SEMARANG – Dalam upaya menggeser paradigma masyarakat dari sekadar “sadar” menjadi “menerima”, Roemah Difabel Semarang menggelar pameran seni rupa bertajuk “Biru: Seni Rupa, Inklusi, dan Harmoni dalam Perbedaan” (Blue: Visual Art, Inclusion, and the Harmony of Differences). Event bergengsi ini akan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, S.E., M.M., pada Jumat (10/4/2026) pukul 14.00 WIB.
Bertempat di Klarisan Coffee & Eatery, Jalan Kyai Saleh Nomor 10, Mugassari, Semarang, pameran ini dijadwalkan berlangsung hingga 20 April 2026. Digelar dalam rangka memperingati Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2026, pameran ini bukan sekadar etalase estetika, melainkan sebuah manifestasi visual tentang neurodiversitas dan komitmen inklusivitas yang nyata.
Pameran ini menghadirkan karya-karya yang menggugah dari enam seniman utama: Sheva, Rafi, Willy, Danang, Steven, dan Nike. Mereka akan menampilkan beragam interpretasi warna biru, didampingi oleh pelukis tamu Ara dan Dhika dari Komunitas Adhikari Sinar Mandiri. Di bawah kurasi Christian Heru Cahyo Saputro dan bimbingan mentor Giovanni Susanto, karya-karya ini tidak hanya dimaknai sebagai elemen visual, tetapi sebagai filosofi mendalam.
“Biru adalah jeda. Ia berada di antara kedalaman dan keheningan, melambangkan ruang tenang di tengah dunia yang kerap terlalu cepat menilai,” tulis Christian dalam pengantar kuratorialnya. Ia menguraikan bahwa dalam sejarah seni, biru pernah menjadi simbol kemurnian termahal di masa Renaisans hingga bahasa duka personal dalam ‘Blue Period’ Picasso. “Kini, biru melampaui kanvas; ia menjadi bahasa kolektif kemanusiaan untuk menegaskan prinsip no one left behind sesuai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).”
Seni sebagai Bahasa Universal Inklusi
Noviana Dibyantari, Founder Roemah Difabel Semarang, menyatakan bahwa pameran ini adalah ruang perjumpaan untuk merayakan perbedaan. Menurutnya, autisme harus dipahami sebagai bagian dari neurodiversitas—keberagaman alami cara manusia berpikir dan merasakan—bukan sebagai kekurangan yang perlu diperbaiki.
“Setiap karya dalam pameran ini adalah suara. Suara yang mungkin selama ini terpinggirkan, kini hadir untuk didengarkan secara utuh. Seni mengajarkan kita bahwa harmoni tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari keberanian untuk berdampingan,” ujar Noviana.
Ia menambahkan bahwa inklusi bukanlah konsep abstrak, melainkan praktik sehari-hari. Kehadiran Sekda Jateng Sumarno dalam pembukaan diharapkan dapat memberikan sinyal kuat dukungan pemerintah daerah terhadap gerakan inklusif berbasis komunitas dan seni ini, serta mendorong kebijakan yang lebih adaptif di masa depan.
**Dari Awareness Menuju *Acceptance***
Pameran “Biru” menampilkan spektrum ekspresi manusia yang luas, mulai dari karya yang lantang hingga yang lirih, dari garis tegas hingga bidang kosong yang hening. Tema ini dipilih sebagai metafora kuat bagi masyarakat inklusif, di mana pendidikan adaptif dan ruang publik yang aksesibel menjadi kanvas sosial tempat seluruh warna dapat hadir tanpa saling meniadakan.
“Pameran ini mengajak kita bergerak dari kesadaran (awareness) menuju penerimaan (acceptance), dari simpati menuju partisipasi aktif,” lanjut Christian. Ia berharap acara ini tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi benih gerakan yang tumbuh di sekolah, keluarga, tempat kerja, dan masyarakat luas.
Kolaborasi Ruang Publik dan Empati
Keunikan pameran ini terletak pada lokasinya yang digelar di ruang publik populer, Klarisan Coffee & Eatery. Melly Pangestu, Owner Klarisan, menyatakan kebanggaannya menjadi kolaborator utama. Bagi Melly, keterlibatan bisnis kuliner dalam acara kemanusiaan adalah bentuk tanggung jawab sosial perusahaan.
“Bagi kami di Klarisan, kopi bukan hanya soal rasa, tapi soal cerita dan koneksi antarmanusia. Ketika kami mendengar tentang pameran ‘Biru’, kami merasa ini adalah ruang yang tepat untuk menyatukan pecinta kopi, seniman, dan masyarakat umum dalam satu meja yang sama,” ujar Melly.
Melly menekankan bahwa filosofi Klarisan sejalan dengan semangat pameran ini: merayakan perbedaan. “Di kedai kami, kami melayani siapa saja tanpa membedakan latar belakang. Kami ingin menunjukkan bahwa ruang publik, termasuk kafe, harus menjadi tempat yang aman dan ramah bagi semua orang, termasuk teman-teman dengan autisme dan keluarga mereka.”
Dalam rangkaian acara, Klarisan menyediakan ruang diskusi santai, menyajikan menu spesial bertema “Biru”, serta memfasilitasi pertemuan langsung antara pengunjung dengan para seniman dan relawan Roemah Difabel. “Kami berharap, lewat aroma kopi dan keindahan karya seni, pengunjung bisa lebih terbuka hatinya. Bahwa menerima perbedaan itu mudah jika kita mau duduk bersama, mengobrol, dan saling mendengarkan,” tambah Melly.
Jadwal dan Akses Publik
Acara pembukaan pada Jumat (10/4/2026) pukul 14.00 WIB akan dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat, komunitas difabel, dan pemerhati seni. Setelah pembukaan, pameran akan terbuka untuk umum setiap hari dari pukul 10.00 hingga 17.00 WIB hingga tanggal 20 April 2026.
Noviana menutup pernyataannya dengan ajakan mendesak: “Mari jadikan momen ini sebagai komitmen untuk melihat lebih dalam, mendengar lebih sungguh, dan menerima dengan lebih utuh. Dunia yang ramah autisme adalah dunia yang ramah bagi semua.”
Pameran “Biru: Seni Rupa, Inklusi, dan Harmoni dalam Perbedaan” diharapkan menjadi destinasi edukasi serta inspirasi bagi masyarakat Semarang dan Jawa Tengah, membuktikan bahwa di antara cara berpikir yang berbeda, manusia tetap menemukan kemanusiaan yang sama. ( Christian Saputro)




