Oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Ungaran — Di lereng Gunung Ungaran, musik kadang tak perlu panggung megah. Ia cukup hadir sebagai bunyi yang jujur—bertemu angin, dedaunan, dan langkah-langkah kecil manusia yang ingin merawat hidup. Dari ruang semacam inilah Rumanfaat tumbuh: sebuah komunitas musisi asal Semarang yang memandang musik bukan sekadar hiburan, melainkan laku kepedulian.
Rumanfaat lahir dari perjumpaan lintas latar dan genre, namun disatukan oleh keyakinan yang sama: bahwa nada bisa menjadi bahasa perubahan. Tidak berteriak, tidak menggurui—melainkan bergerak pelan, menyentuh, dan mengajak.
Nada yang bergerak, Alam yang dirawat
Komunitas ini dipandegani Pradana Saputra, yang akrab disapa Dana. Bagi Dana, musik tak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bersinggungan dengan ruang hidup—dengan manusia dan alam yang menjadi sumber sekaligus penopang kehidupan. Dari kesadaran itu, Rumanfaat memilih jalan yang tidak populer: menggabungkan kerja kreatif dengan aksi nyata merawat lingkungan.
Dalam perjalanannya, Dana tidak sendiri. Ia berjalan bersama Teguh, musisi saxophone yang dikenal dengan nama Kribo Saxo—julukan yang lahir dari rambut kribonya, sekaligus menjadi identitas panggung. Namun pertemuan mereka bukan semata soal bunyi.
Di balik pengalaman panjang bermusik, Kribo merasa ada sesuatu yang hilang. Gemerlap panggung, riuh tepuk tangan, dan ritme kota tak sepenuhnya menjawab kegelisahannya. Rumanfaat menjadi ruang jeda—bahkan ruang pulang. Di sini, musik kembali disentuhkan pada makna. Bukan sekadar tampil, tetapi hadir.
Bersama Dana dan Kribo, Rumanfaat menapaki kerja-kerja lingkungan yang dimulai dari hal sederhana: membersihkan sampah di ruang publik, menyambangi desa-desa, menggelar edukasi ekologis berbasis komunitas, hingga menanam pohon. Tidak ada klaim besar. Yang ada hanyalah konsistensi—bahwa perubahan besar kerap berangkat dari langkah kecil yang diulang.
Salah satu tonggak penting perjalanan Rumanfaat adalah kolaborasi dengan Rotary International District 3420 dalam aksi penanaman ratusan pohon di lereng Gunung Ungaran. Di sana, seni bertemu jejaring global, dan kepedulian menemukan bentuknya yang konkret. Musik tidak berhenti di udara; ia menjelma akar.
Dalam pergelaran-pergelarannya, Rumanfaat membuka ruang kolaborasi. Gito turut hadir dalam pertunjukan, dengan dukungan Nay, memperkuat semangat kebersamaan yang menjadi ruh komunitas ini. Rumanfaat tidak dibangun sebagai panggung individual, melainkan sebagai rumah tumbuh bersama—tempat setiap orang punya peran.
Tak jarang, Rumanfaat memilih ruang-ruang alam sebagai panggung. Lereng gunung, destinasi wisata berbasis lingkungan, hingga desa-desa penyangga mata air menjadi saksi. Di sana, saxophone, petikan, dan bunyi-bunyi lain berbaur dengan alam. Musik tidak sekadar diperdengarkan; ia dipertemukan.
Nama Rumanfaat sendiri adalah pernyataan sikap: rumah yang memberi manfaat. Rumah bagi musisi untuk bertumbuh, sekaligus rumah gagasan untuk merawat bumi. Tak ada seremonial kosong. Yang dijaga adalah keberlanjutan—bahwa nada hari ini dan pohon yang ditanam sekarang harus memberi kehidupan di masa depan.
Dari Semarang, Rumanfaat mengirim pesan sederhana namun penting:
bahwa merawat bumi bisa dimulai dari musik, dari langkah kecil, lalu tumbuh menjadi gerakan bersama.
Dan di tengah dunia yang kerap gaduh, mereka memilih bunyi yang berpihak—pada alam, dan pada harapan. 🎶🌱




