SEMARANG – Puluhan sahabat difabel dan relawan tampak antusias memadukan warna di atas permukaan topeng di Klarisan Coffee and Eatery, Semarang, Senin (13/4). Suasana hangat menyelimuti kegiatan workshop seni yang digagas Roemah D ini, yang bukan sekadar ajang kreativitas, melainkan langkah konkret membangun ruang inklusif bagi penyandang disabilitas.
Kegiatan yang dipandu secara enerjik oleh Christian Saputro ini menjadi rangkaian pembuka menuju pameran lukisan bersama bertajuk “Biru”, dalam rangka memperingati Hari Kesadaran Autisme Dunia 2026. Christian berhasil mencairkan suasana, membuat interaksi antara peserta, pemateri, dan relawan berlangsung hidup namun tetap fokus pada tujuan utama: ekspresi diri.
Sebagai pemateri utama, hadir seniman senior asal Semarang, Suptapto. Lulusan Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini tidak hanya mengajarkan teknik teknis mewarnai, gradasi, hingga pembentukan karakter visual. Lebih dari itu, Suptapto membawa filosofi seni yang merangkul, bahwa setiap goresan kuas adalah bahasa hati yang bebas berekspresi tanpa batasan.
“Topeng hanyalah salah satu medium. Dari sini, teman-teman bisa melangkah ke bentuk karya lain, seperti melukis di kanvas atau membuat karya tiga dimensi,” ujar Suptapto di hadapan peserta. Ia juga mengenalkan ragam dunia seni rupa, mulai dari lukisan, patung, hingga instalasi, untuk meyakinkan para sahabat difabel bahwa dunia seni terbuka lebar bagi siapa saja.
Jejak Seniman Pengabdi Masyarakat
Keterlibatan Suprapto dalam misi Roemah D bukanlah kebetulan. Rekam jejaknya sebagai pematung yang konsisten membawa seni keluar dari “menara gading” galeri menuju ruang publik menjadikannya figur yang tepat. Karya-karyanya tersebar di berbagai sudut Jawa Tengah, mulai dari patung di Kawasan Wisata Kopeng, Jamal Sari (Jatibarang Barat), instalasi di RM Sumeh (Mijen), hingga patung yang dibuatnya sejak masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di PT Masuk Diklat, Banyubiru.
Tak hanya mencipta, Suprapto dikenal sebagai pembina yang sabar. Ia pernah mendalami teknik keramik di Kampung Seni Lerep dan aktif membina pengrajin di sentra gerabah Mayong. Baginya, esensi seni terletak pada proses berbagi dan memberdayakan, bukan sekadar kesempurnaan hasil akhir.
“Saya melihat potensi besar pada teman-teman difabel. Mereka punya cara pandang unik terhadap dunia,” kata Suprapto. Ia bahkan berjanji akan kembali pada sesi berikutnya untuk mengajarkan pembuatan patung menggunakan bahan sederhana seperti tanah liat dan kertas.
Seni sebagai Terapi dan Pemberdayaan
Founder Roemah D menegaskan bahwa kegiatan ini lebih dari sekadar pelatihan keterampilan. Ini adalah upaya membangun jembatan apresiasi dan kesetaraan. “Kami ingin menghadirkan ruang di mana teman-teman difabel merasa dihargai, didengar, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya,” ujarnya.
Workshop ini membuktikan bahwa seni dapat menjadi alat terapi dan pemberdayaan yang ampuh. Warna-warna cerah yang muncul di atas topeng mencerminkan tumbuhnya rasa percaya diri dan keberanian peserta untuk berekspresi.
Kegiatan ini menjadi jalan pembuka menuju pameran “Biru” yang akan digelar dalam waktu dekat. Pameran tersebut diharapkan menjadi panggung bagi karya-karya sahabat difabel untuk “berbicara” menyampaikan pesan tentang harapan, keberanian, dan harmoni dalam perbedaan.
Melalui kolaborasi antara panduan seru Christian Saputro, materi mendalam dari Suprapto, dan semangat para peserta, Roemah D terus menegaskan bahwa inklusi bukan sekadar wacana, melainkan praktik nyata yang harus dihidupi setiap hari. Di Semarang, seni kembali menjadi bukti bahwa keberagaman adalah kekuatan sesungguhnya. (Christian Saputro




