Semarang — Puluhan bendera dari berbagai negara berkibar berdampingan di Aula Balai Kota Semarang, Sabtu (31/1/2026), menandai berlangsungnya AIESEC Global Village Winter Peak 2025. Musik lintas benua, busana tradisional, dan percakapan multibahasa menghadirkan suasana perjumpaan budaya internasional yang hangat dan inklusif.
Kegiatan yang digelar organisasi kepemudaan global AIESEC ini mempertemukan mahasiswa, relawan internasional, serta masyarakat umum dalam ruang dialog lintas budaya. Delegasi dari berbagai negara menampilkan identitas budaya masing-masing melalui pakaian adat, seni pertunjukan, hingga cerita kehidupan sehari-hari di negara asal mereka.
Rangkaian acara dimulai pukul 15.00 WIB dengan penyambutan delegasi dan momen “Welcome Home” yang menandai dimulainya kebersamaan peserta. Acara kemudian dibuka secara resmi melalui sambutan panitia, pidato LCVP of EwA, serta OCP Winter Peak 2025 Global Village. Dalam sambutannya, penyelenggara menegaskan Global Village sebagai ruang pembelajaran lintas negara yang mendorong pemahaman budaya dan pengembangan kepemimpinan generasi muda.
Suasana cair terbangun melalui sesi Role Dance yang melibatkan audiens, dilanjutkan pemutaran video pembuka tentang keberagaman budaya dunia. Panggung kemudian diisi Opening Drama bertema perjalanan lintas budaya, yang berpadu dengan penampilan tari Ratoh Jaroe, tarian khas Aceh, sebagai representasi kekayaan budaya Indonesia.
Sesi internasional ditandai dengan Parade Exchange Participants (EP). Para peserta pertukaran dari berbagai negara naik ke panggung untuk memperkenalkan diri, menampilkan pertunjukan budaya, serta berbagi pengalaman selama berada di Indonesia. Sesi ini dilanjutkan dengan presentasi laporan EP dan dialog terbuka bersama peserta, serta pengenalan program Outgoing Global Volunteer (oGV) sebagai peluang keterlibatan generasi muda Indonesia di tingkat global.
Menjelang sore, pertunjukan internasional kembali digelar oleh komunitas dan talent dari berbagai negara. Setelah jeda, peserta diajak mengikuti sesi eksplorasi stan budaya. Sejumlah booth dibuka, antara lain oleh Alliance Française Semarang bersama delegasi dari Yordania, Libya, Palestina, Myanmar, Kepulauan Solomon, dan Vietnam. Interaksi di booth dikemas dalam alur cerita simbolik pencarian “harta karun raja”, yang mengajak peserta berkeliling dan berinteraksi langsung dengan delegasi.
Pada sesi penutup, panitia memberikan apresiasi kepada delegasi yang berhasil menyelesaikan tantangan, termasuk penghargaan untuk kostum terbaik. Acara ditutup dengan royal closing festival dan pembagian survei kepuasan peserta.
Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menyatakan dukungan terhadap kegiatan ini sebagai bagian dari diplomasi budaya dan pengembangan generasi muda. Mewakili Kepala Disbudpar Kota Semarang, Hadi Susanto, S.S., mengatakan Global Village menjadi ruang pembelajaran strategis lintas negara.
“Generasi muda memiliki peran penting sebagai duta perdamaian dan kebudayaan. Melalui dialog dan pertukaran nilai, mereka menjadi penghubung antarbangsa di tengah dinamika global,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Alliance Française Semarang menegaskan bahwa partisipasi pihaknya dalam Global Village merupakan bentuk keterlibatan kultural yang aktif.
“Budaya bukan sekadar etalase, melainkan percakapan. Di sini, bahasa, seni, dan pengalaman bertemu sebagai cara manusia saling memahami,” katanya.
Menurutnya, Semarang memiliki posisi strategis sebagai ruang temu budaya dunia. “Kota ini terbuka dan hangat. Global Village menunjukkan bahwa dialog antarbudaya bisa tumbuh dari komunitas dan anak-anak muda.”
AIESEC Global Village secara rutin digelar di berbagai kota di Indonesia sebagai bagian dari program pengembangan kepemimpinan muda. Melalui pendekatan budaya yang dialogis dan inklusif, kegiatan ini diharapkan memperkuat toleransi serta kerja sama lintas bangsa. (Christian Saputro)




