SEMARANG – Suasana berbeda tercipta di Klarisan Coffee & Eatery, Jumat (10/4/2026), saat Pameran Seni Rupa “Biru: Seni Rupa, Inklusi, dan Harmoni dalam Perbedaan” resmi dibuka. Mengusung semangat Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2026, acara yang digagas Roemah Difabel Semarang ini tidak hanya memamerkan karya visual, tetapi juga menghadirkan perpaduan emosional antara sastra, musik, dan lukisan dalam sebuah performance art yang memukau.
Pembukaan dilakukan secara resmi oleh Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, Imam Maskur, yang mewakili Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah. Dalam sambutannya, Imam menekankan bahwa pameran ini adalah bukti nyata bahwa setiap individu, termasuk penyandang disabilitas, memiliki potensi setara yang layak dihargai. “Ini bukan sekadar etalase seni, melainkan pesan kemanusiaan yang kuat bahwa perbedaan adalah kekayaan sosial yang harus kita rawat bersama,” ujarnya.
Momen paling menyentuh terjadi saat sesi performance art kolaboratif. Kurator pameran, Christian Heru Cahyo Saputro, membacakan puisi-puisi reflektif yang dirangkai khusus untuk acara ini. Suara lantangnya berpadu harmonis dengan alunan musik instrumental yang dimainkan langsung oleh mentor seni, Giovanni Susanto. Di atas panggung terbuka,
Giovanni tidak hanya bermain musik, tetapi juga mengekspresikan jiwa musiknya ke atas kanvas melalui teknik live sketching, menciptakan karya lukisan baru di hadapan ratusan pengunjung yang terpukau. Kolaborasi tiga elemen ini—puisi, musik, dan lukisan—menjadi metafora hidup dari tema pameran: harmoni yang lahir dari keberagaman ekspresi.
Ketua Panitia, Faradela Hoata, menyatakan bahwa kolaborasi ini sengaja dirancang untuk menembus batas-batas komunikasi konvensional. “Kami ingin ‘Biru’ menjadi ruang aman di mana teman-teman difabel bisa berekspresi, dan masyarakat belajar memahami perbedaan melalui bahasa seni yang universal,” jelasnya. Hal senada disampaikan Founder Roemah Difabel Semarang, Noviana Dibyantari, yang turut terlibat dalam pembacaan puisi bersama Christian. Ia berharap masyarakat mulai memandang autisme sebagai bagian dari neurodiversitas yang memperkaya cara berpikir manusia, bukan sebagai keterbatasan.
Pameran ini menampilkan karya-karya orisinal dari enam seniman difabel utama: Sheva, Rafi, Willy, Danang, Steven, dan Nike, serta didukung oleh Ara dan Dhika dari Komunitas Adhikari Sinar Mandiri. Seluruh karya merupakan hasil bimbingan intensif Giovanni Susanto yang mendorong para seniman untuk menggali ekspresi visual terdalam mereka.
Berlangsung hingga 20 April 2026, pameran di ruang publik strategis ini diharapkan mampu mendekatkan isu inklusi kepada masyarakat luas. Melalui perpaduan estetika dan empati, “Biru” mengajak pengunjung untuk bergerak dari sekadar sadar (awareness) menuju penerimaan (acceptance), menegaskan bahwa harmoni sosial hanya dapat terwujud ketika setiap perbedaan diterima sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan bersama. (Christian Saputro)




