SEMARANG — Suara mesin cukur berpadu tepuk tangan dan alunan musik memenuhi atrium The Park Mall Semarang, Sabtu (14/2/2026). Di tengah kemeriahan pentas seni, seminar kesehatan, dan bazaar UMKM, satu pesan menguat: anak-anak pejuang kanker tidak boleh merasa sendirian.
Ketua Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Cabang Semarang, Vita Mahaswari, menegaskan bahwa Berani Gundul bukan sekadar agenda tahunan, melainkan gerakan moral yang konsisten dijaga hampir satu dekade terakhir.
“Berani Gundul adalah simbol empati. Ketika kita berani mencukur rambut, kita sedang menyampaikan pesan kuat kepada anak-anak pejuang kanker bahwa mereka tidak sendiri. Kami ingin mereka merasa ditemani, dikuatkan, dan dicintai,” ujarnya di hadapan peserta yang memadati lokasi acara.
Program yang digelar dalam rangka Hari Kanker Anak Internasional itu kembali menghadirkan aksi #BeraniGundul dan #CukurBersama, diikuti puluhan peserta dari berbagai kalangan.
Vita menjelaskan, YKAKI Semarang kini memasuki tahun ke-10 pelayanan dengan total 537 anak yang telah didampingi hingga Januari 2026. Rumah singgah YKAKI di Jalan Kedung Jati menjadi tempat tinggal sementara bagi anak-anak pasien kanker dari berbagai daerah yang menjalani pengobatan di RSUP Dr. Kariadi.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan masyarakat, tenaga medis, relawan, sponsor, hingga komunitas sangat berarti bagi keberlangsungan pendampingan ini,” tambahnya.
Kegiatan juga diramaikan seminar kesehatan dengan narasumber dr Bambang Sudarmanto, Sp.KK, dari RSUP Dr Kariadi. Ia menjelaskan bahwa kerontokan rambut akibat kemoterapi memang berdampak psikologis, namun bersifat sementara.
“Rambut bisa tumbuh kembali. Yang terpenting adalah menjaga kesehatan dan semangat anak-anak selama menjalani terapi,” katanya.
Sejumlah tokoh dan pelaku usaha turut ambil bagian dalam aksi cukur gundul. Harjanto Halim, CEO Marifood, menyebut keberanian menggunduli kepala sebagai bentuk empati sekaligus proses healing. Sementara peserta lain, termasuk warga negara asing yang hadir, ikut menunjukkan solidaritas melalui cukur bersama.
Bazaar yang digelar dalam rangkaian acara turut membantu penggalangan dana operasional rumah singgah. Bagi Vita Mahaswari, solidaritas seperti inilah yang menjadi energi terbesar bagi anak-anak penyintas kanker.
“Semangat anak-anak ini luar biasa. Tugas kita memastikan mereka tetap punya harapan dan kesempatan untuk sembuh serta meraih masa depan,” tutupnya.
Berani Gundul 2026 kembali menegaskan bahwa solidaritas tak selalu hadir dalam bentuk besar. Kadang cukup dengan kepala yang rela digunduli, harapan itu tumbuh bersama. (Christian Saputro)




