SEMARANG — Ruang bersejarah di kawasan Kota Lama Semarang kembali berdenyut oleh geliat seni rupa. Pameran bersama bertajuk “Meraga Rasa” siap digelar di Galeri Pringsewu Restaurant pada Kamis (16/4/2026), menghadirkan eksplorasi seni abstrak yang sarat emosi, tafsir, dan pengalaman batin para perupa.
Kegiatan ini melibatkan lima seniman lintas generasi, yakni A. Taufik, Goenarso, Heriwanto, Tjetjep Rohendi Rohidi, serta Tan Markaban. Masing-masing menghadirkan karakter artistik yang kuat dalam mengolah bahasa visual non-representasional.
A. Taufik dikenal dengan ledakan warna emosional dan gestur spontan dalam kanvasnya. Karyanya bergerak dalam abstraksi ekspresif, menjadikan lukisan sebagai ruang dialog antara intuisi, kebebasan, dan gejolak batin.
Berbeda dengan itu, Goenarso menghadirkan komposisi yang terstruktur di tengah ketidakteraturan. Ia merangkai garis dan bidang menjadi ritme visual yang tenang namun mendalam, menghadirkan keseimbangan antara nalar dan rasa.
Sementara Heriwanto tampil dengan energi yang lebih intens melalui sapuan kuas kuat dan kontras warna tegas. Karyanya menangkap dinamika gerak yang tak kasatmata, memancarkan kegelisahan sekaligus vitalitas kehidupan.
Adapun Tjetjep Rohendi Rohidi, yang dikenal sebagai akademisi dan pemikir budaya, menghadirkan karya-karya yang kontemplatif dan sarat refleksi filosofis. Abstraksinya mengolah simbol, ruang, dan makna sebagai cara memahami manusia dalam konteks kebudayaan.
Di sisi lain, Tan Markaban menawarkan pendekatan eksperimental melalui eksplorasi material dan tekstur. Karyanya tidak hanya mengandalkan visual, tetapi juga menghadirkan sensasi taktil yang memperluas pengalaman estetis bagi penikmat.
Direktur Pemasaran Pringsewu Restaurant Group, Rosyad Ajah, menyampaikan bahwa pameran ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang seni yang lebih inklusif. “Kami ingin menghadirkan pengalaman berbeda, di mana ruang kuliner juga dapat menjadi ruang apresiasi seni dan budaya,” ujarnya.
Menurut Goenarso yang mewakili para peserta, pameran ini bukan sekadar ajang menampilkan karya, melainkan juga medium menghadirkan rasa ke dalam bentuk visual. “Setiap karya adalah pengalaman batin yang terbuka untuk ditafsirkan. Di situlah dialog antara seniman dan publik terjadi,” ungkapnya.
Mengusung gagasan tentang penerjemahan emosi, ingatan, dan pengalaman personal ke dalam bahasa rupa, “Meraga Rasa” menjadi ruang perjumpaan antara ekspresi spontan dan refleksi mendalam. Digelar di bangunan lama Pringsewu, pameran ini sekaligus menghadirkan dialog antara arsitektur kolonial yang sarat memori dengan dinamika seni kontemporer.
Terbuka untuk umum, pameran ini diharapkan menjadi ruang apresiasi sekaligus refleksi, serta memperkuat posisi Semarang sebagai kota yang terus bertumbuh dalam ekosistem seni dan budaya. Di tengah laju modernitas, “Meraga Rasa” mengajak publik berhenti sejenak—menyelami rasa, dan menemukan makna di balik yang tak selalu kasatmata. (Christian Saputro)




