Semarang — Suasana haru dan penuh empati menyelimuti atrium The Park Mall Semarang, Sabtu (14/2/2026), dalam peringatan International Childhood Cancer Day. Melalui gerakan #BeraniGundul, masyarakat menunjukkan solidaritas nyata bagi anak-anak pejuang kanker. Di antara rangkaian aksi tersebut, penampilan Asosiasi Dong Yue Taiji Quan Indonesia (ADYTI) DPC Kota Semarang tampil mencuri perhatian.
Mengusung tema Childhood Cancer – Demonstrating Impact, kegiatan ini menjadi panggung kebersamaan lintas komunitas. Aksi cukur rambut massal menjadi simbol keberanian dan dukungan moral—sebuah pesan kuat bahwa anak-anak yang berjuang melawan kanker tidak pernah berjalan sendiri.
Di tengah momen emosional itu, ADYTI Semarang menghadirkan nuansa berbeda lewat peragaan Dong Yue Taiji Quan. Gerakan yang lembut, terukur, dan penuh konsentrasi mengalir harmonis, menghadirkan ketenangan di tengah riuh pengunjung mal. Tai Ji bukan sekadar seni bela diri internal, melainkan olahraga pernapasan dan meditasi gerak yang menekankan keseimbangan tubuh dan pikiran.
Sejumlah penelitian modern menunjukkan bahwa latihan Tai Ji dapat membantu meningkatkan kebugaran, mengurangi stres, serta memperbaiki kualitas hidup. Karena karakter gerakannya yang rendah benturan (low impact) dan terkontrol, Tai Ji kerap direkomendasikan sebagai aktivitas pendukung bagi penyintas kanker maupun penderita autoimun—tentu dengan pendampingan medis yang tepat.
Filosofi yin dan yang yang melekat dalam Tai Ji menjadi metafora tentang keteguhan, disiplin, dan harapan dalam menghadapi ujian kehidupan.
Penampilan hari itu dipimpin Ketua Tim Lin Sien Xien, didampingi Wakil Ketua Sandra Djing dan Sekretaris Joan Nita. Pelatih Ineke Liem bersama tim memastikan setiap rangkaian jurus tersaji harmonis. Dukungan Sie Umum Huang Lie Sien dan Ummi Nurlatifah, serta anggota Lie Giok Ing dan Soelastri, memperlihatkan soliditas komunitas yang telah lama konsisten berkiprah di Kota Semarang.
ADYTI DPC Kota Semarang berada di bawah penasihat Effendy Martoyo, dengan jajaran pelatih Ali Wihana, Anny Kartikasari, dan Bandono, serta official Widya Astuti Nyoo. Organisasi ini rutin berlatih di Taman Nada Brumbungan setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu mulai pukul 06.30 WIB, membuka ruang bagi masyarakat yang ingin mempelajari Tai Ji sebagai sarana menjaga kesehatan fisik dan ketahanan mental.
Gerakan #BeraniGundul sendiri mendapat dukungan luas dari berbagai pihak, antara lain Universitas Diponegoro, RS Telogorejo, Sido Muncul, serta Hotel Tentrem Semarang. Kolaborasi ini menegaskan bahwa kepedulian terhadap kanker anak adalah tanggung jawab bersama.
Bagi ADYTI Semarang, tampil di panggung kemanusiaan bukan sekadar demonstrasi jurus. Ini adalah pernyataan bahwa gerak yang hening pun mampu menyuarakan solidaritas. Di tengah kepala-kepala yang digunduli sebagai simbol keberanian, Tai Ji mengajarkan satu pesan sederhana namun mendalam: harapan selalu memiliki ruang untuk tumbuh—setenang apa pun langkahnya.
(Christian Saputro)




