Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis Sumatera Post
Selepas senja, ketika cahaya matahari luruh di balik atap-atap tua Pecinan Semarang, lampion-lampion merah menyala serempak. Gang Gambiran berubah menjadi panggung panjang yang bernapas. Di sanalah tradisi Tuk Panjang digelar sebagai bagian dari Pasar Imlek Semawis—sebuah perayaan yang bukan hanya tentang Imlek, tetapi tentang perjumpaan.
Meja kayu membentang tanpa sekat. Di satu sisi, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, duduk berdampingan dengan tokoh masyarakat, pelaku usaha, dan warga. Di sisi lain, anak-anak berlarian kecil di sela kursi, tertawa di bawah cahaya lampion. Malam itu, semua jarak sosial seakan luruh bersama uap makanan yang mengepul.
Di atas meja, kue moho tersaji—putih, padat, dan penuh makna. Ia melambangkan rezeki yang merekah sekaligus pengingat agar manusia menjadi pribadi yang “berisi” dan teguh pendirian. Salad mentimun Pai Huang Gua menghadirkan kesegaran, simbol kejernihan pikiran dan keseimbangan hidup.
Aroma jintan dan cabai dari kebab kambing khas Xinjiang menguar hangat. Daging yang ditusuk rapat menjadi metafora persatuan keluarga, sementara bara api di bawahnya menyiratkan semangat membara. Claypot sapi, dengan kuah kental yang dimasak perlahan, mengajarkan kesabaran dan ketahanan. Paha kambing bakar yang besar dan garing di luar namun lembut di dalam berbicara tentang kemakmuran yang harus dinikmati bersama.
Di antara suapan itu, musik mulai
mengalun.
Alunan Lamkwan dari panggung kecil memecah keheningan malam. Nada-nadanya melengkung lembut, seakan mengajak waktu berjalan lebih pelan. Tari Lenggang Nusantara hadir dengan gerak yang luwes, menyatukan warna-warna kain dalam putaran yang anggun. Lalu teater rakyat tampil dengan kisah-kisah kampung yang akrab, membuat penonton tersenyum sekaligus merenung.
Tak lama, riuh tepuk tangan membuncah ketika opera jalanan menghadirkan sosok Sun Wukong yang lincah, berdampingan dengan Hanoman sang kera putih dari epos Ramayana. Dua figur dari dua khazanah budaya berbeda itu berdiri di satu panggung yang sama—melompat, bercanda, dan beradu gerak dalam semangat persahabatan.
Pertunjukan di jalananan itu bukan sekadar hiburan. Ia seperti metafora hidup Semarang sendiri—tempat kisah Tiongkok dan Jawa saling bersua tanpa saling meniadakan. Di bawah lampion, Sun Go Kong dan Hanoman tampak bukan sebagai simbol perbedaan, melainkan sebagai jembatan imajinasi yang menyatukan.
Ketua Kopi Semawis, Harjanto Halim, memandangi suasana itu dengan mata berbinar.
“Tuk Panjang ini bukan hanya makan bersama,” ujarnya. “Ini pernyataan bahwa harmoni itu bisa dirayakan. Musiknya, tariannya, sampai opera jalanan—semua menjadi bahasa kebersamaan.”
Wali Kota Agustina pun menegaskan bahwa perayaan seperti ini adalah energi sosial yang penting bagi kota. “Di ruang seperti ini, kita belajar bahwa toleransi bukan teori. Ia hidup dalam praktik, dalam kebersamaan yang nyata,” katanya.
Malam terus berjalan. Musik tak berhenti. Tarian berganti, tawa berulang. Di sela denting nada dan aroma rempah, warga menikmati ginger peppermint hangat—perpaduan panas jahe dan sejuk peppermint yang melambangkan keseimbangan antara ketegasan dan ketenangan.
Di Gang Gambiran, selepas senja itu, harmoni bukan lagi konsep. Ia menjelma dalam cahaya lampion, dalam gerak tari, dalam lakon opera jalanan, dan dalam suapan makanan yang dibagi bersama.
Di meja panjang itu, orang-orang tak hanya merayakan tahun baru. Mereka sedang merayakan kemungkinan: bahwa perbedaan bisa duduk berdampingan, tertawa bersama, dan pulang dengan hati yang lebih lapang. (*)




