Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis – Pemerhati Seni Budaya
Siang itu, matahari Februari menggantung terang di atas halaman Balaikota Semarang. Panasnya tak menyurutkan langkah warga yang datang berduyun-duyun. Anak-anak menggenggam miniatur warak berwarna-warni, para orang tua berdiri berimpitan di tepi panggung, pedagang kecil menata dagangan dengan wajah sumringah. Dugderan 2026 kembali menjelma ruang temu: antara tradisi dan masa depan, antara riuh pasar dan sunyi doa menjelang Ramadan.
Di tengah denyut Kota Semarang yang terus bergerak modern, sendratari “Warak Ngendok” hadir bukan sekadar tontonan. Ia seperti cermin yang dipasang di jantung kota—mengajak siapa pun yang memandangnya untuk melihat kembali wajah kebudayaan sendiri.
Puluhan penari dewasa dan anak-anak dari Sanggar Tirang Community memasuki panggung dengan langkah terukur. Tubuh-tubuh mereka lentur sekaligus tegas.
Gerakannya menyilang antara yang lampau dan yang kini. Dalam komposisi yang dirancang oleh Paminto Krisna, tubuh menjadi bahasa: tentang kegelisahan, tentang kehilangan akar, tentang pencarian identitas.

Musik yang digarap Githung Swara mengalun seperti napas kota. Tabuhan yang dalam, gesekan yang lirih, dan vokal etnik yang menggema menciptakan atmosfer magis sekaligus reflektif. Bunyi tidak sekadar mengiringi gerak, melainkan menyatu, membangun emosi yang perlahan merambat ke dada penonton.
Lalu tiba momen itu. Warak “ngendok”. Ia bertelur.
Telur-telur di panggung bukan sekadar properti artistik. Ia adalah simbol: harapan yang dierami kesabaran, nilai yang dijaga dalam diam. Ketika telur itu menetas dalam adegan klimaks, tepuk tangan pecah. Bukan hanya karena koreografi yang memukau, melainkan karena penonton merasa menyaksikan sesuatu yang lebih dari pertunjukan—sebuah kelahiran kembali makna.
Sebelum pementasan dimulai, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menegaskan bahwa Dugderan bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah identitas kota, penanda kebersamaan masyarakat yang majemuk dan rukun. Warak Ngendog, katanya, adalah cerminan harmoni keberagaman yang menjadi kekuatan Semarang.
Pernyataan itu menemukan resonansinya di panggung. Apalagi ketika kota ini diingatkan telah meraih predikat Kota Toleransi dari Setara Institute pada 2024 dan menerima Harmoni Award dari Kementerian Agama Republik Indonesia pada 2025. Pengakuan itu seperti gema dari pesan yang dibawa Warak: bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan sumber daya kultural yang mesti dirawat.
Dugderan siang itu menjadi lebih dari pesta rakyat. Ia menjelma ritual kultural—ruang di mana masyarakat tidak hanya merayakan datangnya Ramadan 1447 Hijriah, tetapi juga meneguhkan kembali ikatan sosial. Di antara panas matahari dan riuh tepuk tangan, sendratari “Warak Ngendok” menegaskan bahwa tradisi bukan benda mati. Ia hidup, bergerak, dan terus menetas dalam bentuk-bentuk baru.
Warak, yang selama ini diarak setahun sekali, kini menjelma pengalaman batin. Ia tidak hanya berjalan di jalanan kota, tetapi juga melintas di kesadaran kolektif warganya. Di panggung Balaikota, telur-telur harapan itu pecah—dan dari retaknya, lahir keyakinan bahwa Semarang akan terus tumbuh bersama keberagaman yang dierami dengan cinta. (*)




