SEMARANG — Komunitas seni Forum Senin Legi menggelar kegiatan Berserasa Bersama Forum Senin Legi II berupa Simakan Lakon di pelataran Pura Agung Giri Natha, Selasa (10/3/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan pembacaan naskah teater dalam format experimental sound dan live script reading.
Lakon yang dibacakan berjudul Megathrust 2065: Pusara Segara, karya dan garapan Nano Suharno. Naskah tersebut mengangkat gambaran masa depan yang diliputi ancaman bencana, kekuasaan, serta rapuhnya ingatan manusia.
Pertunjukan berlangsung sekitar dua setengah jam tanpa jeda. Sebelum simakan lakon dimulai, para peserta mengikuti buka puasa bersama yang dilanjutkan dengan tausiyah budaya oleh Khotibul Umam. Dalam pengantarnya, ia mengajak hadirin merefleksikan hubungan antara seni, kehidupan manusia, dan daya imajinasi dalam membayangkan masa depan.
Naskah setebal sekitar 80 halaman yang ditulis Nano Suharno selama hampir dua tahun tersebut dibacakan secara bergantian oleh para pembaca. Selain pembaca utama, sejumlah penonton juga terlibat secara sukarela membaca beberapa bagian naskah.
Format ini membuat batas antara pemain dan penonton menjadi lebih cair. Para peserta tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga ikut terlibat dalam proses menyimak dan membangun imajinasi bersama.
Suasana pertunjukan diperkuat oleh lanskap bunyi yang dimainkan oleh Aristya Kusuma Verdana dan Fandi Abdillah Sutaji. Bunyi denting dan dengung yang muncul tidak selalu berbentuk melodi, melainkan lebih menyerupai lanskap suara yang mengiringi pembacaan naskah.
Sementara itu, dua pembaca utama, Vajra Aoki dan Mahranazih, membacakan fragmen naskah dengan tempo perlahan sehingga kata-kata yang diucapkan terasa lebih menekan dan reflektif.
Dalam prolognya, Nano Suharno menyebut kegiatan tersebut sebagai ruang sederhana untuk saling menyimak dan berbincang tentang dunia fiksi yang dibangun melalui naskah.
Ia mengatakan, melalui imajinasi tentang kemungkinan masa depan yang kelam, teater justru berusaha mengingatkan manusia agar tetap menjaga kewarasan dan kesadaran terhadap kehidupan.
Salah satu fragmen naskah menggambarkan situasi masa depan yang dipenuhi pengawasan teknologi, ketika helikopter dan drone mengawasi dua tokoh manusia dari udara sebelum rentetan tembakan memecah kesunyian malam.
Fragmen tersebut dibacakan tanpa efek visual atau panggung dramatis.
Kesederhanaan penyajian justru memberi ruang bagi imajinasi penonton untuk membangun gambaran peristiwa melalui bunyi dan kata-kata.
Pertunjukan berakhir ketika malam telah turun sepenuhnya. Para peserta kemudian meninggalkan pelataran pura secara perlahan setelah mengikuti simakan lakon yang berlangsung dalam suasana hening dan reflektif.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya komunitas seni menghadirkan ruang pertemuan budaya yang mempertemukan seni pertunjukan, refleksi sosial, dan partisipasi publik dalam pengalaman teater yang lebih terbuka. (Christian Saputro)




