Semarang – Upaya pengusulan Kiai Haji Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional kembali menguat melalui Seminar Nasional Pengusulan Gelar KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional yang digelar di The Suri Ballroom, Jalan Pemuda, Semarang, Kamis (29/1/2026).
Seminar yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari itu dihadiri akademisi, tokoh agama, pejabat pemerintah, serta perwakilan lembaga keagamaan dan sosial dari tingkat daerah hingga nasional. Kegiatan dibuka dengan opening ceremony yang diawali pementasan teatrikal Labuhan Kyai Sholeh Darat oleh Teater Sambung.
Pementasan tersebut menghadirkan refleksi artistik tentang perjalanan dakwah dan pemikiran KH Sholeh Darat sebagai ulama besar asal Semarang. Melalui medium teater, sosok KH Sholeh Darat dihadirkan sebagai pendidik dan pelaku dakwah kultural yang membumikan ajaran Islam melalui bahasa dan budaya lokal.
Acara kemudian dilanjutkan dengan keynote speech Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti. Dalam sambutannya, Agustina menegaskan bahwa pengusulan KH Sholeh Darat bukan sekadar agenda simbolik, melainkan bagian dari upaya merawat ingatan sejarah dan keteladanan sosial.
“Yang kita lakukan hari ini adalah merawat ingatan sosial dan menghidupkan kembali teladan untuk masa depan,” ujarnya.
Sesi pertama seminar dimoderatori Prof. Dr. Alamsyah, M.Hum. dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, dengan narasumber Mira Riyati Kurniasih (Dirjen Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial), Prof. Usep Abdul Motin, MA, Ph.D. (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Mufidayati Kurniasih (Wakil Ketua Komisi X DPR RI), serta H. Taj Yasin Maimoen, M.E. (Wakil Gubernur Jawa Tengah).
Prof. Alamsyah menyampaikan bahwa pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi KH Sholeh Darat telah melalui tahapan panjang kajian sejarah, filologis, dan sosial.
“Ini merupakan tahap akhir dari kerja akademik bersama jejaring peneliti dan sejarawan yang akan menjadi referensi resmi pengusulan ke pemerintah pusat,” katanya.
Pembahasan dilanjutkan pada sesi kedua yang dimoderatori Prof. Dr. KH. M. In’amuzzahidin, MA, dengan narasumber Prof. Dr. Noer Achmad, MA (Ketua BAZNAS RI), Dr. H.A. Ginanjar Sya’ban, M.Hum. (Sekjen PBNU), Prof. Dr. Yety Rochwulaningsih, M.Si. (Guru Besar Undip), serta Dr. Anasom, M.Hum. (UIN Walisongo).
Para pembicara menyoroti peran KH Sholeh Darat sebagai ulama pencerah abad ke-19 yang menulis karya-karya keislaman dalam bahasa Jawa beraksara Arab Pegon. Karya-karya tersebut dinilai membuka akses pemahaman agama bagi masyarakat awam sekaligus menjadi bentuk perlawanan intelektual terhadap kolonialisme. KH Sholeh Darat juga dikenal sebagai guru dari tokoh-tokoh besar bangsa, seperti KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari.
Melalui seminar ini, panitia berharap seluruh dokumen akademik, rekomendasi, dan dukungan lintas lembaga dapat segera dilengkapi untuk diajukan secara resmi sebagai usulan Pahlawan Nasional. Seminar ditutup dengan komitmen bersama untuk melanjutkan kerja kolaboratif antara akademisi, pemerintah, organisasi keagamaan, dan masyarakat sipil guna mengawal pengusulan tersebut hingga tingkat nasional.
(Christian Saputro)




