari cara pandang saya.

Bagaimana interaksi keseharian dengan kawan kerja dalam karyanya The Partner. Kehidupan keluarga ketika anaknya jalan-jalan ke supermarket menagih kesukaannya coklat kinderjoy dalam karyanya Everyday Surprisses. Ataukarya No Sugar yang serng dihadapinya dalam dunia food and beverage ketika menyajikan makanan tanpa gula.

Baca Juga :  Sastrawan Lampung Zabidi Yakub Raih Hadiah Sastra Rancage 2023

Donni mengeksplorasi ekplorasi dan terkadang mendeformasi teks-teks keseharian dalam kamus “anak nongkrong”, ikon-ikon , dan jargon-jargon mewarnai kanvas Donni yang terkadang bertabrakan justru jadi karakter karyanya. Karya Donni yang terasa lepas mencerminkan ekspresi personal Donni yang bebas.

“Saya merasa bebas ketika berkarya. Tak ada aturan ini ini seperti dalam bisnis. Inilah Donni, saya tak ingin diatur-atur ketika berkarya,” ujar Donni yang bertekad ingin terus melukis.

Di luar pameran tunggalnya perupa yang pernah menyabet Award dalam event Pamerans – Rans Entertainment – NA Art House 2021 ini pernah membukukan pameran bersama, antara lain; Mind Fullness, CCF, Bandung (2018), The Strategis of Being, Artjog 10, TBY (2010), Deep In Store, CG Artspace, Plaza Indonesia, Jakarta 2010, Connection, Alila Hotel, Jakarta 2010, Metro Texs Seduction, Jakarta Bienale #14, Jakarta, 2011, Cube, Virtual Exhibition, 2020, Jogja Affordableart, Jogja Gallery, Yogyakarta 2022, Out of The Books, Rumah Proses,Bandung 2022, Hamin, Mogus Studio, Yogyakarta 2022 dan Mini Seksi Sir, Mola Gallery, Cimahi, 2022. (Christian Saputro)