SEMARANG — Suasana haru dan penuh keakraban menyelimuti reuni ke-12 alumni sekolah Hwa Chung, Chung Kung, dan Kuo Chung yang digelar di 168 Restaurant di Kota Semarang, Minggu (12/4/2026). Sekitar 150 alumni hadir, melampaui target awal panitia yang hanya memperkirakan kehadiran sekitar 70 peserta.
Acara yang berlangsung dari pukul 11.00 hingga 15.00 WIB ini mengalir santai namun penuh makna. Tanpa banyak seremoni formal, reuni diisi dengan hiburan spontan, terutama nyanyian lagu-lagu nostalgia yang menghidupkan kembali kenangan masa sekolah.
“Kami nyanyi lagu-lagu nostalgia secara spontan saja. Intinya temu kangen satu sama lain,” ujar salah satu panitia, Prof. Satyanegara.
Tawa lepas dan percakapan hangat menjadi penanda bahwa waktu puluhan tahun tak sepenuhnya menghapus ikatan di antara mereka. Meski beberapa nama sempat terlupa, wajah-wajah lama tetap mudah dikenali.
“Kalau wajah biasanya langsung ingat. Tapi kalau nama teman, setelah 60–70 tahun meninggalkan bangku sekolah, memang agak lupa,” tambahnya.
Reuni ini merupakan bagian dari tradisi tahunan yang telah berlangsung sejak pertemuan pertama di Semarang, dengan jeda hanya saat pandemi Covid-19. Konsistensi penyelenggaraan tak lepas dari peran para alumni yang secara sukarela mengonsolidasikan rekan-rekan mereka dari berbagai daerah di Indonesia.
“Ternyata antusiasme sangat tinggi. Pada hari H, jumlah yang hadir mencapai 150 orang,” jelas Prof. Satyanegara.
Lebih dari sekadar ajang temu kangen, reuni ini juga menjadi ruang untuk merajut kembali ingatan kolektif. Kisah-kisah lama kembali dihidupkan—tentang persahabatan, masa muda, hingga perjalanan hidup yang telah ditempuh masing-masing alumni.
Sebagian peserta, khususnya yang datang dari luar kota, memanfaatkan momentum perayaan Ceng Beng 2026 untuk berziarah ke pemakaman leluhur, termasuk kawasan pemakaman Tionghoa di Kedungmundu, yang menjadi bagian penting dari jejak sejarah komunitas Tionghoa di Semarang.
“Reuni tahun ini terasa istimewa karena banyak alumni yang sekaligus mengingat dan menjalankan tradisi Ceng Beng,” ujarnya.
Dengan rata-rata usia di atas 70 tahun, para alumni tetap menunjukkan semangat kebersamaan yang kuat. Tak ada sekat antara senior dan junior—semua larut dalam suasana kekeluargaan.
“Yang satu kelas dengan saya tinggal dua orang. Selebihnya banyak junior, tapi semuanya masih aktif dan penuh semangat. Harapannya, tahun depan kita bisa bertemu lagi dalam kondisi yang sama baiknya,” pungkas Prof. Satyanegara.
Reuni ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan perayaan atas waktu, persahabatan, dan kenangan yang tak lekang oleh usia. Sebuah pengingat bahwa sejauh apa pun langkah melangkah, selalu ada tempat untuk kembali—pada cerita lama yang terus hidup dalam ingatan. (Christian Saputro)




