SEMARANG — Tradisi ziarah Cengbeng kembali dimaknai secara lebih luas oleh Perkoempoelan Semarang 1876 bersama Perkoempoelan Boen Hian Tong melalui program “Teng Beng Gus Dur 2026”. Kegiatan ini akan digelar pada 18–19 April 2026 dengan tujuan utama ziarah ke makam Abdurrahman Wahid di Jombang, Jawa Timur.
Perjalanan ini tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi juga dimaknai sebagai perjalanan spiritual dan reflektif untuk meneladani nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan keberpihakan pada kelompok minoritas yang selama ini diwariskan oleh sosok yang akrab disapa Gus Dur tersebut.
Peserta akan diberangkatkan dari titik kumpul di Gedung Boen Hian Tong, Jalan Gang Pinggir No. 31, Semarang. Selama dua hari perjalanan, panitia telah menyiapkan berbagai fasilitas penunjang, mulai dari transportasi, akomodasi, hingga konsumsi. Selain itu, peserta juga akan mendapatkan kaos kegiatan, goodie bag, serta kesempatan mengikuti wisata sejarah di sekitar lokasi ziarah.
Ketua panitia menyampaikan bahwa program ini terbuka untuk umum dengan biaya perjalanan sebesar Rp1.350.000 per peserta. Namun, sejumlah potongan harga disediakan untuk mendorong partisipasi lebih luas. Mahasiswa dapat memperoleh harga khusus dengan menunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Sementara itu, peserta yang pernah mengikuti kegiatan serupa pada tahun sebelumnya berhak mendapatkan diskon sebesar 10 persen.
Tak hanya itu, panitia juga membuka peluang potongan harga bagi organisasi atau kelompok yang mendaftar secara kolektif. Skema ini diharapkan mampu menarik partisipasi komunitas yang ingin mengikuti perjalanan bersama dalam semangat kebersamaan dan nilai lintas budaya.
“Kegiatan ini bukan hanya ziarah, tetapi juga ruang belajar nilai. Gus Dur adalah simbol keberagaman yang hidup. Melalui perjalanan ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk merawat semangat itu,” ujar panitia.
Pendaftaran dan informasi lebih lanjut dapat diakses melalui kontak panitia di nomor 0851-2278-7877 (Ulin) atau 0819-0166-5738 (Ling Ling). Informasi juga tersedia melalui layanan pesan singkat WhatsApp.
Melalui kegiatan ini, tradisi Cengbeng yang lekat dengan penghormatan kepada leluhur diharapkan semakin relevan dalam konteks kekinian—menjadi jembatan antarbudaya sekaligus pengingat akan pentingnya nilai kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa. (Christian Saputro)
Related Posts
Add A Comment




