Oleh Christian Heru Cahyo Saputro -Jurnalis
Di lereng timur Gunung Merbabu, kabut turun pelan seperti doa yang tak kunjung usai. Pagi di Dusun Thekelan lahir dengan ritme lambat: suara ayam, langkah warga menuju ladang, dan percakapan kecil yang tak tergesa. Di sana, hidup bukan soal mengejar waktu, melainkan merawatnya.
Thekelan, dusun kecil berpenduduk sekitar 700 jiwa, tidak hanya menyimpan bentang alam pegunungan. Ia menyimpan cara hidup. Harmoni di sini tidak dibangun melalui slogan toleransi atau panggung pidato, melainkan melalui kebiasaan sederhana: berkumpul di depan tempat ibadah saat hari raya, saling mengucapkan selamat, dan mendoakan meski keyakinan berbeda. Tradisi ini mengalir alami saat Idulfitri, Natal, hingga perayaan umat Buddha.
Sebagai pintu pendakian, Thekelan terbuka bagi orang luar—pendaki, seniman, peneliti—tanpa kehilangan watak komunalnya. Seni di sini tumbuh bukan dari gedung megah, melainkan dari halaman rumah, bekas sekolah dasar, dan ruang ibadah yang bertransformasi menjadi arena pertemuan. Ketika perhelatan berlangsung, rumah-rumah penduduk menjadi dapur produksi, ruang rias, hingga tempat diskusi. Sebuah adaptasi spasial yang lahir murni dari semangat gotong royong.
Beberapa jam dari lereng gunung itu, laut memperlihatkan wajah berbeda.
Di Tambak Lorok, Semarang, warga hidup berdampingan dengan rob, angin asin, dan ketidakpastian cuaca. Laut membentuk karakter masyarakat pesisir menjadi terbuka, egaliter, dan tangguh. Mereka terbiasa menerima perubahan sebagai bagian dari hidup. Ketika banjir datang, mereka belajar beradaptasi; ketika ruang hilang ditelan air, mereka menciptakan ruang baru.
Kini, kawasan Tambak Lorok berubah perlahan. Tanggul laut sepanjang 3,6 kilometer berdiri sebagai pelindung baru, dilengkapi sistem deteksi rob berbasis IoT dan kolam retensi. Infrastruktur modern hadir di tengah kampung nelayan yang dahulu identik dengan kerentanan. Namun bagi warga, tanggul itu bukan sekadar proyek pembangunan. Ia adalah ruang publik baru tempat manusia kembali bertemu. Anak-anak bermain di sore hari, nelayan berbincang selepas melaut. Tradisi Sedekah Laut dan Larungan, meski kini dirayakan lebih sederhana, tetap mempertahankan kesakralannya. Bagi masyarakat pesisir, laut bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan ruang spiritual.
Di tengah dua lanskap ekstrem itu—gunung yang diam dan laut yang bergerak—kota bekerja dengan logikanya sendiri.
Di Klub Merby, seni dikelola dengan pendekatan yang lebih sistematis. Sanggar ini tumbuh bukan hanya sebagai tempat latihan, tetapi sebagai simpul kebudayaan yang mempertemukan tradisi dengan tata kelola modern. Merby menjadi laboratorium kecil tentang bagaimana komunitas seni bertahan di tengah kota yang bergerak cepat. Ia menghubungkan seniman, akademisi, komunitas, pemerintah, media, dan sektor usaha dalam pola kerja pentahelix. Dari ruang inilah, fragmen pengalaman gunung dan laut diterjemahkan menjadi pengetahuan kolektif yang terorganisir.
Kota menyediakan apa yang sering tidak dimiliki desa dan pesisir: jaringan, dokumentasi, infrastruktur manajemen, serta keberlanjutan sistem. Namun, kota juga belajar dari gunung dan laut: bahwa kebudayaan tidak pernah hidup dari fasilitas semata. Ia bertahan karena manusia masih mau berkumpul.
Gagasan “Nyantrik Seni” lahir dari pertemuan tiga ruang hidup ini. Thekelan menawarkan narasi toleransi dan konservasi ekologis. Tambak Lorok memperlihatkan resiliensi masyarakat pesisir menghadapi krisis iklim. Sementara Klub Merby menjadi ruang pengolahan pengetahuan dan tata kelola budaya yang terstruktur.
Ketiganya bukan wilayah yang berdiri sendiri. Mereka adalah ekosistem yang saling melengkapi.
Dari sinilah lahir praktik dokumentasi partisipatif, riset lintas komunitas, hingga pengarsipan digital yang tidak berhenti sebagai laporan formal. Arsip-arsip ini dibawa kembali ke masyarakat melalui pameran, diskusi, dan presentasi keliling. Pengetahuan tidak disimpan di rak-rak akademik, melainkan dikembalikan menjadi alat refleksi warga.
Sebab sesungguhnya, masa depan kebudayaan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak festival diselenggarakan. Melainkan oleh seberapa jauh masyarakat merasa memiliki ruang hidupnya sendiri.
Di antara laut yang terus bergerak, gunung yang diam menjaga, dan kota yang sibuk menghubungkan, tersimpan satu pelajaran penting: kebudayaan hanya akan bertahan ketika manusia masih percaya pada kehidupan bersama.
Mungkin, di tengah dunia yang semakin bising dan tercerai-berai, Thekelan, Tambak Lorok, dan Merby sedang menunjukkan satu kemungkinan yang mulai langka—bahwa peradaban dapat dirawat melalui kebiasaan kecil untuk saling membuka ruang, saling mendengar, dan saling menjaga.
Catatan Akhir:
Pemahaman atas ekosistem budaya ini dibahas lebih mendalam dalam rangkaian acara Presentasi & Diskusi Pameran Arsip: RANCANG LAKU. Acara ini menghadirkan dialog lintas sektor untuk membedah korelasi antara ketiga ruang hidup tersebut.
Dipandu oleh moderator Yanuar Aris Budiharto, sesi presentasi akan melibatkan Muhammad Salafi Handoyo (Praktisi Seni), Singgih Adhi Prasetyo (AECI Satya Nirmana Foundation), Ari Eko Budiyanto (Ketua Pelaksana Festival GULA), serta tim periset dan kurator Muhammad Rahman Athian. Dialog akan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab terbuka, dan ditutup dengan tanggapan budaya dari perspektif arkeologi oleh Tri Subekso (Arkeolog/Tim Ahli Cagar Budaya).
Acara ini berlangsung pada Rabu, 13 Mei 2026, di TAN Art Space, Jl. Papandayan No. 11, Gajahmungkur, Semarang. Sebuah ruang untuk menyatukan kembali fragmen-fragmen pengetahuan yang tersebar. (*)




