SEMARANG – Kawasan Kota Lama Semarang kembali menjadi saksi hidup kebangkitan seni tradisi yang relevan dengan zaman. Setelah cukup lama vakum, pagelaran Wayang On The Street (WOTS) akhirnya hadir kembali pada Jumat (10/4/2026) malam di Oudetrap Theater. Mengusung lakon kontemporer “Gareng Dadi Ratu” garapan sutradara Budi Lee, pertunjukan yang dipersembahkan oleh Sanggar Ngesti Pandowo ini sukses memukau ratusan penonton yang memadati ruang terbuka cagar budaya tersebut.
Acara yang didukung penuh oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang ini dibuka dengan nuansa dramatis melalui Tari Topeng Kelana Surakarta. Penari muda Mochammad Fajri Fadhilah berhasil menghipnotis penonton dengan gerakannya yang menghentak, menggambarkan Prabu Klana Sewandana yang dipenuhi ambisi dan hasrat kekuasaan yang tak terbendung. Penampilan ini
menjadi prolog sempurna yang mempertegas kontras dengan tokoh utama, Gareng, yang kemudian muncul sebagai antitesis: sosok cacat fisik namun utuh dalam kebijaksanaan hati. Diselingi penampilan ceria dolanan bocah dari Sanggar Sekar Taman Semarang dan iringan gamelan Githung Swara, pertunjukan berlangsung dinamis selama dua jam, menghadirkan tawa sekaligus renungan mendalam.
Lakon “Gareng Dadi Ratu” bukan sekadar dongeng klasik, melainkan cermin retak bagi realitas sosial-politik hari ini. Di tengah krisis kepemimpinan akibat intrik elit yang serakah, rakyat jelata justru mengangkat Gareng—si Punakawan yang lugu dan sering dianggap remeh—menjadi raja. Sutradara Budi Lee secara cerdas menyisipkan kritik sosial tajam melalui dialog-dialog segar. “Lakon ini ingin menegaskan bahwa kesalahan kecil seharusnya bisa didialogkan, bukan langsung dihukum mati. Keadilan haruslah manusiawi,” ujar Budi Lee usai pertunjukan. Ia menekankan bahwa pemimpin sejati bukanlah mereka yang sempurna secara fisik atau keturunan, melainkan mereka yang berani bertanggung jawab dan memiliki empati terhadap rakyatnya.
Ratri Nugrahaning Widayanti, S.Sos., Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, yang mewakili Kepala Dinas dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif menghidupkan kembali ruang budaya di Kota Lama. “Kota Lama adalah kawasan cagar budaya nasional yang harus diisi dengan aktivitas bermakna. Wayang On The Street membuktikan bahwa warisan leluhur bisa dikemas secara inovatif, dekat dengan masyarakat, dan relevan bagi generasi muda,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya peran orang tua dan pendamping sanggar dalam mewariskan nilai-nilai luhur bangsa kepada anak didik mereka.
Antusiasme penonton terlihat jelas sejak awal hingga akhir acara. Banyak dari mereka, termasuk kalangan milenial, mengaku tersentuh dengan pesan moral yang disampaikan tanpa menggurui. “Saya tidak menyangka wayang orang bisa se-relevan ini. Kisah Gareng mengingatkan kita bahwa pemimpin itu harus mendengar suara rakyat kecil, bukan hanya suara ambisi sendiri,” kata salah satu penonton.
Melalui WOTS, penyelenggara berharap kesenian tradisional tidak lagi dipandang sebagai tontonan usang, melainkan sebagai ruang dialog inklusif yang hidup. Seperti pesan penutup dalam sambutan dinas kebudayaan: “Siapa yang akan melanjutkan jika bukan kita?” Malam itu, di bawah langit Kota Lama, Semarang menjawabnya dengan tepuk tangan gemuruh, membuktikan bahwa semangat nguri-uri budaya tetap menyala terang, menolak padam oleh zaman. (Christian Saputro)




